Membaca Peluang Pemulihan Ekspor Besi-Baja RI di Paruh Kedua 2026

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Ekspor besi dan baja belum mampu keluar dari tekanan pada awal 2026 meski tetap menjadi salah satu andalan ekspor nonmigas Indonesia. peluang pemulihan pada semester II/2026 masih terbuka apabila permintaan dari pasar utama mulai membaik dan tekanan biaya industri mereda.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan besi dan baja masih menjadi tiga besar komoditas nonmigas unggulan dengan kontribusi 10,37% terhadap total nilai ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari—Mei 2026. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, kontribusi sektor besi dan baja hanya berada di bawah lemak dan minyak nabati/hewani (12,76%) serta bahan bakar mineral (11,96%) pada segmen nonmigas.

Namun, kontribusi tersebut dibayangi penurunan volume maupun nilai ekspor.  Ateng memaparkan volume ekspor besi dan baja mencapai 8,89 juta ton pada Januari—Mei 2026, turun 5,58% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 9,42 juta ton.

"Sementara itu, nilai ekspor untuk besi-baja tersebut turun 1,61% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$11,42 miliar pada Januari-Mei 2026, dari US$11,61 miliar pada periode yang sama tahun lalu," katanya dalam Konferensi Pers di Gedung BPS, Jakarta, dikutip Kamis (2/7/2026).

Secara terperinci, nilai ekspor besi dan baja pada Mei 2026 adalah sebesar US$2,39 miliar. Jumlah tersebut menurun dibandingkan perolehan pada April 2026 lalu senilai US$2,50 miliar.

Baca Juga

  • Ekspor Batu Bara dan Besi Baja Loyo, CPO Masih Moncer
  • Ekspor RI Mei 2026 Turun 5,73%, Emas hingga Besi Baja Jadi Biang Kerok
  • Purbaya Sidak Perusahaan Baja China di Pulogadung, Diduga Hindari Pajak

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, tekanan terhadap ekspor besi dan baja berasal dari kombinasi faktor eksternal dan persoalan struktural domestik yang belum terselesaikan.

Dari sisi global, industri baja masih dibayangi kelebihan kapasitas produksi yang membuat pasokan melimpah dan harga berada dalam tekanan. Situasi tersebut diperparah oleh meningkatnya proteksionisme di sejumlah negara tujuan ekspor utama.

Amerika Serikat menaikkan tarif impor baja melalui kebijakan Section 232. Uni Eropa juga memperketat mekanisme safeguard dengan memangkas kuota impor dan menaikkan tarif di luar kuota.

Pada saat yang sama, Indonesia menghadapi hambatan dagang yang lebih spesifik. China memperpanjang bea antidumping terhadap billet dan pelat baja nirkarat asal Indonesia, sementara Uni Eropa mengenakan bea antidumping terhadap sebagian produk baja nirkarat yang diproduksi di dalam negeri.

"Kondisi ini mempersempit akses pasar sekaligus menekan daya saing ekspor nasional," jelasnya.

Yusuf menilai akar persoalan terletak pada struktur ekspor besi dan baja Indonesia yang masih terkonsentrasi pada sedikit pasar tujuan dan didominasi produk setengah jadi berbasis nikel.

Ketergantungan yang tinggi terhadap pasar China membuat kinerja ekspor rentan ketika negara tersebut menerapkan kebijakan perdagangan yang lebih protektif. Risiko yang sama juga muncul ketika pasar lain, seperti Uni Eropa, memperketat perlindungan terhadap industri domestiknya.

“Selama struktur ekspor belum lebih terdiversifikasi dan nilai tambah produk masih terbatas, tekanan serupa berpotensi terus berulang,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, peluang pemulihan ekspor besi dan baja pada semester II/2026 masih terbuka. Meski demikian, pemulihan tersebut dinilai hanya berlangsung terbatas seiring belum pulihnya permintaan global dan masih tingginya tekanan biaya yang dihadapi industri.

Josua mengatakan, pelemahan ekspor besi dan baja pada awal 2026 belum mencerminkan hilangnya daya saing industri nasional secara permanen. Namun, arah pemulihan ke depan akan sangat ditentukan oleh kondisi pasar global, terutama dari negara-negara tujuan utama ekspor Indonesia.

“Peluang pemulihan pada semester II 2026 tetap ada, tetapi saya menilai pemulihannya akan bertahap dan tidak otomatis kuat,” kata Josua.

Menurutnya, sejumlah faktor berpotensi menopang perbaikan kinerja perdagangan pada paruh kedua tahun ini. Harga minyak dunia mulai terkoreksi pada Juni setelah sempat meningkat, sehingga tekanan impor migas berpeluang mereda. Selain itu, defisit perdagangan yang terjadi pada Mei dinilai lebih disebabkan oleh lonjakan impor yang bersifat sementara.

Dia menjelaskan, pemulihan ekspor besi dan baja akan sangat bergantung pada membaiknya permintaan dari China, India, dan negara-negara Asean, serta perkembangan proyek infrastruktur global yang menjadi penyerap utama produk baja.

Selain faktor permintaan, pergerakan harga baja dunia, stabilitas nilai tukar rupiah, biaya energi, dan kemampuan produsen menjaga volume penjualan tanpa menggerus margin juga menjadi penentu utama.

Josua mengingatkan bahwa sinyal pelemahan pesanan ekspor manufaktur yang masih terlihat pada data Juni menjadi indikasi bahwa pemulihan sektor manufaktur belum sepenuhnya solid.

Menurutnya, upaya mendorong pemulihan tidak cukup hanya melalui peningkatan produksi. Pemerintah perlu memperkuat daya saing industri dari sisi hulu hingga hilir agar produk nasional mampu bersaing di pasar internasional.

Langkah tersebut antara lain melalui penyediaan energi yang lebih kompetitif, baik gas maupun listrik, perbaikan efisiensi pelabuhan dan logistik, serta kepastian pasokan bahan baku bagi industri.

Di sisi lain, dukungan pembiayaan ekspor dan fasilitas lindung nilai dinilai penting untuk membantu eksportir menghadapi volatilitas pasar global dan pergerakan nilai tukar.

Josua juga menekankan pentingnya diversifikasi pasar ekspor guna mengurangi ketergantungan terhadap China. Pemerintah dinilai perlu memperluas penetrasi pasar ke India, Asean, Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Eropa melalui penguatan diplomasi perdagangan dan pembukaan hambatan akses pasar.

Selain itu, industri perlu didorong untuk meningkatkan porsi produk bernilai tambah lebih tinggi dibanding hanya mengandalkan ekspor produk setengah jadi.

“Pemulihan ekspor perlu diarahkan ke produk bernilai tambah lebih tinggi, bukan hanya mengejar volume bahan setengah jadi, karena volume besar dengan margin tipis akan rentan setiap kali harga global turun atau biaya energi naik,” katanya.

Josua menilai industri besi dan baja Indonesia saat ini memasuki fase persaingan yang lebih ketat di pasar global. Oleh karena itu, keberhasilan menekan biaya logistik dan energi serta memperkuat akses pasar akan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan ekspor.

Nilai Ekspor Besi Baja Januari–Mei 2026 Bulan Nilai Ekspor (US$ miliar) Januari 2026 2,120 Februari 2026 2,055 Maret 2026 2,354 April 2026 2,503 Mei 2026 2,390 Kumulatif Jan–Mei 2026 11,424

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Respon Ruben Onsu Usai Resmi Layangkan Gugatan Hak Asuh Anak ke Sarwendah
• 12 jam lalucumicumi.com
thumb
Stok Minim dan Harga Beras Mahal, Di mana Cadangan 5 Juta Ton?
• 10 jam lalukompas.id
thumb
Metro TV dan Kementerian UMKM Bersinergi Dorong UMKM Naik Kelas
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dirjen Pas Sebut Overcrowding Lapas Tingkatkan Risiko Penularan HIV dan IMS
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
IHSG Sesi 1 Menguat 1,7% ke 5.792, Tertinggi di Bursa Asia
• 17 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.