Grid.ID - Terungkap versi cerita kepsek soal siswa SMP tewas dibully teman di Lumajang, Jawa Timur. Korban sempat melapor sendiri ke kantor guru hingga akhirnya terjadi kesepakatan damai antara keluarga pelaku dan korban.
Dikabarkan sebelumnya, seorang siswa SMP swasta di Lumajang berinisial IL (16), meninggal dunia usai menjadi korban penganiayaan dari teman sekelasnya pada Senin (18/5/2026) lalu. Perundungan ini terjadi saat para siswa kelas 9 tengah menghadapi ujian akhir semester.
Lalu sekitar sebulan setelah perundungan tersebut, kondisi IL menurun dan akhirnya meninggal dunia pada Rabu (24/6/2026). Pelaku, teman sekelas IL berinisial D (16), telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Lumajang.
Kepala Sekolah, Yunita Wahyuningsih, buka suara terkait kronologi siswa SMP tewas dibully teman tersebut. Awalnya, korban mendatangi kantornya dan melapor bahwa dirinya telah dipukuli teman berinisial D dan A.
Mendengar pengakuan korban, Yunita kemudian mengutus wali kelas untuk memanggil kedua pelaku di ruang kelas.
"Saat itu korban IL mendatangi kantor sekolah secara mandiri. Dia mengadu kepada kami bahwa dirinya baru saja dipukul oleh dua orang temannya, yakni siswa berinisial D dan A."
"Mengetahui hal itu, saya langsung mengutus guru wali kelas untuk menjemput kedua pelaku di ruang kelas," jelas Yunita, dikutip dari Tribunnews.com.
Kemudian keesokan harinya, pihak sekolah menggelar mediasi dengan mempertemukan orangtua pelaku dan orangtua korban di sekolah. Dari mediasi tersebut, terjadi kesepakatan damai di antara kedua belah pihak.
Orangtua pelaku bersedia membayar uang ganti rugi pengobatan di Puskesmas sebesar Rp 60 ribu secara tunai. Lalu kedua belah pihak orangtua pun bersalaman dan sepakat untuk tidak membawa masalah ini ke ranah hukum.
“Dalam mediasi itu, wali murid pelaku bersedia membayar uang ganti rugi pengobatan Puskesmas tersebut secara tunai. Kedua belah pihak orang tua kemudian bersepakat damai, bersalaman, dan menyatakan tidak akan memperpanjang masalah ini ke ranah hukum,” lanjutnya.
Setelah kejadian itu, korban masuk sekolah seperti biasa hingga ujian akhir selesai. Setelah itu, semua siswa kelas 9 libur hingga waktu pengambilan SKL.
Korban Sempat Ikut Acara Kelulusan
Sebelum siswa SMP tewas dibully teman, korban, IL sempat kembali ke sekolah untuk menghadiri acara tasyakuran kelulusan sekaligus pengambilan Surat Keterangan Lulus (SKL) pada Sabtu (13/6/2026). Namun pada saat momen makan bersama, IL menolak ikut makan dengan alasan sedang alami sariawan parah.
"Anaknya datang, teman-temannya juga kumpul semua. Namun, saat momen makan bersama, anak tersebut (IL) memilih menyendiri dan menolak ikut makan. Ketika saya tanya langsung, dia beralasan sedang sariawan parah. Kami pihak sekolah mengira itu hanya sakit sariawan biasa," terang Yunita.
Pada saat itu, Yunita mengira IL hanya sariawan biasa dan tak mencurigai apapun. Namun, sekitar 10 hari kemudian, kondisi IL tiba-tiba kritis.
Korban Kritis
Pada Selasa (23/6/2026), kakak IL tiba-tiba mengabarkan bahwa kondisi korban kritis. Saat itu IL telah dilarikan ke RSUD Dr. Haryoto Lumajang.
Pihak sekolah kemudian meminta orangtua pelaku untuk mendatangi rumah sakit sekaligus membantu biaya perawatan korban. Namun orangtua pelaku justru menolak untuk membayar biaya perawatan.
Orangtua D menolak keras menandatangani surat pernyataan penjamin biaya medis korban malam itu. Mereka sama sekali tidak mau membayar biaya perawatan Rp 2 juta per malam dan berdalih harus panggil kepala desa lebih dahulu.
"Orang tua D menolak keras menandatangani surat pernyataan penjaminan biaya medis malam itu. Mereka berdalih harus memanggil kepala desa terlebih dahulu. Saya mendengar laporan mereka sama sekali tidak mau membantu dana," tuturnya.
Nahasnya, di tengah perdebatan tersebut, kondisi korban semakin drop dan akhirnya meninggal dunia di ruang ICU.
Pelaku Ditetapkan Tersangka
Baca Juga: Kronologi Siswa SMP Tewas Usai Dibully Teman di Lumajang, Korban Diduga Dianiaya hingga Sempat Kritis
Usai siswa SMP tewas dibully teman di Lumajang, pelaku D telah ditetapkan sebagai tersangka. Terduga pelaku yang telah ditetapkan sebagai tersangka baru satu orang.
"Terduga pelaku sementara satu orang diamankan oleh PPA Polres Lumajang, statusnya sudah tersangka," kata Kasi Humas Polres Lumajang, Ipda Suprapto, dikutip dari Kompas.com.
"Motifnya saat ini yang kita ketahui bullying di lingkungan sekolah," lanjutnya.
Meski pihak keluarga menyebut bahwa pelaku berjumlah dua orang, penyidik hingga saat ini masih melakukan pendalaman soal terlibatnya siswa lain.
"Untuk kemungkinan pelaku lain masih dalam penyelidikan unit PPA," tuturnya.
Kronologi perundungan ini bermula saat kedua teman korban, D dan A menegur IL karena ada sampah di loker meja korban. Namun korban tak mau membersihkan sampah tersebut dan membuat kedua temannya marah hingga menganiaya korban.
Korban diintimidasi untuk duduk di kursi yang posisinya menempel di dinding ruang kelas. Kemudian setelah korban duduk di kursi tersebut, pelaku D langsung melayangkan pukulan keras sebanyak tiga kali menggunakan kepalan tangan kanan.
Pukulan pertama diarahkan ke bagian dada korban dengan keras. Lalu pukulan kedua dan ketiga dilayangkan arah tangan dan bibir korban.
Akibat pukulan keras tersebut, tubuh IL terdorong ke belakang hingga kepala bagian belakang korban terbentur tembok. Pukulan itupun langsung membuat bibir korban robek hingga berdarah dan mengeluh pusing hebat.
Setelah kejadian tersebut, korban sempat menjalani hari-hari seperti biasa di sekolah dan menyelesaikan ujian, namun dirinya terlihat lebih lemas dan lesu. Setelah hampir sebulan, korban mengalami pendarahan pada giginya.
Keluarga kemudian membawa korban ke rumah sakit. Tak lama menjalani perawatan di rumah sakit, korban dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (24/6/2026).
Meski terdapat rentang waktu sekitar satu bulan dari perundungan hingga tewasnya IL, namun hasil visum korban menunjukkan bahwa korban meninggal akibat peristiwa tersebut. IL meninggal dunia akibat adanya luka benturan keras di kepala dan telah berlangsung dalam kurun waktu lama.
"Kalau hasil otopsi dan visum itu penyebabnya ada luka benturan di kepala dan itu keterangan dokternya sudah lama terjadi pada korban," ungkap kakak korban, Ahmad Dani. (*)
Artikel Asli




