Perubahan iklim mengancam masa depan kopi dunia. Ketika arabika dan robusta semakin rentan terhadap panas dan kekeringan, para ilmuwan mulai melirik excelsa sebagai kopi yang lebih tangguh dengan cita rasa yang mendekati arabika.
Secangkir kopi yang setiap pagi menemani jutaan orang di dunia sedang menghadapi ancaman terbesar dalam sejarahnya. Di laboratorium, hutan tropis, hingga kebun-kebun pegunungan, para ilmuwan kini berpacu dengan waktu mencari cara menyelamatkan tanaman kopi dari perubahan iklim.
Perlahan tetapi pasti, kenaikan suhu bumi membuat tanaman kopi semakin sulit bertahan. Jika pemanasan global terus berlanjut, kopi bukan hanya akan menjadi lebih mahal, tetapi juga semakin langka.
Setiap tahun dunia mengonsumsi sekitar 10 juta ton biji kopi. Hampir seluruhnya berasal dari dua spesies utama, yakni arabika (Coffea arabica) yang dikenal bercita rasa halus dan robusta (Coffea canephora) yang lebih kuat, pahit, serta berkafein tinggi. Ironisnya, keduanya sama-sama rentan terhadap perubahan iklim.
Arabika tumbuh optimal pada suhu 18–22 derajat Celsius. Kenaikan suhu beberapa derajat saja sudah cukup menurunkan produktivitas, mempercepat pematangan buah, mengurangi kualitas rasa, sekaligus meningkatkan serangan penyakit seperti karat daun (coffee leaf rust).
Sebaliknya, robusta memang lebih tahan panas, tetapi sangat bergantung pada curah hujan dan ketersediaan air. Kekeringan berkepanjangan dapat memangkas hasil panennya secara drastis.
Berbagai riset memperkirakan lebih dari separuh lahan yang saat ini cocok untuk budidaya arabika dapat kehilangan kesesuaiannya pada pertengahan abad ini apabila emisi gas rumah kaca tidak ditekan.
Ancaman tersebut bukan hanya menyasar secangkir kopi, tetapi juga kehidupan sekitar 125 juta orang yang menggantungkan penghidupan pada industri kopi.
"Kopi sangat terancam oleh perubahan iklim," ujar ahli genetika tanaman Kassahun Tesfaye dari Universitas Addis Ababa, Ethiopia, sebagaimana dikutip jurnal Nature, Selasa (29/6)/2026.
Serial Artikel
Sabuk Kopi Dunia Memanas, Harga Melonjak
Krisis iklim telah hadir dengan anjloknya produktivitas tanaman kopi, memicu kenaikan harga hingga 46 persen di tingkat global.
Bagi masyarakat Ethiopia, kopi bukan sekadar komoditas ekspor. Di negeri inilah arabika dipercaya pertama kali tumbuh secara alami. Hingga kini, ritual menyangrai, menggiling, dan menyeduh kopi tetap menjadi bagian penting kehidupan sosial masyarakat.
Kesadaran akan pentingnya warisan tersebut mendorong pemerintah Ethiopia membangun kawasan konservasi kopi liar sekaligus mengoleksi lebih dari 12.000 tanaman arabika hidup di berbagai pusat penelitian.
Bagi para ilmuwan, koleksi itu adalah gudang keanekaragaman genetik. Arabika berasal dari persilangan alami dua spesies leluhurnya sekitar 50.000 tahun lalu.
Keragaman genetik tersebut diharapkan jadi modal untuk menghasilkan varietas lebih tahan terhadap suhu tinggi, kekeringan, maupun penyakit. "Saya percaya kita masih memiliki kumpulan gen yang cukup untuk melawan perubahan iklim," kata Tesfaye.
Namun, perbaikan arabika saja dinilai tidak cukup. Di banyak negara penghasil kopi, perubahan iklim memaksa petani menggeser kebun ke dataran yang lebih tinggi agar tanaman tetap memperoleh suhu yang sesuai.
Solusi ini tidak mudah karena lahan pegunungan semakin terbatas dan pembukaan kebun baru berisiko mengorbankan hutan yang justru menjadi penyerap karbon dan penyimpan keanekaragaman hayati.
Karena itu, para peneliti mulai melirik kerabat-kerabat liar dalam genus Coffea. Hingga kini dikenal sedikitnya 134 spesies kopi liar, sebagian besar tumbuh di Afrika dan Madagaskar. Banyak di antaranya memiliki sifat yang selama ini dicari, seperti tahan panas, tahan kekeringan, dan tahan penyakit.
Selama lebih dari dua dekade, ahli botani Aaron P. Davis dari Royal Botanic Gardens, Kew, menjelajahi Afrika dan Madagaskar untuk mendokumentasikan spesies-spesies tersebut. Bersama timnya, ia mendeskripsikan sekitar sepertiga spesies Coffea yang kini dikenal ilmu pengetahuan.
Menurut Davis, kerabat liar sering menjadi penyelamat tanaman budidaya. Gandum, padi, kentang, hingga tomat pernah memperoleh sifat tahan penyakit dari spesies liarnya. Hal yang sama kini diharapkan terjadi pada kopi.
Di antara berbagai spesies yang kini diteliti, perhatian para ilmuwan makin tertuju pada excelsa. Kerabat dekat liberika ini dinilai memiliki kombinasi sifat yang jarang dimiliki spesies kopi lain, yaitu lebih tahan terhadap suhu tinggi dan periode kering, tapi tetap mampu menghasilkan seduhan dengan karakter yang mendekati arabika.
Berbeda dengan liberika yang memiliki cita rasa sangat kuat dan khas, sering digambarkan beraroma nangka, mangga, atau buah tropis lainnya, excelsa menghasilkan profil rasa yang lebih bersih dan lembut sehingga lebih mudah diterima konsumen yang terbiasa menikmati arabika.
Menurut Davis, beberapa sampel excelsa bahkan memiliki karakter seduhan begitu dekat dengan arabika sehingga sulit dibedakan pencicip profesional. Jadi, excelsa memiliki karakteristik seperti liberika dalam hal daya tahan terhadap panas, tapi dari segi rasa lebih mendekati arabika.
Meski demikian, liberika tetap memiliki peran penting. Tanaman ini mampu tumbuh pada lahan marginal, termasuk gambut, dan relatif tahan terhadap suhu tinggi maupun sejumlah penyakit. Di Indonesia, liberika banyak dibudidayakan di Jambi, Riau, dan Kepulauan Meranti.
Kisah sukses yang saya lihat di banyak negara hampir selalu dimulai ketika petani berani mengganti spesies yang mereka tanam.
Sejumlah penelitian menunjukkan liberika dari lahan gambut memiliki profil sensoris berbeda dibandingkan tanaman di lahan mineral. Namun, perbedaan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh jenis tanah.
Karakter rasa merupakan hasil interaksi antara kondisi tumbuh, tingkat kematangan buah, proses fermentasi, dan teknik penyangraian. Dengan pengolahan yang baik, liberika dari lahan gambut justru mampu menghasilkan aroma buah tropis yang menjadi ciri khasnya.
Bagi Davis, masa depan kopi tidak lagi bergantung pada satu spesies. "Kisah sukses yang saya lihat di banyak negara hampir selalu dimulai ketika petani berani mengganti spesies yang mereka tanam," ujarnya.
Ancaman terhadap kopi sesungguhnya sangat dekat dengan Indonesia. Sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia, lebih dari 95 persen produksi nasional berasal dari sekitar dua juta petani kecil yang mengelola lahan kurang dari dua hektare.
Kopi menjadi penopang ekonomi berbagai daerah, mulai dari Gayo di Aceh, Mandailing di Sumatera Utara, Kerinci di Jambi, Priangan di Jawa Barat, Temanggung di Jawa Tengah, Ijen-Raung di Jawa Timur, Kintamani di Bali, Flores, Toraja, hingga Pegunungan Papua.
Namun hampir semua kawasan tersebut mulai merasakan dampak perubahan iklim. Pergeseran musim hujan membuat pembungaan tidak serempak, curah hujan ekstrem meningkatkan serangan jamur, sedangkan suhu lebih hangat memungkinkan hama penggerek buah kopi berkembang di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin.
Di Gayo, cuaca ekstrem dalam beberapa tahun terakhir bahkan menyebabkan kerusakan pada sebagian kebun produktif dan menurunkan hasil panen.
Berbagai penelitian di Indonesia juga menunjukkan produktivitas kopi makin berfluktuasi akibat perubahan pola iklim. Di sejumlah sentra arabika, petani mulai mengeluhkan penurunan mutu biji karena suhu malam yang semakin tinggi. Dalam beberapa dekade mendatang, sebagian kebun diperkirakan harus bergeser ke dataran yang lebih tinggi.
Indonesia sebenarnya juga memiliki plasma nutfah kopi yang berharga. Salah satunya adalah kopi excelsa, yang telah lama dibudidayakan di Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sejak awal abad ke-20 sebagai pengganti sebagian tanaman arabika yang rusak akibat serangan penyakit karat daun.
Dibandingkan arabika, excelsa lebih toleran terhadap suhu tinggi dan memiliki cita rasa yang relatif lembut, dengan aroma khas buah nangka sehingga di kalangan penikmat kopi kerap dijuluki "kopi nangka."
Sejarah perkebunan kopi di Wonosalam sendiri jauh lebih tua. Ketika menjelajahi Jawa pada 1861, naturalis Inggris Alfred Russel Wallace mencatat keberadaan perkebunan kopi di lereng Gunung Anjasmoro dalam bukunya The Malay Archipelago.
Saat itu ia singgah di kawasan tersebut untuk mengumpulkan berbagai spesimen satwa, termasuk burung merak dan ayam hutan. Catatan Wallace menunjukkan bahwa Wonosalam telah lama menjadi salah satu kawasan penting budidaya kopi di Jawa, jauh sebelum excelsa diperkenalkan pada awal abad ke-20.
Hingga kini, excelsa masih dibudidayakan di lereng Gunung Anjasmoro pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Namun sebagian kebun mulai beralih ke robusta yang dianggap lebih produktif.
Padahal, di tengah ancaman perubahan iklim, excelsa justru memiliki nilai strategis. Ketahanannya terhadap suhu lebih tinggi dan penyakit, dipadukan dengan karakter rasa yang mendekati arabika.
Hal ini menjadikannya salah satu kandidat penting untuk memperkuat ketahanan sektor kopi nasional sekaligus sumber plasma nutfah bagi pengembangan varietas kopi masa depan.
Tentu, solusi tidak cukup berhenti di laboratorium. Adaptasi juga harus dilakukan di tingkat kebun melalui sistem agroforestri, penggunaan varietas unggul yang lebih tahan iklim, konservasi tanah, irigasi hemat air, serta pemanfaatan teknologi prediksi cuaca.
Hal yang tak kalah penting adalah menjaga hutan tempat tumbuh spesies kopi liar. Tanpa konservasi, sumber daya genetik yang mungkin menjadi penyelamat kopi masa depan justru dapat hilang lebih dahulu.
Perjuangan menyelamatkan kopi akhirnya bukan sekadar memastikan secangkir minuman tetap tersedia di meja setiap pagi. Di balik setiap cangkir terdapat kehidupan jutaan petani, kekayaan hayati hutan tropis, dan kerja panjang para ilmuwan yang berusaha memastikan kopi tetap tumbuh di bumi yang semakin panas.
Di tengah krisis iklim, harapan itu mungkin tidak lagi hanya bertumpu pada arabika, melainkan juga pada spesies-spesies yang selama ini berada di pinggir perhatian, dan excelsa adalah salah satu kandidat terkuatnya.





