Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi optimistis pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6% secara tahunan pada kuartal I/2026 dapat memacu pertumbuhan dunia usaha.
Dirinya memahami bahwa saat ini dinamika perekonomian global sangat penuh dengan tantangan (challenging). Terutama dipicu oleh tensi dari perang antara Iran dan Amerika, yang membuat situasi ekonomi menjadi sangat dinamis dan penuh tantangan.
“Namun demikian kami percaya dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di 5,6% ya. Kemudian, berbagai hal yang kita lihat diharapkan bisa memacu pertumbuhan dunia usaha dan bisa terus bertahan, bahkan bertumbuh dengan baik di dunia ke depan,” ujarnya seusai menghadiri acara Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2026 di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Lebih lanjut, Kiki, sapaan akrabnya, berpesan kepada para perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk tidak hanya mengejar keuntungan di hari ini atau short term profit.
“Tetapi selalu ingat bahwa keberlanjutan ke depan ada di tangan kita hari ini untuk terus mengedepankan integritas dan tata kelola manajemen risiko,” tegasnya.
Adapun, dalam sambutannya di acara Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2026, Kiki mengatakan di tengah berbagai tantangan dan dinamika ekonomi yang ada, sektor jasa keuangan tetap masih menunjukkan kinerja yang solid dan terjaga.
Baca Juga
- OJK Ingatkan Pentingnya Ekonomi Hijau di BIA 2026
- OJK Umumkan 'Perang' Terhadap Pinjaman Ilegal Hingga Investasi Ilegal
- Ketua OJK: Mayoritas Catatan MSCI terhadap Pasar Modal Indonesia Sudah Diselesaikan
Hal tersebut dapat terlihat dari kredit perbankan yang tumbuh signifikan di angka 11,51% year on year per Mei 2026, yang sebelumnya adalah 9,98%, dengan tingkat risiko yang terjaga yaitu NPL di 2,17%. Permodalan juga kuat dengan CAR 23,78% dan likuiditas yang memadai di mana AL/DPK 24,74%, sementara AL/NCD 108,2%.
Kemudian, piutang pembiayaan yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan juga masih tumbuh positif. Di sisi perasuransian, rasio likuiditas, profitabilitas, dan solvabilitas masih berada di level yang memadai. Bahkan, pembiayaan digital melalui Buy Now Pay Later (BNPL) dan pinjaman daring (pindar) juga mengalami pertumbuhan.
“BNPL kan ada dua, BNPL itu bisa di-support dari sisi perbankan maupun dari perusahaan pembiayaan. Kalau kita lihat BNPL dari perbankan itu 30,14 triliun, tumbuh hampir 40% year on year, dengan jumlah rekening sudah mencapai 32,54 juta,”.
Kemudian, lanjutnya, BNPL yang didorong dari perusahaan pembiayaan adalah 13,18 triliun, tumbuhnya 53%, dengan jumlah rekening mencapai 23,99 juta. Adapun, pinjaman daring (pindar) juga tumbuh 25,6%.





