Harga CPO Lesu, Pasar Menanti Laporan MPOB

idxchannel.com
4 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak sawit mentah (CPO) bergerak dalam kisaran terbatas pada perdagangan Kamis (2/7/2026), di tengah ekspektasi peningkatan produksi.

Harga CPO Lesu, Pasar Menanti Laporan MPOB. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga minyak sawit mentah (CPO) bergerak dalam kisaran terbatas pada perdagangan Kamis (2/7/2026), di tengah ekspektasi peningkatan produksi yang masih membebani pasar, sementara permintaan ekspor belum menunjukkan pemulihan yang berarti.

Kontrak acuan CPO pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives turun 10 ringgit atau 0,22 persen menjadi 4.547 ringgit per metrik ton pada jeda perdagangan siang.

Baca Juga:
Gelar Rights Issue Jilid III, Anabatic (ATIC) Himpun Dana Rp289 Miliar

Direktur Pelindung Bestari Paramalingam Supramaniam mengatakan pasar saat ini masih kekurangan sentimen positif karena produksi terus meningkat, sedangkan ekspor masih lesu dan belum memperlihatkan tanda-tanda pemulihan.

"Dengan momentum produksi yang terus menguat, hanya tinggal menunggu waktu hingga tekanan jual semakin membebani pasar. Untuk saat ini, harga masih bergerak dalam kisaran terbatas karena pelaku pasar menunggu laporan Malaysian Palm Oil Board (MPOB)," ujarnya, dikutip Reuters.

Baca Juga:
Danai Bisnis Nikel, Harum Energy (HRUM) Kantongi Pinjaman Afiliasi Rp2,67 Triliun

Dia menambahkan, peningkatan stok tampaknya tidak dapat dihindari.

MPOB dijadwalkan merilis data bulanan permintaan dan pasokan pada 10 Juli.

Baca Juga:
BPJS Kesehatan Investasi di Surat Utang Negara hingga Deposito Senilai Rp60,13 Triliun

Di pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian naik 0,48 persen, sedangkan kontrak minyak sawit turun 0,32 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) menguat 0,21 persen.

Harga minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.

Di sisi lain, harga minyak mentah turun sekitar 1 persen untuk hari ketiga berturut-turut setelah Qatar menyatakan Iran dan Amerika Serikat (AS) mencatat kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung mengenai Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi bahan baku yang kurang menarik untuk biodiesel.

Sementara itu, ringgit Malaysia menguat 0,27 persen terhadap dolar AS, sehingga minyak sawit menjadi sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Sebelumnya, kebijakan baru Indonesia yang mewajibkan pencampuran biodiesel 50 persen (B50) mulai berlaku pada Rabu.

Aturan tersebut mewajibkan penggunaan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen solar konvensional, meski para pelaku industri masih menunggu revisi alokasi biodiesel dari pemerintah. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Usai Dievaluasi, Pengurus Koperasi Merah Putih Tak Lagi Disiapkan Jadi Komcad
• 12 jam laludisway.id
thumb
IHSG Dibuka Menguat ke 5.709 Kamis Pagi
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ngeri, Dana Tunai PBB Terancam Habis
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Apa itu Sensus Ekonomi 2026 dan Fungsinya? Ini Penjelasannya
• 9 jam lalukatadata.co.id
thumb
EU-ABC: Kolaborasi multipihak kunci keberhasilan program MBG
• 20 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.