Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai rencana ekspor beras ke Singapura berpeluang menyerap surplus produksi domestik sekaligus memperkuat kerja sama pangan dan ketahanan pasok kedua negara.
Menurut Esther, prospek kerja sama pangan antara Indonesia dan Singapura sangat strategis karena memberikan manfaat bagi kedua negara melalui penguatan perdagangan, ketahanan pasok, serta pemanfaatan kelebihan produksi nasional.
"Prospek kerja sama pangan Indonesia dan Singapura sangat strategis dan menjanjikan. Bagi Indonesia, ini menjadi solusi tepat untuk menyerap surplus produksi domestik," kata Esther dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.
Pernyataan Esther disampaikan sebagai tanggapan atas rencana pemerintah melalui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menawarkan ekspor beras ke pemerintah Singapura.
Baca juga: Mentan: Swasembada pangan kokoh seiring produksi beras 25,28 juta ton
"Sementara bagi Singapura, kolaborasi ini memperkuat diversifikasi rantai pasok untuk memenuhi ketergantungan impor pangan mereka," ujarnya.
Meski demikian, Esther mengingatkan Indonesia perlu mempersiapkan strategi ekspor secara matang mengingat persaingan harga di pasar internasional, kelebihan pasokan global, serta tuntutan kualitas beras yang tinggi.
Ia menjelaskan mayoritas stok beras pemerintah masih berupa beras medium, sementara pasar ekspor tertentu cenderung membutuhkan beras premium sehingga peningkatan mutu menjadi langkah penting memperkuat daya saing nasional.
Esther juga menilai capaian swasembada saat ini merupakan kemajuan positif, meskipun masih berfokus pada komoditas beras dan perlu diperluas menuju kemandirian kedelai, jagung pakan, serta daging sapi.
Di sisi lain, harga beras di tingkat konsumen masih menghadapi tantangan akibat rantai distribusi, biaya logistik, dan pengaruh cuaca ekstrem yang mendorong inflasi dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, swasembada yang telah dicapai saat ini berlaku untuk beras konsumsi umum, sedangkan beras khusus seperti Basmati dan Japonica masih dipenuhi melalui impor sesuai kebutuhan industri.
Karena itu, Esther berpandangan rencana ekspor beras ke Singapura memiliki prospek yang baik sepanjang dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kecukupan pasokan domestik, peningkatan kualitas, serta keberlanjutan ketahanan pangan nasional.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menawarkan ekspor 10 ribu ton beras ke Singapura seiring stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai 5,1 juta ton.
Baca juga: KTNA dukung rencana ekspor beras ke Singapura demi jaga nilai panen
Mentan membahas peluang ekspor 10 ribu ton beras Indonesia ke Singapura sebagai langkah memperkuat kerja sama pangan kedua negara.
Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (29/6).
Menurut Esther, prospek kerja sama pangan antara Indonesia dan Singapura sangat strategis karena memberikan manfaat bagi kedua negara melalui penguatan perdagangan, ketahanan pasok, serta pemanfaatan kelebihan produksi nasional.
"Prospek kerja sama pangan Indonesia dan Singapura sangat strategis dan menjanjikan. Bagi Indonesia, ini menjadi solusi tepat untuk menyerap surplus produksi domestik," kata Esther dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.
Pernyataan Esther disampaikan sebagai tanggapan atas rencana pemerintah melalui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menawarkan ekspor beras ke pemerintah Singapura.
Baca juga: Mentan: Swasembada pangan kokoh seiring produksi beras 25,28 juta ton
"Sementara bagi Singapura, kolaborasi ini memperkuat diversifikasi rantai pasok untuk memenuhi ketergantungan impor pangan mereka," ujarnya.
Meski demikian, Esther mengingatkan Indonesia perlu mempersiapkan strategi ekspor secara matang mengingat persaingan harga di pasar internasional, kelebihan pasokan global, serta tuntutan kualitas beras yang tinggi.
Ia menjelaskan mayoritas stok beras pemerintah masih berupa beras medium, sementara pasar ekspor tertentu cenderung membutuhkan beras premium sehingga peningkatan mutu menjadi langkah penting memperkuat daya saing nasional.
Esther juga menilai capaian swasembada saat ini merupakan kemajuan positif, meskipun masih berfokus pada komoditas beras dan perlu diperluas menuju kemandirian kedelai, jagung pakan, serta daging sapi.
Di sisi lain, harga beras di tingkat konsumen masih menghadapi tantangan akibat rantai distribusi, biaya logistik, dan pengaruh cuaca ekstrem yang mendorong inflasi dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, swasembada yang telah dicapai saat ini berlaku untuk beras konsumsi umum, sedangkan beras khusus seperti Basmati dan Japonica masih dipenuhi melalui impor sesuai kebutuhan industri.
Karena itu, Esther berpandangan rencana ekspor beras ke Singapura memiliki prospek yang baik sepanjang dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kecukupan pasokan domestik, peningkatan kualitas, serta keberlanjutan ketahanan pangan nasional.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menawarkan ekspor 10 ribu ton beras ke Singapura seiring stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai 5,1 juta ton.
Baca juga: KTNA dukung rencana ekspor beras ke Singapura demi jaga nilai panen
Mentan membahas peluang ekspor 10 ribu ton beras Indonesia ke Singapura sebagai langkah memperkuat kerja sama pangan kedua negara.
Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (29/6).




