Bisnis.com, JAKARTA — Musim kemarau berpotensi menekan produksi padi di sejumlah sentra pangan nasional hingga Agustus 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan realisasi produksi masih sangat bergantung pada perkembangan curah hujan sehingga risiko kekeringan dapat mengubah proyeksi panen dalam beberapa bulan ke depan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, angka potensi produksi yang dipublikasikan masih bersifat dinamis karena dipengaruhi kondisi pertanaman selama Mei hingga Agustus.
"Tinggi rendahnya curah hujan akan memengaruhi budidaya tanaman padi pada setiap wilayah sehingga angka potensi masih bisa berubah sepanjang Mei sampai Agustus," ujarnya dalam rilis data BPS Juli 2026, Rabu (1/7/2026).
Selain cuaca, perubahan proyeksi juga dipengaruhi kemungkinan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, kekeringan, maupun perubahan waktu panen oleh petani.
"Proyeksi produksi padi pada periode Januari–Agustus masih akan dipengaruhi adanya musibah maupun serangan OPT yang mungkin terjadi. Jika ada hambatan, akan tecermin dalam hasil amatan KSA [kerangka sampel area] pada bulan-bulan berikutnya," kata Ateng.
Berdasarkan proyeksi BPS, beberapa provinsi diperkirakan mencatat penurunan produksi beras dibandingkan periode Januari–Agustus 2025. Penurunan terbesar diproyeksikan terjadi di Sumatra Utara sebesar 212.011 ton, disusul Jawa Barat sebanyak 174.297 ton dan Aceh sebesar 114.490 ton.
Selanjutnya, produksi beras di Kalimantan Barat diperkirakan turun 35.491 ton, Sumatra Barat 34.532 ton, Sulawesi Tenggara 25.094 ton, Papua Selatan 24.293 ton, Jambi 10.190 ton, Nusa Tenggara Timur 9.121 ton, dan Maluku Utara 1.339 ton.
Secara nasional, luas panen padi pada Mei 2026 tercatat 0,96 juta hektare atau turun 2,35% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produksi gabah kering panen (GKP) mencapai 5,87 juta ton, turun 3,31% secara tahunan, sedangkan produksi gabah kering giling (GKG) tercatat 4,92 juta ton atau turun 3,43%.
Adapun, produksi beras untuk konsumsi masyarakat pada Mei diperkirakan mencapai 2,84 juta ton, turun 3,43% dibandingkan Mei 2025.
Meski demikian, BPS masih memperkirakan luas panen pada Juni–Agustus 2026 mencapai 2,88 juta hektare atau meningkat sekitar 1,38% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi proyeksi tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan cuaca selama puncak musim kemarau.
Berikut ini wilayah yang diproyeksikan akan mengalami penurunan produksi beras paling besar untuk periode panen Januari-Agustus 2026:• Sumatra Utara: -212.011 ton
• Jawa Barat: -174.297 ton
• Aceh: -114.490 ton
• Kalimantan Barat: -35.491 ton
• Sumatra Barat: -34.532 ton
• Sulawesi Tenggara: -25.094 ton
• Papua Selatan: -24.293 ton
• Jambi: -10.190 ton
• Nusa Tenggara Timur: -9.121 ton
• Maluku Utara: -1.339 ton





