IDN Global Satukan Diaspora Perkuat Strategi Mitigasi Bencana di Indonesia

metrotvnews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir 2025 menjadi pengingat bahwa upaya pengurangan risiko bencana membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Tidak hanya berfokus pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi juga memperkuat pencegahan melalui pengelolaan lingkungan, pemanfaatan ilmu pengetahuan, dan pelestarian kearifan lokal.

Semangat tersebut menjadi tema utama dalam Webinar Internasional bertajuk Pembelajaran Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Aceh: Strategi Mitigasi Berbasis Pengelolaan Lingkungan Global dan Kearifan Lokal yang diselenggarakan oleh Indonesian Diaspora Network (IDN) Global, Diaspora Global Aceh (DGA), Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Jakarta, dan Ikatan Alumni Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (ILUNI SIL UI).

President IDN Global, Nathalia Widjaja, menilai diaspora Indonesia memiliki peran penting dalam menjembatani pengalaman internasional dengan kebutuhan pembangunan nasional, khususnya menghadapi tantangan perubahan iklim dan meningkatnya bencana hidrometeorologi.

"Diaspora tidak hanya dapat berkontribusi melalui jejaring internasional, tetapi juga melalui transfer ilmu pengetahuan, teknologi, pengalaman profesional, dan praktik-praktik terbaik yang diperoleh dari berbagai negara," kata Nathalia dalam keterangan pers dikutip, Kamis, 2 Juli 2026.

Baca Juga :

BPBD Aceh Besar Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem
 
 
Nathalia menjelaskan kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah, serta Pemerintah Kota Subulussalam.

Webinar tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian menuju Focus Group Discussion (FGD) Ketahanan Pangan, Energi, dan Air yang akan diselenggarakan ILUNI SIL UI bersama IDN Global pada 28 Juli 2026.

Ketua ILUNI Sekolah Ilmu Lingkungan UI, Andre Noto Hamijoyo, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana harus menjadi momentum memperkuat kapasitas masyarakat dan tata kelola lingkungan, bukan sekadar membangun kembali infrastruktur yang rusak.

Menurutnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, organisasi profesi, masyarakat, dan diaspora menjadi fondasi penting dalam menciptakan solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko bencana.

Baca Juga :

104 Huntap Korban Banjir di Aceh Utara Telah Dihuni Penyintas
 
 
Diskusi yang dipandu Fachruddin Tukuboya mengajak peserta melihat bencana dari perspektif yang lebih komprehensif. Ia menjelaskan bahwa banjir dan tanah longsor merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari perubahan tata guna lahan, degradasi kawasan hutan, hingga berkurangnya keseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan.

Karena itu, strategi mitigasi dinilai perlu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Kondisi Kabupaten Pidie Jaya pascabencana. Foto: Metrotvnews.com/ Fajri Fatmawati.


Sebagai pembicara utama, Ketua Umum DPP Diaspora Global Aceh, Mustafa Abubakar, mengajak seluruh pemangku kepentingan membangun paradigma baru dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan Aceh.

Ia menilai kekayaan sumber daya alam Aceh harus dikelola secara bertanggung jawab melalui penguatan tata kelola lingkungan, penegakan hukum, serta pelibatan masyarakat dan lembaga adat. Diaspora Aceh, menurutnya, siap menjadi mitra strategis pemerintah melalui pengembangan riset, jejaring internasional, dan transfer pengetahuan. Berbagai perspektif internasional memperkaya diskusi
Galih Dinanta, kandidat doktor di McGill University, Kanada, membagikan pengalaman Kanada dalam mengelola kawasan hutan secara berkelanjutan sebagai bagian dari mitigasi banjir dan longsor. Menurutnya, hutan berfungsi sebagai infrastruktur alami yang mampu menjaga keseimbangan tata air sekaligus meningkatkan ketahanan wilayah terhadap dampak perubahan iklim.

Sementara Kepala Kajian Mineral Industri dan Pertambangan Rakyat/Skala Kecil PERHAPI, M. Arif Syahrijal, menjelaskan praktik pertambangan yang menerapkan prinsip Good Mining Practice dapat berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan melalui reklamasi, rehabilitasi lahan, konservasi sumber daya, hingga pemberdayaan masyarakat.

Pengalaman Selandia Baru disampaikan Vice President Human Capital IDN Global sekaligus Sekretaris Jenderal Diaspora Global Aceh, Surya Darma. Ia memperkenalkan konsep kaitiakitanga, filosofi masyarakat Maori yang menempatkan manusia sebagai penjaga alam demi keberlanjutan generasi mendatang.

Menurutnya, pendekatan tersebut relevan diterapkan di Indonesia melalui penguatan partisipasi masyarakat, penghormatan terhadap budaya lokal, serta penegakan hukum dalam pengelolaan sumber daya alam.

Dari sisi teknis, Mundzir Basri, Technical Director Hydrogeology Modeling AtkinsRéalis, menekankan pentingnya analisis akar penyebab bencana (root cause analysis) melalui pemodelan hidrologi, analisis daerah aliran sungai, data curah hujan, dan teknologi pemodelan modern sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Ia menilai investasi pada riset dan data merupakan langkah strategis yang mampu menghasilkan solusi mitigasi yang lebih efektif dalam jangka panjang.

Sementara President Director Jakarta Rescue Training Centre, Yudosubroto, mengingatkan kesiapsiagaan masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana. Pelatihan relawan, simulasi evakuasi, dan koordinasi antarlembaga dinilai mampu memperkecil risiko korban jiwa ketika bencana terjadi.

Melengkapi diskusi, Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), Yusri Yusuf, menegaskan Aceh memiliki warisan kearifan lokal yang selama ini menjaga keseimbangan lingkungan melalui lembaga adat seperti Panglima Uteun, Panglima Laot, dan Keujruen Blang.

Menurutnya, penguatan kelembagaan adat layak menjadi bagian dari strategi mitigasi nasional karena telah terbukti membantu menjaga kelestarian hutan, kawasan pesisir, dan lahan pertanian sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat.

Melalui kolaborasi lintas sektor dan lintas negara tersebut, para peserta berharap upaya mitigasi bencana di Indonesia semakin mengedepankan keseimbangan antara ilmu pengetahuan, tata kelola lingkungan, serta nilai-nilai budaya lokal sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sebut IKN Tidak Cocok Jadi Pusat Finansial Internasional, Purbaya: Terlalu Sepi
• 17 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
11 Rusun Baru Disiapkan, Pramono Bidik Pengantin Baru
• 23 jam laluliputan6.com
thumb
PT Garam Siap Wujudkan Swasembada Garam Lewat K-SIGN di NTT
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Viral Tapir Melintas di Jalan Raya Mesuji Lampung, BKSDA Lakukan Penelusuran
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Melalui Program CSR Fiber Academy, Telkom Akses Tingkatkan Kompetensi SDM Digital di Wilayah 3T
• 21 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.