Jakarta, VIVA – PT Astra International mengungkapkan bahwa program pemberdayaan UMKM di Banyuwangi membuahkan hasil nyata. Pelaku usaha lokal dan kelompok tani berhasil meningkatkan kapasitas usaha, memperluas pasar hingga ke luar negeri, sekaligus mendongkrak pendapatan masyarakat sebagai penggerak ekonomi desa.
Salah satu capaian terbesar terlihat pada kelompok tani buah naga binaan Yayasan Astra–Yayasan Dharma Bhakti Astra di Desa Sumbermulyo, Banyuwangi. Melalui pendampingan bersama Pusat Pengembangan UMKM (PPU), para petani memperoleh penguatan kelembagaan, peningkatan kemampuan budidaya organik, perbaikan kualitas pascapanen sesuai standar offtaker, hingga akses pembiayaan dan pemasaran.
Hasilnya, kelompok tani berhasil mengantongi sertifikasi budidaya organik. Produksi buah naga meningkat hampir dua kali lipat, dari 316 ton pada 2021 menjadi 595 ton pada 2025. Sementara itu, omzet kelompok tani melonjak tajam dari Rp1,9 miliar menjadi Rp11,9 miliar pada periode yang sama.
Chief of Corporate Affairs Astra Boy Kelana Soebroto mengatakan, pengembangan Desa Sejahtera Astra membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Desa Sejahtera Astra Kemiren menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan pembangunan masyarakat dapat berjalan beriringan. Melalui penguatan pada bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan, Astra percaya bahwa warisan budaya Osing tidak hanya tetap lestari, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat melalui peningkatan kualitas hidup, peluang usaha, dan kesejahteraan yang berkelanjutan," ujar Boy dikutip dari keterangannya, Kamis, 2 Juli 2026.
Tak hanya dipasarkan sebagai buah segar, hasil panen juga diolah menjadi produk bernilai tambah, seperti sale buah naga dan buah naga dehidrasi. Produk-produk tersebut kini telah menembus pasar nasional hingga diekspor ke Singapura dan Hong Kong.
Keberhasilan serupa juga terlihat di Desa Sejahtera Astra (DSA) Kemiren. Sejak mendapat pendampingan Astra pada 2024, desa wisata berbasis budaya Osing tersebut berkembang menjadi pusat ekonomi masyarakat yang melibatkan puluhan pelaku UMKM.
Saat ini terdapat 40 pelaku usaha lokal yang bergerak di sektor kuliner, kerajinan, dan kopi, didukung 50 homestay dengan total 92 kamar serta 40 anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang mengelola aktivitas pariwisata berbasis budaya. Penguatan UMKM dan sektor pariwisata tersebut berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Pendapatan rata-rata anggota Pokdarwis meningkat sekitar 33 persen, dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan.





