Monolog Hening Angkat Isu Teman Tuli, Dorong Inklusi Lewat Seni Teater

harianfajar
9 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR- Lebih dari 22 juta penyandang disabilitas di Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan dalam mengakses pendidikan, ketenagakerjaan, dan kebudayaan. Khususnya bagi Teman Tuli, partisipasi mereka dalam angkatan kerja dan pendidikan menengah hingga tinggi masih sangat minim. Menyikapi hal ini, Monolog Hening hadir sebagai program seni teater yang mengangkat suara dan identitas budaya Teman Tuli melalui pertunjukan monolog dan diskusi publik.

Monolog Hening bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah upaya memperluas ruang partisipasi penyandang disabilitas, khususnya Teman Tuli, dalam kehidupan budaya dan seni. Program ini menampilkan kisah, perasaan, serta pandangan Teman Tuli yang disampaikan melalui gerak tubuh, ekspresi wajah, dan Bahasa Isyarat, yang menjadi identitas komunikasi mereka.

Muh. Imran, inisiator sekaligus sutradara Monolog Hening, menegaskan bahwa pertunjukan ini ingin menunjukkan bahwa Tuli bukan hanya kondisi perbedaan pendengaran, melainkan sebuah identitas budaya yang kaya dan layak dihargai.

“Monolog Hening menyajikan kisah Teman Tuli menghadapi stigma sosial dengan cara yang autentik melalui Bahasa Isyarat dan ekspresi visual,” jelasnya saat ditemui di Makassar.

Rangkaian kegiatan Monolog Hening melibatkan kolaborasi antara SLB Negeri 1 Makassar, Teman Tuli, seniman, pemerhati isu disabilitas, akademisi, dan pemerintah. Program ini terdiri dari pertunjukan monolog dan sesi diskusi publik yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 15 Juli 2026 di SLB Negeri 1 Makassar.

Jadwal sesi pertama dimulai pukul 09.00 WITA dengan pertunjukan Monolog “Nadi”, dilanjutkan diskusi publik pukul 10.00 WITA. Sesi kedua kembali menghadirkan pertunjukan pada pukul 16.00 WITA dan diskusi publik pada pukul 17.00 WITA.

Sementara itu, Sukarno Hatta selaku manajer produksi menyampaikan bahwa Monolog Hening bertujuan menumbuhkan kesadaran publik bahwa Bahasa Isyarat adalah bagian dari identitas budaya yang sah dan mengajak masyarakat merayakan ekspresi nonverbal sebagai bentuk seni yang inklusif.

“Program ini memperkuat kolaborasi lintas sektor dan memperluas praktik seni yang lebih inklusif,” pungkas Sukarno Hatta.

Monolog Hening merupakan co-production Kala Teater yang didukung oleh berbagai pihak, antara lain Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, LPDP, SLB Negeri 1 Makassar, Meditatif Films, Aruwa Studio, Sanggar Seni Sipakainge, serta sejumlah toko dan komunitas lokal.

Tim kreatif yang terlibat terdiri dari Muh. Imran sebagai inisiator dan sutradara, Nirwana Aprianty sebagai penulis naskah, Shinta Febriany sebagai dramaturg, dan Sukarno Hatta sebagai manajer produksi. Selain itu, terdapat aktor, manajer panggung, manajer keuangan, manajer publikasi, serta penata artistik, grafis, cahaya, rias dan kostum, musik, multimedia, fotografer, juru bahasa isyarat, staf produksi, dan kru panggung yang turut mendukung kelancaran program ini. (*/)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PT HD Arjuna Tegaskan Miliki Tiga Sertifikat HGB Sah Terkait Lahan Kedoya Selatan
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
Mentan tegaskan bersama Papua bangun pertanian berbasis potensi lokal
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Pembalap Indonesia Avila Bahar Menangi Race 1 dan Race 2 MTCC 2026 di Sirkuit Sepang | KOMPAS PAGI
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Roy Suryo Datang Sidang Praperadilan dr Tifa: Itu Sangat Menguntungkan Bagi Kami
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Geng Motor Brutal Bersenjata Serang 2 Pemuda di Maros Terekam CCTV, Pelaku Diburu Polisi
• 13 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.