AMMN Masuki Siklus Pertumbuhan Kinerja Baru, Pendapatan Diproyeksikan Melejit 117 Persen

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) diproyeksikan memasuki siklus pertumbuhan baru pada tahun ini.

AMMN Masuki Siklus Pertumbuhan Kinerja Baru, Pendapatan Diproyeksikan Melejit 117 Persen. (Foto Istimewa)

IDXChannel — PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) diproyeksikan memasuki siklus pertumbuhan baru pada tahun ini. Sebab, masa transisi operasional yang terjadi sepanjang 2025 mulai berakhir dan membuka peluang pertumbuhan kinerja lebih kuat.

Riset terbaru BRI Danareksa Sekuritas yang diterbitkan pada 29 Juni 2026, AMMN berada pada awal siklus pertumbuhan baru, ditopang oleh peningkatan produksi Tambang Batu Hijau Fase 8 serta kontribusi bisnis hilirisasi yang mulai menghasilkan produk logam bernilai tambah lebih tinggi.

Baca Juga:
AMMN Bersiap Memasuki Siklus Puncak Laba Baru, Ini Risiko yang Perlu Dicermati

“AMMN memasuki siklus pertumbuhan laba yang signifikan pada 2026 setelah melewati masa transisi pengembangan Fase 8 Batu Hijau,” ujar Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey Eko Nugroho dalam risetnya, dikutip Kamis (2/7/2026).

Andhika menerangkan, indikasi pemulihan tersebut terlihat pada kuartal I-2026 ketika volume bijih segar yang ditambang meningkat menjadi 38 juta ton, dibandingkan sekitar 1 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga:
MSCI Coret Enam Saham dari Indeks Global, Ada AMMN hingga TPIA

Kondisi tersebut mendorong produksi konsentrat mencapai 167,8 ribu metrik ton kering (dry metric tonnes/dmt), meningkat 110 persen secara tahunan. Produksi tersebut mengandung sekitar 101 juta pon tembaga dan 136 ribu ons emas.

Baca Juga:
Izin Ekspor Berakhir, AMMN Percepat Hilirisasi dan Targetkan Lonjakan Produksi

Sehingga, kata dia, pemulihan produksi Batu Hijau diperkirakan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan kinerja AMMN sepanjang 2026. Diperkirakan pendapatan perseroan mencapai sekitar USD4 miliar pada tahun ini, meningkat 117 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan EBITDA diproyeksikan tumbuh 97 persen menjadi sekitar USD2 miliar.

"Selain pemulihan produksi tambang, transformasi bisnis melalui hilirisasi dinilai menjadi faktor penting yang akan meningkatkan kualitas pendapatan AMMN dalam jangka panjang," ujar dia.

Pada kuartal I-2026, fasilitas smelter dan Precious Metal Refinery (PMR) milik AMMN telah menghasilkan sekitar 27,7 ribu ton katoda tembaga dan 66,2 ribu ons emas murni.

Menurutnya, AMMN kini bertransformasi dari perusahaan yang selama ini menjual konsentrat menjadi produsen logam terintegrasi yang menghasilkan produk akhir berupa katoda tembaga dan emas murni sesuai standar internasional. Perubahan ini dinilai memberikan nilai tambah lebih tinggi sekaligus meningkatkan ketahanan bisnis terhadap dinamika industri pertambangan global.

Mulai kuartal II-2026, setelah berakhirnya izin ekspor konsentrat pada April 2026, kinerja AMMN diperkirakan akan berasal dari penjualan katoda tembaga dan emas murni.

Selanjutnya, kata Andhika, BRI Danareksa juga menyoroti proyek fasilitas pengolahan baru yang saat ini memasuki tahap akhir pembangunan. Fasilitas tersebut dijadwalkan mulai menerima bijih pertama pada paruh kedua tahun ini dan akan meningkatkan kapasitas pengolahan dari sekitar 40 juta ton per tahun menjadi sekitar 85 juta ton per tahun.

"Peningkatan kapasitas tersebut diperkirakan akan mendukung pertumbuhan volume produksi dalam beberapa tahun mendatang, baik untuk menopang operasi Batu Hijau maupun pengembangan proyek Elang sebagai sumber pertumbuhan jangka panjang perusahaan," katanya.

Secara jangka menengah, ujar dia, produksi katoda tembaga diproyeksikan terus meningkat seiring kenaikan utilisasi smelter, sementara produksi emas murni juga diperkirakan tumbuh signifikan seiring optimalisasi PMR.

Di luar faktor internal perusahaan, BRI Danareksa menilai prospek pasar tembaga global masih sangat menarik dalam beberapa tahun ke depan.

Permintaan tembaga kini tidak lagi hanya bergantung pada sektor konstruksi, melainkan semakin didorong oleh tren elektrifikasi, pengembangan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik, dan pembangunan jaringan energi terbarukan.

Pada saat yang sama, peningkatan pasokan global dinilai masih terbatas sehingga pasar tembaga diperkirakan tetap berada dalam kondisi defisit baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Sementara itu, harga emas juga mendapat dukungan dari tingginya permintaan bank sentral dunia yang terus meningkatkan kepemilikan logam mulia sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.

"Dengan kombinasi pemulihan operasional Batu Hijau, kontribusi hilirisasi yang semakin besar, proyek ekspansi yang hampir rampung, serta prospek positif komoditas utama yang diproduksi perusahaan, AMMN dinilai berada pada posisi yang kuat untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya," kata dia.

BRI Danareksa Sekuritas memulai initiation coverage terhadap AMMN dengan rekomendasi ‘Buy’ dan target harga Rp6.000 per saham.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
WIKA dan Kementerian PU Bangun Infrastruktur Pengelolaan Air di Merauke
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Desa Sejahtera Astra Kemiren Andalkan Budaya Osing untuk Dongkrak Pendapatan Warga
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Organda dukung Kemenhub tata usaha transportasi yang berkeadilan
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
DJP Kaji Ulang Pajak JHT, Siap Libatkan Serikat Buruh dalam Pembahasan
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
PKB Bakal Sanksi Tegas Kader Diduga Intimidasi dr Icha, Tak Ada Toleransi
• 1 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.