Tegal, ERANASIONAL.COM – Tangis histeris Ibu Ida Murlija seketika pecah saat membuka sebuah koper pakaian di sudut rumahnya awal Juni 2026 kemarin.
Di dalam koper itu, tumpukan uang tunai miliaran rupiah miliknya ditemukan dalam kondisi basah kuyup, berlumpur, dan saling menempel erat akibat terendam banjir rob.
Bencana banjir rob yang kerap melanda wilayah Batang Utara tanpa peringatan ternyata telah merendam koper tempatnya menyimpan seluruh harta berharga keluarga tersebut.
“Robnya di wilayah kami memang cukup parah, bahkan dalam kondisi tidak hujan pun air laut tiba-tiba bisa naik dan membanjiri rumah,” kenang Ida, Kamis (2/7/2026).
Dana fantastis tersebut merupakan uang hasil penjualan tanah miliknya pada tahun 2025 yang sengaja disimpan di rumah karena direncanakan untuk segera dipakai.
Keputusan untuk tidak menyimpannya di bank itu seketika berubah menjadi petaka besar ketika air laut merendam ruangan semi permanen di bagian belakang rumahnya.
Niat awal menyimpan uang tunai di rumah adalah agar dana tersebut bisa lebih mudah digunakan sewaktu-waktu dalam waktu dekat tanpa harus repot pergi ke bank.
Namun, takdir berkata lain saat genangan air rob yang tinggi ikut merendam koper bersama barang-barang rumah tangga lainnya yang belum sempat diselamatkan.
Keputusasaan Ida memuncak ketika menyadari bahwa dana yang rusak itu sebenarnya merupakan tumpukan uang yang disiapkan demi masa depan pendidikan perguruan tinggi anaknya.
Kondisi memprihatinkan tersebut baru diketahuinya secara tidak sengaja saat ia hendak mengambil dana untuk membayar keperluan biaya masuk kuliah sang buah hati.
“Uangnya terendam sebelum Lebaran, tapi kami baru ketahuan saat koper dibuka karena dana tersebut mau segera digunakan untuk biaya kuliah anak,” ujar Ida dengan suara bergetar.
Di tengah kepanikan, titik terang muncul saat Ida mengetahui adanya program layanan penukaran uang Rupiah rusak milik Bank Indonesia melalui sistem digital.
Tanpa membuang waktu, ia langsung mendaftarkan jadwal penukaran secara daring melalui aplikasi resmi PINTAR dengan total klaim uang mencapai Rp1,54 miliar.
Membawa tumpukan uang berlumpur ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal, Ida disambut oleh ketelitian petugas yang langsung melakukan penelitian menyeluruh.
Setiap lembar uang yang rusak diperiksa satu per satu menggunakan standar ketat untuk memastikan keaslian serta menghitung nilai nominal penggantiannya.
Setelah proses identifikasi yang panjang, Bank Indonesia akhirnya menyatakan uang layak ganti milik Ida yang memenuhi persyaratan legal adalah sebesar Rp1,51 miliar.
Senyum kebahagiaan pun kembali terukir di wajah Ida setelah menerima uang penggantian berupa Rupiah layak edar dalam jumlah yang utuh.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Bimala, menegaskan bahwa penukaran ini adalah bentuk pelayanan rutin yang dibuka gratis setiap hari Selasa dan Kamis.
“Layanan penukaran uang Rupiah rusak ini tersedia terbuka bagi masyarakat luas, mudah diakses, dan sama sekali tidak dipungut biaya,” jelas Bimala penuh penekanan.
Meski demikian, Bimala mengingatkan bahwa tidak semua uang rusak bisa langsung mendapatkan penggantian, sebab ada kriteria fisik ketat yang harus dipenuhi oleh warga.
“Penggantian hanya kami berikan untuk Rupiah asli yang kondisi fisiknya masih tersisa lebih dari dua pertiga ukuran aslinya,” tambah Bimala menerangkan aturan.
Belajar dari musibah yang menimpa Ibu Ida, Bank Indonesia Tegal mengimbau masyarakat luas untuk lebih bijak dalam menyimpan uang tunai maupun dokumen berharga.
Warga didorong untuk mulai beralih menggunakan layanan perbankan resmi serta mengoptimalkan instrumen pembayaran non-tunai seperti transfer, uang elektronik, hingga QRIS. (em-aha)





