JAKARTA, KOMPAS — Tekanan hebat pada kinerja sektor manufaktur dan neraca dagang Indonesia pada pertengahan tahun 2026 bakal terefleksi dalam kinerja keuangan emiten atau perusahaan terbuka pada triwulan II. Beberapa sektor industri emiten kemungkinan tetap defensif tekanan ini, sedangkan sebagian lainnya terpukul.
S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia Juni 2026 anjlok tajam ke level 46,9 dari 50 pada bulan sebelumnya. Penurunan di bawah ambang batas ekspansi (50) dan terdalam sejak Juni 2025.
Bersamaan, Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (1/7/2026), mengumumkan, neraca perdagangan Mei 2026 mengalami defisit senilai 1,61 miliar dolar AS. Hasil ini mengakhiri tren surplus neraca perdagangan Indonesia yang sebelumnya sempat bertahan selama 72 bulan berturut-turut.
Defisit terjadi akibat nilai impor yang naik menjadi 24,81 miliar dolar AS atau tumbuh 22,16 persen secara tahunan, melampaui nilai ekspor yang menyusut 5,73 persen secara tahunan menjadi 23,20 miliar dolar AS. Kemerosotan neraca perdagangan ini terutama disumbang oleh defisit komoditas minyak dan gas bumi.
Sinarmas Sekuritas, dalam laporannya, Kamis (2/7/2026), menilai, kondisi ini mengindikasikan fase perlambatan manufaktur yang cukup dalam, di mana pelemahan permintaan bertemu dengan tekanan biaya tinggi.
Tekanan biaya tinggi antara lain dipicu kenaikan harga energi dari minyak mentah yang sempat naik dari posisi di bawah 70 dolar AS per barel ke kisaran 90-100 dolar AS per barel, hingga pelemahan rupiah yang sejak awal tahun sempat lebih dari 7 persen ke kisaran Rp 18.000 per dolar AS.
Secara kumulatif lima bulan pertama pada 2026, Indonesia sebenarnya masih mencatat surplus total 4,03 miliar dolar AS. Akan tetapi, tren bulanan yang berbalik defisit pada Juni menjadi sinyal kuat terjadinya perlambatan ekonomi.
xxxxxxx
Sinarmas Sekuritas menilai, kombinasi penurunan permintaan dan pembengkakan biaya ini langsung memukul kinerja pabrik. Output produksi tercatat menyusut selama empat bulan beruntun, yang direspons pengusaha dengan memangkas pembelian input serta aktivitas stok demi efisiensi.
Di sisi lain, biaya input produsen melonjak ke level tertinggi kedua sejak 2011, memaksa perusahaan menaikkan harga jual produk dengan kecepatan tertinggi sejak 2013 untuk menggeser beban biaya ke konsumen.
"Hal ini berpotensi menekan margin emiten berbasis industri dan siklikal dalam jangka pendek," kata tim analis Sinarmas Sekuritas.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, saat dihubungi Kompas, mengatakan, data ekonomi ini penting sebagai peringatan dini bahwa momentum ekspor berpotensi melemah dalam beberapa bulan ke depan, meskipun hingga Mei nilai ekspor secara level masih relatif tinggi.
"Untuk emiten berorientasi ekspor, risiko penurunan ekspor ke depan menandakan tekanan pada volume dan utilisasi pabrik, terutama di sektor yang sensitif terhadap siklus global dan harga komoditas," ujarnya.
Sepanjang 2026, industri yang akan mengalami tekanan berat antara lain manufaktur siklikal, yang sangat bergantung pada pasar global yang melemah, seperti garmen, tekstil, dan industri hilir bermargin tipis yang bergantung pada biaya energi serta logistik.
Sebaliknya, emiten di sektor nonsiklikal dinilai masih bisa menjadi pilihan defensif yang aman bagi investor, Rully mengatakan.
Emiten pengolahan dan ekspor hasil perikanan seperti PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk (DSFI), menjadi contoh industri yang tetap defensif atau bertahan di tengah tekanan ekonomi ini. Perusahaan pengolahan produk perikanan yang menjual 95 persen produksinya ke luar negeri, terutama Amerika Serikat, mendapat keuntungan dari pelemahan kurs rupiah.
Direktur Utama DSFI, Ewijaya, dalam paparan keterbukaan publik, Rabu (24/6/2026), mengakui bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah mengerek biaya logistik (freight rate) dan harga pengemas. Namun, karena mayoritas penjualan ekspor menggunakan denominasi dolar AS, pelemahan rupiah justru memberikan keuntungan tersendiri.
"Karena penjualan ekspor kami mayoritas didenominasikan dalam dolar AS, pelemahan rupiah ini malah memberikan windfall terhadap pencatatan penjualan DSFI," jelasnya.
Guna memitigasi fluktuasi harga bahan bakar nelayan, DSFI fokus pada ekspansi pasar baru ke Kanada, hilirisasi produk domestik bernilai tambah, dan membuka dua fasilitas mini plant baru di Sumatera Utara dan Aceh.
DSFI pun tetap optimistis membidik target penjualan sebesar Rp 695 miliar pada tahun buku 2026, atau naik 6 persen dari tahun lalu. L Optimisme ini didasarkan pada realisasi triwulan I-2026 yang sudah mengamankan Rp 183 miliar atau sekitar 26 persen dari target tahunan.
Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi pukulan langsung bagi margin keuntungan karena meningkatkan beban operasional secara drastis.
"Kami optimis pertumbuhan terus berlanjut di tahun 2026 di tengah volatilitas perdagangan global yang masih berlanjut. Realisasi kuartal pertama yang mencapai 26 persen menunjukkan perseroan masih on track terhadap target di tahun 2026," kata Ewijaya.
Kondisi sebaliknya dialami oleh emiten peritel yang mengandalkan barang impor, seperti PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi pukulan langsung bagi margin keuntungan karena meningkatkan beban operasional secara drastis.
"Kami mengimpor brand dalam dolar, poundsterling, dan euro, jadi tentu saja pelemahan rupiah akan meningkatkan beban pokok penjualan kami dan tentunya, harga jual pun naik. Kami tidak punya pilihan selain membebankannya pada pelanggan," tutur Virendra Prakash Sharma, Wakil Presiden Direktur MAPI, dalam paparan kinerja secara daring, Rabu (24/6).
Walaupun margin EBITDA MAPI terpantau merosot tipis dari 16,7 persen pada triwulan I-2025 menjadi 15,8 persen pada triwulan I-2026, pendapatan perseroan hingga akhir Maret 2026 masih melonjak 32 persen dan laba bersih melesat 33 persen secara tahunan.
Untuk mengarungi sisa 2026, MAP Group membidik pertumbuhan pendapatan dan laba dengan target ekspansi 550 hingga 600 gerai baru. Kendati menyiapkan belanja modal (capex) sebesar Rp 2 triliun, manajemen kini memilih bersikap lebih konservatif dan selektif dalam mengalokasikan modal demi menjaga kestabilan kas internal perusahaan.





