Adopsi AI di Media, Membeli Produk Jadi atau Membangun Sistem Sendiri?

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Pemanfaatan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan di media massa menjadi kian lazim. Banyak media di dunia telah mengintegrasikan AI dalam proses kerja di ruang redaksi. Di tengah kondisi itu, satu pertanyaan mengemuka: apakah media harus membeli produk jadi dari perusahaan AI atau membangun sistem sendiri?

Pertanyaan itu menjadi salah satu bahasan dalam program “SputnikPro AI in Media” yang diselenggarakan Rossiya Segodnya dan Rossotrudnichestvo di Moskow, Rusia, pada 21-27 Juni 2026. Program ini diikuti sejumlah jurnalis dari beberapa negara, termasuk Kompas yang mewakili Indonesia.    

Rossiya Segodnya merupakan grup media asal Rusia yang menaungi sejumlah media, termasuk kantor berita Sputnik. Adapun Rossotrudnichestvo merupakan lembaga pemerintah Rusia yang menangani hubungan kebudayaan, pendidikan, dan kerja sama kemanusiaan dengan negara lain.

Direktur Proyek Khusus Rossiya Segodnya, Mikhail Konrad, mengatakan, teknologi AI telah berkembang pesat dan merambah ke beragam bidang, seperti kesehatan, sains, infrastruktur, militer, dan sebagainya. Pemanfaatan AI di media massa pun hanya merupakan salah satu bagian dari lanskap yang sangat luas itu.

“Kita sebagai pekerja profesional di industri media sebenarnya hanya tertarik dengan bagian kecil (dari cakupan AI yang sangat luas),” katanya dalam salah satu sesi program “SputnikPro AI in Media”, Senin (22/6/2026).   

Mikhail menambahkan, dalam proses adopsi AI di sebuah perusahaan, termasuk perusahaan media, selalu ada pertanyaan terkait dua pilihan. Pilihan pertama adalah membeli produk jadi yang sudah disediakan oleh perusahaan AI.

Contoh dari praktik tersebut adalah saat perusahaan media berlangganan platform AI seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan lainnya agar para jurnalis bisa memanfaatkan platform itu untuk mempermudah kerja mereka.

Baca JugaAI di Ruang Redaksi, Perdebatan yang Luruh dan Tantangan Menjaga Mutu

Adapun pilihan kedua adalah membangun sistem atau solusi AI sendiri. Pilihan kedua ini menyediakan lebih banyak kemungkinan. Salah satunya, perusahaan media bisa membangun sistem atau mengembangkan alat dengan mengintegrasikan model AI yang dikembangkan oleh perusahaan AI.

Integrasi itu bisa dilakukan melalui application programming interface (API) atau antarmuka pemrograman aplikasi. Jika mengambil pilihan ini, perusahaan media tentu harus membayar biaya penggunaan model AI, baik dengan skema langganan maupun dengan model pay as you go (membayar sesuai pemakaian).   

Model terbuka

Di sisi lain, jika mengambil pilihan kedua, perusahaan media dapat melakukan on-premise deployment, yakni menjalankan model AI yang bersifat open weight di server atau peladen milik perusahaan media tersebut. Model AI open weight adalah model akal imitasi yang bobot atau parameter hasil pelatihannya dibuka dan dapat diunduh.

Dengan memanfaatkan model open weight, perusahaan media tidak perlu membayar biaya langganan model AI. Namun, perusahaan itu harus menyediakan server yang memadai untuk menjalankan model AI dengan kemampuan mumpuni.

Baca JugaBanjir Disinformasi di Era AI, Akankah Jurnalisme Bertahan?

Jika memanfaatkan model open weight, perusahaan media juga bisa melakukan fine-tuning, yakni melatih kembali model AI yang sudah jadi dengan data tambahan agar lebih sesuai dengan kebutuhan tertentu. Namun, proses fine-tuning itu membutuhkan sumber daya manusia dengan keahlian khusus.

Sebagai ilustrasi, mari ambil contoh saat sebuah perusahaan media mengembangkan chatbot. Aplikasi chatbot itu bisa diintegrasikan via API dengan model dari perusahaan AI, misalnya GPT-5.5 dari OpenAI atau Gemini 3.5 Flash dari Google.

Namun, chatbot itu bisa saja diintegrasikan dengan model AI open weight, misalnya Gemma dari Google atau Llama dari Meta, yang dijalankan di server milik perusahaan media itu. Bahkan, perusahaan media juga dapat melakukan fine-tunning agar model AI open weight itu bisa menjawab pertanyaan sesuai gaya bahasa media tersebut.

“Selalu ada pertanyaan bagi siapapun yang mengelola proyek AI. Apakah kamu menggunakan layanan yang sudah ada, misalnya berlangganan ChatGPT, dan menggunakan produk seperti apa adanya? Atau kamu mencoba bereksperimen dengan model open weight?” kata Mikhail.

Baca JugaIndonesia Perlu Aturan Main AI yang Lebih Jelas

Menurut Mikhail, model AI open weight biasanya memang memiliki kemampuan yang lebih rendah dibanding model AI yang bersifat proprietary atau tertutup. Namun, untuk tugas-tugas yang tak terlalu kompleks, beberapa model open weight sebenarnya sudah cukup memadai.  

Selain itu, dengan memanfaatkan model AI open weight yang dijalankan di server milik sendiri, perusahaan media bisa memastikan keamanan data dan dokumen yang bersifat sensitif. “Kamu memiliki kontrol terhadap data dan keamanan. Kamu tidak mau mengirim dokumen sensitif ke large language model yang berjalan di server luar di suatu tempat,” ungkap Mikhail.  

Tak menggantikan manusia

Upaya mengembangkan solusi AI sendiri pun dijalankan tim Rossiya Segodnya. Salah satu alat yang mereka kembangkan adalah video bot untuk mempercepat proses pengeditan video pendek. Bot yang bisa diakses melalui aplikasi Telegram itu bisa digunakan untuk menerjemahkan teks di video serta menambahkan subtitle atau takarir, voice over atau sulih suara, dan logo.

Pengguna bisa mengirimkan video berbahasa Rusia ke bot tersebut, misalnya, lalu meminta agar ucapan narasumber di video itu ditranskripsi menjadi teks. Teks hasil transkripsi itu bisa diterjemahkan ke berbagai bahasa, seperti Inggris, Perancis, Spanyol, Jerman, Portugis, Arab, Hindi, Jepang, Indonesia, dan sebagainya.

Baca JugaSaat AI Juga Menulis, di Mana Peran Jurnalis?

Dari hasil terjemahan itu, bot bisa menambahkan subtitle ke video serta membuat voice over dalam berbagai bahasa. Bot juga dapat diminta menambahkan logo Sputnik atau media lain di bawah Rossiya Segodnya ke dalam video. Semua proses itu bisa selesai dalam waktu cepat melalui telepon seluler.

Menurut Mikhail, tanpa video bot, proses penerjemahan video pendek serta penambahan subtitle, voice over, dan logo bisa memakan waktu 30-40 menit. Namun, dengan bantuan bot video itu, proses tersebut hanya memakan waktu sekitar 90 detik. Bot itu pun menjadi alat yang penting karena Sputnik menerbitkan berita dalam beragam bahasa.

Yang menarik, video bot itu bukanlah produk jadi yang dibeli dari perusahaan AI, tetapi dikembangkan oleh tim Rossiya Segodnya dengan menggabungkan beberapa perangkat lunak dan model AI. Hal itu bisa dilakukan karena grup media tersebut memiliki tim machine learning engineer atau insinyur pembelajaran mesin.

“Kami beruntung memiliki tim machine learning engineer di perusahaan ini, bahkan sebelum era boom AI,” tutur Mikhail.    

Jadi, saya pikir, AI tidak seharusnya menggantikan jurnalis, tetapi membuat hidup kita (sebagai jurnalis) menjadi lebih mudah

Chief Digital Transformation Officer Sputnik, Olga Anisimova, mengatakan, pihaknya juga sedang mengembangkan perangkat lunak untuk memproses video secara terintegrasi. Perangkat lunak yang terintegrasi dengan agen AI itu digunakan untuk memproses video yang ditampilkan di website dan media sosial, siniar radio, sampai live stream atau siaran langsung.      

“Agen AI terintegrasi secara mendalam (dengan perangkat lunak ini). Mereka (agen AI) bisa membantu transkripsi, siaran langsung, dan penerjemahan. Jadi, kalau ada video yang masuk, bisa ditranskrip dan diterjemahkan dalam beberapa menit. Mereka (agen AI) juga bisa menyarankan highlight terbaik dari video panjang siaran langsung,” ujar Olga.    

Olga menyebut, timnya juga sedang mengembangkan perangkat lunak untuk membuat avatar pembawa berita di Sputnik. Avatar adalah representasi digital yang merepresentasikan sosok manusia. Sebelumnya, tim media itu menggunakan layanan salah satu perusahaan AI untuk membuat avatar. Namun, karena layanan itu makin mahal dan susah digunakan, mereka akhirnya mengembangkan sistem untuk membuat avatar sendiri.

Di sisi lain, meski adopsi AI di grup media Rossiya Segodnya berjalan cukup masif, ada kesadaran bahwa teknologi itu dikembangkan bukan untuk menggantikan jurnalis dan pekerja media. Menurut Olga, AI bisa membantu mempercepat sejumlah tugas rutin, tetapi peran manusia di media massa masih sangat sentral.  

“Jurnalis bertugas untuk mengeck fakta, menyajikan informasi secara jernih dan faktual, serta menghindari distorsi. Jadi, saya pikir, AI tidak seharusnya menggantikan jurnalis, tetapi membuat hidup kita (sebagai jurnalis) menjadi lebih mudah,” ungkap Olga.     


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Sebut Kritik Harus Dihormati: Tidak Boleh Rusak Demokrasi
• 20 jam laludisway.id
thumb
Digugat Ahli Waris Lahan Hotel Sultan, PPKGBK: Hak yang Bersangkutan, Kami Tak Bisa Halangi
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Tangan-tangan yang Menjaga Kebersihan dan Kenyamanan di Jakarta Fair...
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Dekranasda Makassar Perluas Pasar Nasional Lewat Promosi Produk Unggulan di APEKSI 2026
• 4 jam laluharianfajar
thumb
10 Saham Top Gainer Perdagangan Rabu 1 Juli 2026, Ada Emiten Prajogo Pangestu
• 20 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.