Tahun 2026 ini, Kota Jakarta menginjak usia 499 tahun. Menjelang lima abad usianya, Jakarta masih menyimpan sejumlah problem laten perkotaan. Ragam permasalahan Kota Jakarta ini dipetakan Litbang Kompas dari unggahan konten dan komentar warganet di media sosial melalui perangkat pantau media Kompas Monitoring.
Pemetaan terkait keluhan dan kritik publik terhadap Kota Jakarta ini dilakukan melalui analisis konten media sosial yang dikumpulkan dari platform Tiktok, X, Facebook, Threads, Youtube, dan Instagram. Menggunakan kata kunci beragam spektrum persoalan yang ada di Jakarta, di antaranya kemacetan, banjir, pengelolaan sampah, dan sederet persoalan lainnya.
Hasilnya, terkumpul 98.946 konten dan komentar dari warganet selama periode pemantauan 1 Mei-24 Juni 2026, dua bulan bertepatan dengan momentum peringatan ulang tahun Jakarta. Data kemudian dianalisis menggunakan kategorisasi tematik dan sentimen yang muncul (positif, netral, dan negatif).
Berdasarkan volume konten dan komentar di media sosial, terdapat 11 isu kesehariaan Jakarta yang banyak mendapat komentar warganet, mulai dari kemacetan, sampah, banjir, beragam acara yang menarik massa, polusi udara, ketimpangan sosial, parkir liar, transportasi umum, keamanan, kebakaran, serta kelayakan trotoar.
Keluhan terbanyak warganet terhadap masalah Jakarta ialah problem kemacetan lalu lintas. Topik kemacetan mendominasi di hampir semua platform, terutama X yang menjadi platform utama diskusi kemacetan Jakarta, diikuti Tiktok dan Threads. Komentar warganet terhadap konten kemacetan Jakarta ini memunculkan sentimen negatif (95 persen) dari 16.946 konten yang bersinggungan dengan isu keruwetan lalu lintas.
Melihat isu yang banyak diperbincangkan, munculnya sentimen yang cenderung dominan negatif ini berisi keluhan keseharian warganet yang mengalami kemacetan rutin di sejumlah koridor utama jalan, kemacetan akibat banjir, adanya proyek infrastruktur yang menghambat arus, penyempitan jalan karena parkir liar, serta kemacetan karena aktivitas pasar, PKL, galian di tepi jalan, kecelakaan kendaraan ataupun akibat kendaraan mogok.
Salah satu sorotan titik kemacetan ialah ruas Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Cakung, dan TB Simatupang. Selain itu, keluhan warganet juga tertuju pada kemacetan saat jam sibuk (peak hours) yang dianggap tidak pernah teratasi. Sorotan lain ialah efek berantai banjir yang memperparah kemacetan di ruas tertentu, seperti area Kembangan dan Cengkareng.
Dua kasus spesifik yang terjadi saat periode pemantauan juga tak luput dari sorotan warganet, yakni dampak demo mahasiswa terhadap kemacetan di kawasan Sudirman dan infrastruktur jalan yang amblas yang menyebabkan kemacetan di ruas Jalan Lenteng Agung.
Keluhan terbanyak kedua terhadap masalah populer Jakarta menyorot pada masalah sampah. Soal sampah, dari unggahan dan komentar yang muncul, fenomena ”pulau sampah” di pesisir laut Jakarta dan kondisi TPA Bantargebang yang ”sudah seperti gunung” menjadi narasi negatif yang viral di berbagai platform, terutama Tiktok dan X. Tak heran jika isu sampah lebih banyak memunculkan sentimen negatif (91 persen) dibandingkan positif (9 persen).
Senada dengan masalah sampah, keluhan soal banjir juga masih menjadi isu krusial Jakarta yang memunculkan lebih banyak sentimen negatif (91 persen). Dua sorotan yang diangkat warganet tertuju pada makin seringnya banjir yang melanda permukiman di Jakarta dan fenomena banjir rob. Meski demikian, isu banjir di media sosial tidak hanya berisi laporan situasi, tetapi juga mengandung perdebatan tentang kebijakan infrastruktur dan pertanyaan tentang efektivitas program penanganan banjir yang sudah berjalan.
Wilayah yang paling sering disebut terdampak banjir dalam periode pemantauan adalah kawasan Kembangan dan Cengkareng (Jakarta Barat), Muara Baru (Jakarta Utara) untuk banjir rob, serta beberapa titik di Jakarta Selatan. Narasi ”Jakarta banjir musim kering” dan ”Ahok prediksi Jakarta banjir sampai Monas” turut mewarnai diskusi dengan nada skeptis terhadap solusi yang ada.
Tak hanya kemacetan, sampah, dan banjir yang menjadi keluhan warganet. Polusi udara, parkir liar, keamanan, kebakaran di permukiman padat penduduk, dan kelayakan trotoar turut menjadi keluhan warganet di media sosial.
Polusi udara merupakan salah satu persoalan yang mengkhawatirkan dengan tingkat sentimen negatif 91 persen. Yang menarik, Threads menjadi platform utama diskusi warganet tentang polusi udara. Karakter platform Threads ialah unggahan konten berbasis wawasan untuk memungkinkan penggunanya dapat memberikan penjelasan yang komprehensif. Tak jarang unggahan disertai foto, video, atau grafik untuk memperkuat argumen. Dengan karakter platform ini, diskusi seputar topik polusi udara ini diindikasikan lebih banyak dilakukan oleh pengguna yang lebih literal dan analitis.
Narasi di media sosial mengaitkan polusi udara Jakarta dengan tiga sumber utama: pembakaran sampah sembarangan (termasuk dugaan terhadap fasilitas RDF Rorotan), emisi kendaraan bermotor yang diperparah oleh kemacetan, dan operasi PLTU di sekitar Jakarta. Keluhan terhadap kualitas udara pada malam hari di Jakarta Utara muncul berulang kali dengan warga melaporkan adanya peningkatan indeks PM 2,5 secara tiba-tiba.
Keluh kesah warganet juga membahas persoalan parkir liar. Keluhan ini berkaitan erat dengan kemacetan, penggunaan fasilitas publik, dan pungutan liar perparkiran di Jakarta. Sorotan utama topik yang memunculkan 75 persen sentimen negatif ini ialah parkir liar di fasilitas umum dan ”mafia parkir” yang menahan setoran ke kas daerah selama tiga tahun.
Senada dengan parkir liar, keluhan tentang kriminalitas menghasilkan sentimen negatif 96 persen. Isu yang paling sering disebut meliputi begal, pencurian kendaraan bermotor (curanmor), dan copet. Narasi komparatif ”Jakarta vs Surabaya” terbaca muncul berulang kali, di mana Jakarta digambarkan sebagai kota yang kurang aman dibandingkan kota-kota besar lain di Indonesia.
Hal lain yang juga banyak menyita atensi warganet ialah persoalan ekonomi dan ketimpangan sosial. Dua hal yang menjadi keluhan warganet ialah melambungnya biaya hidup di Jakarta dan kekhawatiran PHK pekerja akibat dampak melemahnya ekonomi bagi dunia usaha. Kekhawatiran ini juga tertangkap dari data satudata.kemnaker.go.id. Sepanjang Januari-Mei 2026 terdapat 1.746 pekerja di Jakarta yang mengalami PHK.
Temuan keluhan warganet mengungkapkan ragam masalah keseharian warganet saat menjalani kehidupan di wilayah megapolitan Jakarta. Jika mencermati keluhan-keluhan yang muncul, masalah ini merupakan problem struktural di Kota Jakarta. Keluhan tentang masalah kemacetan atau polusi udara juga terekam dari jajak pendapat Litbang Kompas pada Juni 2005. Dalam hal polusi udara, misalnya, sebagian besar responden (68,4 persen) menilai semakin memburuknya kondisi kualitas udara di Jakarta. Demikian pula dengan manajemen transportasi dan kemacetan, lebih dari separuh responden (52,8 persen) memandang kondisi transportasi di Jakarta semakin memburuk (Kompas, 18/6/2005).
Keluhan publik yang masih relatif sama dengan dua dekade lalu menjadi indikasi masalah laten yang terjadi di ibu kota Jakarta. Munculnya kembali keluh kesah warganet tentang problem struktural ini menjadi tantangan bagi pembangunan kota yang lebih terencana dan berkesinambungan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah membuat perencanaan jangka panjang dan kesinambungan kebijakan.
Penanganan masalah struktural ini harus menjadi perhatian mendalam bagi Pemerintah Provinsi Jakarta mengingat dalam perkembangannya, masalah-masalah keseharian ini membutuhkan penanganan secara lebih serius. Salah satu indikasi yang dapat dijadikan tolok ukur ialah problem Kota Jakarta yang mendapat sentimen negatif tertinggi. Tingginya sentimen negatif menandakan adanya potensi krisis dan masalah besar yang sedang disorot publik. Pada kluster ini terdapat tiga keluhan warganet yang masuk pada isu kritis saat ini, yakni kebakaran di permukiman padat penduduk, kriminalitas, dan kemacetan lalu lintas.
Problem struktural kota ini boleh jadi belum terjawab oleh program-program unggulan Pemprov Jakarta. Sejauh ini, Pemprov Jakarta telah mewujudkan sejumlah program pembangunan, seperti penataan Jalan HR Rasuna Said, integrasi kawasan JIS-Ancol, menggratiskan tarif transportasi bagi 15 golongan masyarakat, dan membuat program pemilahan sampah.
Dalam hal isu sampah, meski lebih banyak dikeluhkan warganet, ternyata tetap mampu mendongkrak sentimen positif (9 persen). Adanya narasi positif seputar program pilah sampah, gerakan daur ulang, dan inisiatif komunitas menopang munculnya komentar positif dari warganet. Demikian pula dengan program Gubernur Pramono Anung yang mendeklarasikan Gerakan Pilah Sampah pada HUT Ke-499 Jakarta mendapat respons positif di media sosial.
Komentar positif lain dari warganet ialah hadirnya berbagai acara, event, festival, dan hiburan di Jakarta, seperti Java Jazz Festival dan Jakarta Fair. Penyelenggaran sejumlah event atau konser menjadi hiburan warga di tengah berbagai kepadatan rutinitas. Salah satu agenda acara besar juga akan dilaksanakan di Jakarta, yakni konser kelompok musik rock dunia Guns n’ Roses pada November 2026.
Apresiasi warganet ini menjadi modal positif bagi Pemprov Jakarta serta Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno dalam merespons keluhan warganet. Secara tidak langsung, berbagai persoalan yang diungkapkan warganet merupakan bentuk atensi publik bagi kemajuan pembangunan Kota Jakarta. Suara warganet ini juga menyimpan harapan adanya suasana nyaman dan aman di wilayah Ibu kota.
Dalam perspektif kebijakan publik, respons pemerintah menjadi bagian penting dari kepercayaan masyarakat (public trust). Masyarakat akan menilai sejauh mana respons dan kebijakan yang diambil pemerintah dalam menanggapi keluhan dan harapan mereka.
Lini masa survei Litbang Kompas menunjukkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah berbanding lurus dengan citra positif para pemimpin. Semakin tinggi apresiasi warga atas kebijakan yang berjalan, semakin kuat pula citra baik pemimpin di mata publik.
Saat ini citra Gubernur Pramono Anung masih terjaga di benak warganet. Dalam dua bulan terakhir (1 Mei-24 Juni 2026), terdapat 20.292 unggahan dan komentar warganet terhadap Gubernur Pramono Anung. Secara umum, Gubernur Pramono Anung masih lebih banyak mendapat sentimen netral atau konten berkarakter informatif (68 persen) dan positif (17 persen). Di masa mendatang, respons gubernur menanggapi keluhan warga ini akan menentukan sejauh mana sentimen publik akan mengarah. (LITBANG KOMPAS)





