Bisnis.com, DENPASAR - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat inflasi pada Juni 2026 mencapai 3,5% disebabkan oleh melonjaknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB Wahyudin menjelaskan inflasi (yoy) terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 11 indeks kelompok pengeluaran dari total 11 indeks kelompok, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,13%, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,05%.
Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,24%, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,32% kelompok kesehatan sebesar 0,90%, kelompok transportasi sebesar 2,67%, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 2,03%.
Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,82%, kelompok pendidikan sebesar 2,37%, kelompok penyediaan makanan dan minuman, restoran sebesar 2,10%, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 14%.
Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi (year-on-year/yoy) pada Juni 2026, antara lain emas perhiasan, minyak goreng, bensin, sigaret kretek mesin (skm), cabai rawit, tarif air minum pam, bawang merah, daging ayam ras, cabai merah, bahan bakar rumah tangga, angkutan udara, telepon seluler, akademi, perguruan tinggi, beras, daging sapi, apel, air kemasan, jeruk, Sigaret Kretek Tangan (SKT), dan ayam hidup.
Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi (yoy) pada Juni 2026, antara lain tomat, kelapa, ikan layang, angkutan sungai, danau dan penyeberangan, kemiri, ikan nila, angkutan antar kota, mukena, sabun detergen bubuk, sabun cair/cuci piring, dan parfum.
Baca Juga
- Inflasi Bali Capai 3,27% pada Juni 2026, BI Sebut Masih Terkendali
- Rumah Sakit di KEK Kesehatan Sanur Jadi Pusat Operasi Berbasis Robot
- PHRI Keluhkan Rumitnya Perizinan Hotel di Bali, Investasi Terhambat
Sementara komoditas yang dominan memberikan andil inflasi (mtm) pada Juni 2026, antara lain bensin, bawang merah, bawang putih, cumi-cumi, kubis, wortel, ikan teri, asam, angkutan udara, telepon seluler, minyak goreng, daging sapi, jeruk nipis atau limau, ikan tongkol, ikan ambu-ambu, tomat, Sigaret Kretek Mesin (SKM), kacang panjang, salak, bayam, dan udang basah.
Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil deflasi mtm pada Juni 2026, antara lain cabai rawit, daging ayam ras, ikan layang, jagung manis, emas perhiasan, kemiri, ayam hidup, anggur, semangka, kangkung, dan sawi hijau.
"Inflasi Juni terutama dipengaruhi oleh penyesuaian harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Turbo, yang berdampak pada meningkatnya tarif angkutan udara. Selain itu, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan seperti bawang merah, bawang putih, cumi-cumi, dan kubis juga turut memberikan andil terhadap inflasi," kata Wahyudin dikutip Kamis (2/7/2026).
Pada Juni 2026, kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,53%, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,32%, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,05%, kelompok kesehatan sebesar 0,02%.
Kemudian kelompok transportasi sebesar 0,31%, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,10%, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,04%; kelompok pendidikan sebesar 0,10%, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,18%; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,90%.
"Namun demikian, tekanan inflasi tersebut masih dapat diredam oleh turunnya harga beberapa komoditas strategis seperti cabai rawit, daging ayam ras, dan emas perhiasan. Meningkatnya pasokan hasil panen di sejumlah daerah menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga stabilitas harga pangan," jelas Wahyudin.





