Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) menilai kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,75% berdampak positif terhadap potensi imbal hasil dari penempatan baru pada deposito dan instrumen SBN seri terbaru.
Namun, Ketua Umum Asosiasi DPLK Tondy Suradiredja mengatakan kenaikan suku bunga ini juga berisiko menurunkan nilai pasar portofolio obligasi lama yang dinilai secara mark-to-market dalam jangka pendek.
“Hal yang perlu diwaspadai ke depannya adalah potensi penurunan nilai mark-to-market pada portofolio obligasi jangka panjang yang sudah dimiliki, serta ketidakpastian ekonomi global yang dapat memengaruhi kinerja pasar secara keseluruhan,” katanya kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (2/7/2026).
Oleh karena itu, Tondy mengemukakan bahwa strategi investasi industri akan terus fokus pada penyesuaian durasi portofolio supaya dapat meminimalkan risiko penurunan nilai aset.
Lebih lanjut, dia membeberkan tantangan utama bagi industri dana pensiun dalam mengelola investasi saat ini adalah tingginya volatilitas pasar keuangan global, dinamika suku bunga, serta tekanan geopolitik global yang memengaruhi kinerja aset.
“Industri juga menghadapi tekanan untuk memberikan imbal hasil optimal bagi peserta di tengah ketidakpastian makroekonomi. Untuk menghadapinya, pelaku industri harus memperkuat tata kelola dan manajemen risiko investasi secara berkala,” ucapnya.
Baca Juga
- Tantangan Dana Pensiun Jaga Kinerja Investasi di Tengah Dinamika Pasar
- MK Ubah Aturan Uang Pensiun, Peserta Sukarela Bisa Cairkan Sekaligus
Adpaun, langkah strategis lainnya adalah melakukan diversifikasi portofolio secara terukur serta mengoptimalkan momentum yield dari instrumen pendapatan tetap. Misalnya, penempatan pada SBN dan deposito didorong oleh prinsip kehati-hatian serta kewajiban menjaga likuiditas untuk pembayaran manfaat pensiun.
“SBN dipilih karena menawarkan keamanan tinggi dengan jaminan negara, imbal hasil yang stabil, dan kesesuaian durasi dengan kewajiban jangka panjang dana pensiun. Sementara itu, deposito dan tabungan memberikan fleksibilitas tinggi untuk pengelolaan arus kas jangka pendek serta perlindungan modal dari volatilitas pasar,” jelas Tondy.
Terlebih, imbuhnya, regulasi dari OJK juga turut mengarahkan industri untuk menempatkan dana pada instrumen dengan profil risiko yang aman dan terukur.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,75% dapat memengaruhi strategi investasi industri dana pensiun, khususnya dalam pengelolaan portofolio pendapatan tetap dan pasar uang.
Namun demikian, SBN diperkirakan tetap menjadi instrumen utama pilihan industri karena memberikan kombinasi antara keamanan, likuiditas, dan kesesuaian dengan kebutuhan investasi jangka panjang dana pensiun.





