Bandara kerap disebut sebagai ”etalase” sebuah negara. Di tempat inilah kesan pertama terbentuk, ketika wisatawan, pebisnis, ataupun tamu internasional tiba atau meninggalkan suatu negara. Sebagai sebuah etalase, tentu bandara diharapkan memberi kesan yang mendalam bagi pengunjungnya. Di sisi lain, bandara juga menjadi ruang yang merepresentasikan identitas, budaya, serta peradaban sebagai sebuah bangsa.
Menjawab tantangan tersebut, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney), holding BUMN di sektor aviasi dan pariwisata, melakukan sejumlah perubahan dalam pengelolaan bandara di Indonesia.
Dari 37 bandara yang berada dalam pengelolaan InJourney, pembenahan dimulai dari dua pintu utama Indonesia, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, dan Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali.
Di Soekarno-Hatta, salah satu titik penting transformasi itu adalah Terminal 1C. Proses revitalisasi yang meliputi penataan ruang dan fasilitas tersebut selesai pada Agustus 2025. Perubahan desain dilakukan untuk mengembalikan keunikan arsitektur yang selama ini menjadi ciri khas.
Terminal 1C kembali beroperasi secara penuh pascarevitalisasi pada November 2025. Perubahan yang dilakukan tidak sekadar membuat terminal tampak baru.
Ornamen-ornamen yang menjadi ciri khas di Terminal 1 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Lampu gantung dan arsitektur berbentuk pendopo. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Bata merah terakota. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Ada upaya untuk menghidupkan kembali karakter arsitektur yang melekat sejak awal pembangunannya. Ornamen unik seperti bata merah terakota dan lampu gantung dipertahankan dan dipoles agar semakin menarik. Elemen-elemen itu menjadi bagian dari identitas Terminal 1 dan Terminal 2 yang dirancang arsitek asal Perancis, Paul Andreu.
Direktur Utama InJourney Maya Watono dalam perbincangan dengan Kompas pada awal Juni 2026 mengatakan, revitalisasi Terminal 1C merupakan upaya mengembalikan desain awal dan karakter asli bangunan tersebut.
”Bata merah yang sempat ditutup karpet kini dibuka sehingga jadi asli lagi. Bata merah itu asli, bagus sekali. Pernah menang Aga Khan Award tahun 1995,” ujar Maya.
Terminal 1 dan Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta memang memiliki nilai sejarah arsitektur tersendiri. Rancangan Paul Andreu tersebut mendapatkan Aga Khan Award for Architecture pada 1995, penghargaan internasional yang diberikan pada karya-karya yang dianggap mampu menghadirkan standar baru dalam arsitektur, perencanaan, pelestarian sejarah, dan arsitektur lanskap.
Aga Khan Award for Architecture telah diperkenalkan sejak 1977. Inisiatornya adalah Aga Khan IV yang lahir di Swiss dan menjadi pengusaha terkenal di dunia.
Pembenahan dengan tetap mengedepankan elemen budaya dan tata ruang baru itu bertujuan untuk menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman bagi para penumpang pesawat udara.
Terminal 1C yang saat ini digunakan untuk jadwal penerbangan maskapai Citilink dilengkapi 40 konter pelaporan (check-in counter) serta tujuh konveyor bagasi. Sistem pemeriksaan keamanan juga berubah. Jika sebelumnya penumpang terpusat pada satu titik pemeriksaan utama, kini security checkpoint ditempatkan di setiap pintu keberangkatan. Pola desentralisasi tersebut membuat alur penumpang lebih tersebar sehingga mengurangi potensi antrean panjang penumpang.
Transformasi Terminal 1C juga menjadi bagian dari strategi meningkatkan kapasitas Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Setelah penataan zonasi terminal, kapasitas pelayanan bandara meningkat dari 56 juta penumpang menjadi 86 juta penumpang per tahun.
Peningkatan kualitas layanan itu memperkuat posisi Soekarno-Hatta di tingkat global. Dalam daftar World Airport Awards yang dirilis Skytrax pada Maret 2026, bandara ini berada di peringkat ke-22 dunia. InJourney menargetkan, dalam tiga tahun ke depan, tepatnya pada 2029, Bandara Internasional Soekarno-Hatta dapat menembus jajaran 10 besar bandara terbaik dunia.




