TABLOIDBINTANG.COM - Proyek film biopik tentang Tinton Soeprapto tengah dipersiapkan setelah melalui proses pengembangan selama tiga tahun. Penulis sekaligus pembuat film Andrew James, mengatakan kisah Tinton dipilih karena memiliki nilai sejarah yang melampaui dunia balap.
"Kami di sini untuk bikin film tentang sejarah Pak Tinton and sejarah balap di Indonesia, karena Pak Tinton melambangkan perjuangan Indonesua," ujar Andrew James, di sela acara IMI Awads 2026, Rabu (1/7).
Film ini akan mengangkat perjalanan hidup Tinton mulai latar belakang keluarganya yang erat dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Ayah Tinton diketahui merupakan salah satu perwira penting dalam organisasi Pembela Tanah Air (PETA), yang kemudian menjadi bagian dari cikal bakal Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Melalui cerita tersebut, tim produksi ingin menunjukkan bahwa keberhasilan Tinton di dunia balap tidak terlepas dari semangat perjuangan yang diwariskan keluarganya. Nilai itu kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya, termasuk Ananda Mikola dan Moreno Soeprapto yang juga dikenal sebagai pembalap.
Untuk menghadirkan cerita yang kuat, tim produksi melakukan riset mendalam selama tiga tahun. Proses tersebut mencakup pengumpulan data sejarah, penyusunan naskah, hingga pengembangan konsep agar tetap akurat dan memiliki kualitas sinematik berstandar internasional.
Sutradara dan produser Hollywood, Tom Sebastian, turut bergabung dalam proyek ini. Menurutnya, Tinton merupakan sosok yang dekat dengan masyarakat dan memiliki karakter yang layak diangkat ke layar lebar.
"Dia orang yang bisa bergaul dengan siapa saja, dia orang biasa, dia bukan seorang politikus," kata Tom Sebastian.
Saat ini, tim produksi juga tengah menyempurnakan teaser yang nantinya digunakan untuk memperkenalkan proyek tersebut kepada investor internasional dan pemerintah Indonesia. Hingga kini, teaser tersebut telah mengalami tiga kali revisi guna memperkuat penyampaian pesan visual dan emosional.
Selain mengandalkan cerita fiksi, film ini juga akan memanfaatkan arsip sejarah, termasuk rekaman dokumentasi dari masa PETA yang diharapkan dapat memperkuat unsur edukasi dalam film.
Memasuki tahap produksi, sejumlah pengambilan gambar telah dilakukan di Sirkuit Internasional Sentul dan Museum PETA di Bogor. Selanjutnya, tim dijadwalkan melanjutkan proses syuting di Mandalika pada Oktober mendatang bersama Ananda Mikola




