Perundingan tak langsung Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Selasa (1/7) di Doha, Qatar menghasilkan "kemajuan pesat", menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar. Perundingan berikutnya diperkirakan akan digelar setelah pemakaman mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
"Mediator dari Qatar dan Pakistan telah menyelesaikan pertemuan terpisah dengan negosiator AS dan Iran di Doha hari ini. Kemajuannya mencakup nota kesepahaman (MoU) Islamabad yang dibangun berdasarkan hasil KTT Lake Lucerne," kata juru bicara Kemlu Qatar, Majed Al Ansari, melalui X pada Rabu (2/7).
"Kedua pihak sepakat untuk melanjutkan pembahasan dalam beberapa waktu ke depan. Ini akan dilaksanakan sesegera mungkin setelah pemakaman mendiang pemimpin tertinggi," pada pekan depan, tambahnya.
Sekitar 30 negara diperkirakan akan mengirimkan perwakilan untuk menghadiri pemakaman tersebut. Perdana Menteri Pakistan Shahbaz Sharif dijadwalkan hadir. Adapun India hanya mengirimkan wakil menteri luar negeri, lapor Reuters.
Prosesi pemakaman direncanakan akan melewati sejumlah lokasi simbolik bagi Republik Islam. Rute dimulai dari pusat pemerintahan di Teheran, kemudian menuju kota-kota suci umat Syiah—Qom, Karbala, Najaf—dan berakhir di Mashhad.
Khamenei, pemimpin spiritual bagi banyak umat Syiah, meninggal dunia pada usia 86 tahun di kompleks kediamannya di pusat ibu kota Iran pada 28 Februari, bertepatan dengan hari pertama serangan AS dan Israel.
Iran bersikeras tak akan ada negosiasi langsungSebelumnya, Iran dan AS mulai pembicaraan tidak langsung pada Rabu (1/7). Mereka dimediasi Qatar dan Pakistan di Doha. Di situ, terdapat upaya mendorong kemajuan negosiasi dan meredakan ketegangan. Terutama setelah kedua pihak saling melancarkan serangan dalam beberapa waktu terakhir.
Kedua negara sebelumnya menyatakan akan mengirim pejabat dalam perundingan. Mereka akan membahas MoU untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Namun, Iran menegaskan mereka tidak akan bernegosiasi langsung dengan AS.
Seorang diplomat yang enggan disebutkan namanya mengatakan, pembicaraan antar kedua negara sedang berlangsung. Sebelumnya, diplomat itu mengatakan AS dan Iran akan mengikuti "pembicaraan teknis tak langsung pada Rabu di Doha dengan dimediasi Qatar dan Pakistan".
Menurut diplomat tersebut, pembahasan lebih banyak berbicara teknis dan berfokus pada rincian implementasi MoU. Selain itu, mereka "melanjutkan kemajuan yang telah dicapai dalam KTT Lake Lucerne".
Sebagai informasi, bulan lalu, MoU itu disepakati dalam KTT di Lucerne, Swiss. Kesepakatan tersebut mencakup gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penentuan tenggat waktu menuju kesepakatan permanen. Semua itu dilakukan guna mengakhiri konflik dan mencapai kesepakatan soal program nuklir Iran.
Pesan publik yang berbedaKepada AFP, diplomat yang sama mengatakan, utusan AS Jared Kushner dan Steve Witkoff tidak ikut serta dalam pembicaraan teknis tersebut. Sebelumnya, pada Selasa (30/6), mereka bertemu Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani.
Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan, ketiganya membahas MoU yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, serta perkembangan situasi di Lebanon.
Peneliti nonresiden di Arab Gulf States Institute Anna Jacobs mengatakan, proses negosiasi masih berada pada tahap sangat awal. Selain itu, persaingan masih berlangsung di depan maupun balik layar.
"Salah satu hal positifnya adalah mereka tetap melanjutkan dialog setelah bentrokan pekan lalu," ujarnya.
Di sisi lain, analis Royal United Services Institute di London H.A. Hellyer menilai "kurangnya transparansi" dalam pembicaraan tersebut. Sebab, kedua pihak "menyampaikan pesan yang sangat berbeda kepada publik".
Sejak penandatanganan kesepakatan AS-Iran pada 17 Juni, kedua negara sempat saling melancarkan serangan di kawasan Teluk. Iran menyerang sebuah kapal dagang yang menyimpang di Selat Hormuz. Sebagai balasan, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah menyerang 10 target militer Iran pada akhir pekan lalu.
Iran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Kedua negara tersebut mengecam serangan Iran.
Tantangan implementasiPada Selasa (30/6), kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, "ketika perang sebesar ini berakhir, tantangan dalam pelaksanaan, berbagai insiden, dan perbedaan pendapat akan tetap ada. Terutama jika melibatkan pihak seperti rezim Israel."
Ia mengatakan, delegasi Iran di Doha akan lebih fokus pada implementasi kesepakatan yang berkaitan dengan Selat Hormuz dan konflik di Lebanon.
"Republik Islam berkomitmen memastikan kesepakatan ini dijalankan, dan pihak lawan, yaitu Amerika Serikat beserta sekutunya, juga harus memenuhi komitmen mereka," katanya.
Bentrokan antara kedua pihak tampaknya mulai mereda menjelang dimulainya pembicaraan di Qatar. Di Lebanon, pertempuran antara Israel dan Hizbullah juga relatif mereda.
Iran menegaskan setiap kesepakatan harus mencakup penghentian konflik di Lebanon. Selain itu, Israel harus menarik pasukannya dari wilayah selatan negara itu.
Ghalibaf juga mengatakan ekspor minyak Iran meningkat tajam sejak AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebelumnya, ini diberlakukan sebagai balasan atas pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran.
"Sejak blokade dicabut, kami telah mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak," katanya kepada televisi pemerintah.
"Sebaliknya, selama 50 hingga hampir 60 hari sebelumnya, kami benar-benar tidak mampu mengekspor satu barel minyak pun."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Felicia Salvina
Editor: Rizki Nugraha
width="1" height="1" />
(ita/ita)





