Jakarta: Pemerintah bersiap melakukan akselerasi masif untuk meratakan kualitas pendidikan di wilayah terluar pada paruh anggaran 2026. Fokus kebijakan digitalisasi pembelajaran dipastikan bergeser ke kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) setelah program tersebut sukses menembus 288.865 satuan pendidikan di seluruh Indonesia sepanjang 2025.
"Program ini telah menjangkau ratusan ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia," kata Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, dalam konferensi pers Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di Kantor Bakom RI, Jakarta, dilansir Antara, Kamis, 2 Juli 2026.
Baca Juga :
98% Siswa Disebut Mudah Memahami Pelajaran lewat Papan Interaktif DigitalQodari menjelaskan, berdasarkan data komparatif dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), intervensi digital pada 2025 telah mendistribusikan paket Papan Interaktif Digital (PID), laptop, hingga hard disk eksternal ke ratusan ribu sekolah. Selain itu, ada 8.265 sekolah yang mendapat akses internet baru, 2.389 sekolah menerima sokongan listrik, serta 33.156 guru yang tuntas mengikuti pelatihan digital.
Khusus di klaster wilayah 3T, program ini diklaim sudah menjangkau 13.838 sekolah dari berbagai jenjang. Di wilayah rawan isolasi tersebut, pemerintah tercatat telah menyalurkan pasokan listrik untuk 49 sekolah, mengalirkan layanan internet ke 4.316 sekolah, serta memasok 30.285 unit laptop dan perangkat penyimpanan data penunjang materi visual.
Kendati realisasi fisiknya cukup tinggi, Qodari mengakui bahwa eksekusi di lapangan masih dihantui oleh berbagai kendala klasik. Mulai dari keterbatasan pasokan daya listrik, konektivitas sinyal internet yang tidak stabil, tantangan kondisi geografis yang ekstrem, hingga tingkat kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang belum merata.
Ilustrasi. Foto: Dok. Antara.
Guna memitigasi celah tersebut, arah kebijakan pada tahun 2026 sengaja diubah agar bantuan tidak mandek menjadi barang mati di ruang kelas akibat ketiadaan daya penunjang. Pemerintah akan mengombinasikan kelanjutan pengadaan PID dengan penguatan fondasi utilitas utama secara simultan.
"Oleh karena itu, arah digitalisasi pembelajaran pada 2026 tidak hanya berfokus pada penambahan perangkat, tetapi juga memperkuat infrastruktur listrik dan internet," ucap Qodari.




