JAKARTA, KOMPAS.com - Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Josias Simon mengungkapkan penyebab Jakarta menjadi daerah dengah jumlah pemain judi online (judol) terbanyak kedua di Indonesia dipengaruhi faktor infrastruktur digital yang memadai, tingginya aktivitas ekonomi, serta masifnya promosi judol yang menyasar masyarakat perkotaan membuat Jakarta.
Ia menilai, Jakarta memiliki jaringan internet, fasilitas digital, dan infrastruktur yang relatif lengkap sehingga memudahkan pelaku judol menjangkau calon pemain.
"Para pelaku juga memang menyasar ke situ ya. Baik segi teknis aplikasi promosi maupun sarana-prasarana ya, dan masalah-masalah ekonomi tadi," kata dia saat dihubungi Kompas.com, Kamis (2/7/2026).
Baca juga: 10 Perwakilan Ojol Diterima di Setneg, Desak Perpres 27/2026 Dibuka ke Publik
Selain itu, ia menilai tekanan ekonomi hidup di perkotaan turut menjadi faktor yang mendorong sebagian orang kecanduan judol.
Kondisi tersebut kerap berkaitan dengan tingginya kebutuhan hidup hingga penggunaan pinjaman online.
"(Kehidupan) Perkotaan yang kemudian pemenuhan kebutuhannya yang terasa berat dan segala macam, pinjaman online dan lari ke judi online yang tadinya permainan, sekadar hiburan. Nah inilah relasinya menyambung begitu loh ke judi online. Kan perkotaan ini kompleks ya persoalannya, enggak bisa kita pilah-pilah seperti itu ya," jelas dia.
Josias juga menyoroti pola promosi judol yang kini berkembang dengan memanfaatkan platform digital yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Berbeda dari sebelumnya, promosi tersebut dikemas secara lebih halus dan tidak langsung mengarah pada aktivitas perjudian.
"Tiba-tiba ada iklan promosi yang, 'Loh ini kok terkait dengan judol.' Jadi dia masuk ke wilayah-wilayah yang memang sebetulnya wilayah-wilayah rutinitas gitu loh. Dan platform besar. Tapi juga dia tidak dengan cara dulu ya. Sekarang lebih masuk ke cara-cara yang legal," ungkap Josias.
Baca juga: Pengemudi Ojol Tewas Dibacok Begal di Bekasi, 3 Pelaku Ditangkap
"Jadi ke platform-platform besar ya, dengan narasi-narasi ya, konten-konten yang memang tidak kemudian langsung mengarah," lanjut dia.
Ia menambahkan, kerentanan terhadap judol tidak hanya dialami kelompok berpenghasilan rendah.
Hampir semua lapisan masyarakat berpotensi terdampak, meski kelompok menengah ke bawah cenderung lebih rentan karena tekanan ekonomi.
"Jadi kalau dalam hal ini sih hampir semua itu rentan ya. Termasuk golongan yang mampu. Tapi memang kalau terkait dengan masalah ekonomi, kebutuhan mendesak, memang menengah ke bawah yang kemudian condong ke sana gitu dibandingkan yang mampu," tambah dia.
Sebelumnya diberitakan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkapkan empat wilayah yang memiliki jumlah pemain judi online (judol) terbanyak di Indonesia pada 2025.
DKI Jakarta termasuk 10 wilayah pemain judol terbanyak yang menyumbang empat wilayah, dengan yang terbesar di Jakarta Barat.





