Bisnis.com, SURABAYA — Emiten produsen kemasan plastik fleksibel, PT Trias Sentosa Tbk. (TRST), menggenjot kinerja ekspor pada semester II/2026 seiring dengan meredanya tekanan harga minyak.
Komisaris Trias Sentosa, Sugeng Kurniawan, menegaskan korporasi merespons positif pergerakan harga minyak mentah dunia yang mulai melandai ke level US$70 per barel pada kuartal II/2026, yang secara otomatis ikut mereduksi tekanan harga bahan baku plastik di tingkat hulu.
"Menyiasati fluktuasi kurs rupiah yang cenderung melemah terhadap dolar AS, TRST berkomitmen memperluas bauran penjualan ke pasar internasional (export-oriented) guna memitigasi risiko sekaligus mengamankan devisa hasil ekspor," ungkapnya dikutip Kamis (2/7/2026).
Hingga saat ini, lanjut dia, kontribusi pasar ekspor berada di kisaran 40% terhadap total penjualan perseroan, dengan negara tujuan utama mencakup Jepang, Amerika Serikat, dan sejumlah kawasan di Asia non-Jepang. Manajemen membidik porsi kontribusi ekspor dapat kembali pulih ke level prapandemi yang sempat menyentuh rasio 45% hingga 55%.
Guna memacu target tersebut, dia mengatakan TRST tengah menjajaki pemulihan volume pengiriman ke Australia yang mulai menunjukkan sinyal perbaikan permintaan, serta mengeksplorasi potensi penetrasi baru ke pasar Eropa. Langkah ini diambil guna mensubstitusi pasar Turki yang saat ini melemah akibat depresiasi mata uang lokalnya.
"Meningkatkan porsi penjualan dalam mata uang asing menjadi prioritas untuk mengurangi kolam risiko (risk pool) perseroan. Hingga akhir tahun, kami optimistis kontribusi ekspor minimal di level 40% sudah cukup sehat untuk menopang profitabilitas," tuturnya.
Baca Juga
- Trias Sentosa (TRST) Siaga Hadapi Kenaikan Tarif Impor AS, Garap Ekspor ke Jepang
- Trias Sentosa (TRST) Bersiasat Hadapi Tantangan Pasar
- Strategi Trias Sentosa (TRST) Pulihkan Penjualan Tahun Ini
Menurutnya, tahun ini korporasi membidik pertumbuhan penjualan pada level high single, naik 24,25% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp497 miliar.
Memasuki tahun berjalan 2026, Sugeng mengonfirmasi operasional pabrik tidak mengalami gangguan rantai pasok (supply chain disruption) meskipun eskalasi geopolitik di Timur Tengah sempat memicu penutupan Selat Hormuz dan membatasi pasokan resin berbasis minyak mentah (crude oil).
Kondisi kelangkaan pasokan tersebut, kata dia, justru dioptimalkan perseroan untuk mengisi kekosongan pasar akibat terhambatnya produk impor. Efeknya, pada kuartal I/2026 perseroan membukukan lonjakan laba usaha hingga 526% YoY, diikuti kenaikan laba bruto 25% dan EBITDA 26%.
"Kami tidak mengalami gangguan supply. Penurunan pasokan barang impor di dalam negeri justru meningkatkan permintaan domestik terhadap produk kami. Strategi kontrak jangka panjang dengan porsi 60% hingga 70% juga membantu menstabilkan volume," jelasnya.
Tahun lalu, TRST sukses mengantongi pendapatan sebesar Rp3,74 triliun, tumbuh dari posisi 2024 senilai Rp3,42 triliun, meskipun perseroan sempat membukukan rugi bersih non-operasional sebesar Rp49 miliar akibat unrealized forex loss mata uang euro terhadap dolar AS
Sugeng meyakinkan, fundamental operasional emiten manufaktur ini dinilai tetap resilien. Pertumbuhan kinerja sepanjang tahun lalu didorong oleh penetrasi pasar domestik yang tumbuh di level single digit serta lonjakan pasar ekspor yang melesat double digit.
“Penurunan harga bahan baku resin global pada tahun lalu turut mengatrol laba kotor perseroan menjadi Rp427 miliar, hingga akhir tahun buku 2026 kinerja ditopang pemulihan volume ekspor di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah,” ujarnya.(K24)





