Wakil Ketua MPR dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, mengungkap minat perusahaan-perusahaan global terhadap kredit karbon Indonesia semakin besar. Hal itu disampaikan setelah menghadiri London Climate Action Week, di mana ia bertemu pengembang proyek karbon dan calon pembeli kredit karbon RI.
Eddy mengatakan para pelaku pasar karbon internasional menyambut positif rencana peluncuran Sistem Registrasi Unit Karbon (SRUK) yang dijadwalkan berlangsung pada 9 Juli 2026. SRUK bakal menjadi platform tunggal pencatatan unit karbon Indonesia yang mengacu pada standar internasional.
"Saya laporkan tadi kepada Pak Menko, Pak Hashim, dan Ibu-Ibu Bapak sekalian, bahwa kami baru kembali dari London Climate Action Week. Kami bertemu dengan begitu banyak pengembang proyek karbon dan mereka antusias sekali,” kata Eddy saat konferensi pers di gedung Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (2/7).
Eddy menyebut sejumlah perusahaan multinasional hingga institusi internasional telah menunjukkan ketertarikan terhadap kredit karbon Indonesia. Seperti Amazon, Google, Microsoft, Lufthansa, hingga klub bola Manchester United.
Menurut Eddy, peluncuran SRUK menjadi momentum penting untuk membuka peluang perdagangan karbon Indonesia dengan pasar internasional.
Di sisi lain, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkap pemerintah bakal menyerahkan persetujuan menteri untuk pembibitan kredit karbon kepada empat proyek yang terdiri atas tiga pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dan satu perhutanan sosial.
"Kita akan melakukan penyerahan persetujuan Menteri untuk pembibitan karbon kredit. Jadi tadi sudah disampaikan oleh Pak Hashim. Ada 3 PBPH dan 1 Perhutanan Sosial, jadi 4 totalnya,” jelas Raja Juli.
Dari empat proyek, pemerintah memperkirakan bakal membentuk potensi kredit karbon sebesar 31,7 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp 5 triliun.
"Kira-kira nanti akan ada 31,7 juta ton CO2 ekuivalen. Kira-kira nilai transaksinya 5 triliun dan PNBP-nya sekitar Rp 500 miliar,” terangnya.





