Grid.ID - Bupati Purwakarta dikecam publik gegara lagu yang ia ciptakan. Hal itu sampai mengundang reaksi Atalia Praratya.
Ya, Bupati Purwakarta dikecam keras oleh publik. Hal itu lantaran dirinya menciptakan sebuah lagu yang berjudul "Lalaki Langit Lalanang Bejad".
Pasalnya, lagu itu dianggap merendahkan martabat perempuan. Bahkan, dikutip dari TibunnewsBogor pada Rabu (2/7/2026), anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya pun sampai melayangkan protes.
Berikut ini lirik lagu dari "Lalaki Langit Lalanang Bejad" yang diciptakan oleh Om Zein. Lagu ini menggunakan bahasa Sunda.
Nuhun GustiTos nyiptakeun kuring jadi lalakicacak mun jadi awewees em pe kelas tilu tos karuron tujuh kali
Nuhun GustiTos nyiptakeun kuring jadi lalakiteu kudu meuli kutangnu busana leuwih gede batan susu
Nuhun GustiTos nyiptakeun kuring jadi lalakiteu kudu ngaprak-ngaprak apotekalaten telat bulan
Nuhun GustiTos nyiptakeun kuring jadi lalaki teu kudu ngalukis halis jeung bulu matasakalina ngiceup hese beunta
Lalaki langitLalanang bejad
Terjemahan bahasa Indonesia
Terima kasih TuhanSudah menciptakan aku jadi laki-lakiAndai saja jadi perempuanSMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali
Terima kasih TuhanSudah menciptakan aku jadi laki-lakiTidak usah membeli brayang busanya lebih besar daripada payudara
Terima kasih TuhanSudah menciptakan aku jadi laki-lakiTidak usah keluyuran mencari apotekkarena telat bulan (datang bulan)
Terima kasih TuhanSudah menciptakan aku jadi laki-lakiTidak usah melukis alis dan bulu matayang sekali berkedip susah melek
Lirik lagu itu pun dinilai merendahkan martabat perempuan. Tak heran jika Bupati Purwakarta dikecam publik.
Tak hanya itu, dalam unggahan Atalia Praratya, ia mempertanyakan keseriusan lagu tersebut sebagai sebuah karya seni.
"Serius ini karya?" tulisnya.
Dirinya mengaku sudah sangat berusaha untuk berpikir positif terhadap pemilihan diksi di dalam lagu tersebut. Namun, mantan istri Ridwan Kamil ini merasa lagu ini tidak menghormati perempuan sama sekali.
"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan." tulisnya.
Ibu 2 orang anak ini juga merasa bingung, mengapa Bupati Purwakarta justru memilih kata yang tak pantas alih-alih menggunakan kata dari Bahasa Sunda yang memiliki makna dalam.
"Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah... Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan... Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?" tanyanya.
Dirinya pun mengecam keras apa yang dilakukan oleh Bupati Purwakarta dengan membuat lagu tersebut. Ia menuliskan bahwa tidak ada budaya yang mengajarkan untuk menertawakan beban perempuan.
"Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," lanjutnya.
Atalia Praratya juga mempertanyakan mengapa lagu yang tak pantas ini justru dibuat oleh seorang kepala daerah. Di mana seharusnya, kepala daerah justru memberikan contoh untuk masyarakatnya dengan baik.
"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah? Bagaimana menurut kalian? Atalia Praratya, Saya perempuan," pungkasnya. (*)
Artikel Asli




