Apakah Matcha Dapat Meredakan Alergi? Tidak Cocok untuk Semua Orang

erabaru.net
8 jam lalu
Cover Berita

Sains memang mendukung manfaat matcha untuk alergi, tetapi minuman ini dapat memperburuk kondisi pada orang yang sensitif terhadap kafein, memiliki masalah pencernaan, atau menderita kondisi medis tertentu.

Musim alergi datang setiap tahun dengan gejala yang sama-sama mengganggu: bersin-bersin, kulit gatal, dan mata berair. Dalam beberapa tahun terakhir, beredar klaim di internet bahwa minum matcha dapat membantu meredakan reaksi alergi. Gagasan ini pun menarik semakin banyak pengikut.

Mengapa Matcha Lebih Kuat Dibandingkan Teh Hijau Biasa

Teh hijau biasa dibuat dengan menyeduh daun teh dalam air panas, lalu daunnya dibuang. Sebaliknya, matcha dibuat dengan menggiling seluruh daun teh kering menjadi bubuk halus, kemudian bubuk tersebut dikocok langsung ke dalam air. Dengan kata lain, Anda mengonsumsi seluruh daun teh. Akibatnya, setiap senyawa yang dihasilkan tanaman teh hadir dalam konsentrasi yang jauh lebih tinggi di dalam minuman jadi.

Ketika tubuh bertemu dengan alergen—seperti serbuk sari, debu, atau bulu hewan peliharaan—sistem kekebalan dapat bereaksi berlebihan dengan melepaskan histamin, yaitu zat kimia yang menyebabkan pembengkakan, rasa gatal, dan hidung berair. Matcha mengandung antioksidan kuat bernama EGCG (epigallocatechin gallate) yang dalam berbagai penelitian laboratorium terbukti dapat menekan reaksi berlebihan tersebut, sehingga mengurangi peradangan dan jumlah histamin yang dilepaskan tubuh.

Matcha juga mengandung vitamin C dan vitamin E yang membantu menjaga kesehatan lapisan hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan—garis pertahanan pertama tubuh terhadap alergen yang terbawa udara. 

Selain itu, matcha mengandung theanine, senyawa alami yang hampir hanya ditemukan pada tanaman teh. Theanine memiliki efek menenangkan ringan pada sistem saraf. Bagi orang yang mengalami kecemasan atau kelelahan akibat alergi kronis, manfaat ini bisa terasa nyata meskipun tidak terlalu besar.

Cara Mengonsumsi Matcha Agar Mendapatkan Manfaat Maksimal

Sebagian besar minuman matcha komersial, termasuk matcha latte yang dijual di jaringan kedai kopi dan berbagai hidangan penutup rasa matcha di kafe, mengandung gula tambahan dan krimer susu dalam jumlah cukup banyak. Konsumsi gula berlebihan dapat memicu peradangan di seluruh tubuh, yang justru berlawanan dengan tujuan orang yang ingin meredakan alergi. Bentuk matcha yang digunakan dalam penelitian umumnya adalah bubuk matcha murni tanpa pemanis yang dicampur dengan air atau susu.

Suhu air juga memengaruhi hasil akhir minuman. Para ahli teh umumnya merekomendasikan air bersuhu sekitar 80°C. Air yang terlalu panas dapat merusak vitamin C dan menarik keluar terlalu banyak tanin, yaitu senyawa pahit yang membuat teh terasa keras dan membuat mulut terasa kering. Sebaliknya, jika air terlalu dingin, senyawa-senyawa penting dalam matcha tidak larut secara optimal. Perbedaan ini memengaruhi baik rasa maupun jumlah zat aktif yang dapat diserap tubuh.

Untuk tujuan kesehatan umum, konsumsi satu hingga dua cangkir per hari, atau sekitar 300 hingga 500 mililiter, dianggap jumlah yang wajar. Penelitian menunjukkan bahwa manfaat matcha lebih berkaitan dengan konsumsi rutin selama beberapa minggu, bukan dengan mengonsumsi dalam jumlah besar saat gejala alergi baru mulai muncul.

Siapa yang Sebaiknya Menghindari Matcha dan Mengapa 1. Orang yang Sensitif terhadap Kafein

Matcha mengandung lebih banyak kafein daripada yang diperkirakan banyak orang. Karena seluruh daun teh dikonsumsi, kandungan kafeinnya per sajian lebih tinggi dibandingkan secangkir teh hijau seduh biasa, bahkan dapat mendekati kandungan kafein dalam satu shot espresso.

Bagi orang yang biasanya mengalami jantung berdebar, gemetar, gangguan tidur, atau kecemasan berlebihan setelah mengonsumsi kafein, matcha bukanlah pengganti obat alergi yang baik. Sebaliknya, minuman ini justru dapat memperparah ketidaknyamanan yang dirasakan.

2. Orang yang Memiliki Masalah Pencernaan

Penelitian Barat menunjukkan bahwa senyawa pahit dalam matcha dapat mengiritasi lambung dan memicu peradangan pada lapisan saluran pencernaan.

Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT), yang menilai kesehatan berdasarkan pengaruh makanan terhadap kehangatan dan energi tubuh, juga sampai pada kesimpulan serupa. Dalam PTT, teh yang tidak difermentasi dikategorikan sebagai bahan yang bersifat dingin dan pahit, sehingga dapat melemahkan sistem pencernaan pada orang yang memang sudah memiliki lambung sensitif.

Orang yang sering mengalami refluks asam lambung, tukak lambung, mual saat minum teh ketika perut kosong, atau diare kronis perlu berhati-hati. Hal yang sama berlaku bagi mereka yang mudah merasa kedinginan, cepat lelah, dan memiliki pencernaan yang lambat. Pada kelompok ini, konsumsi matcha dalam jumlah besar dapat memperburuk masalah pencernaan.

3. Pengguna Obat Pengencer Darah

Matcha merupakan sumber vitamin K yang kaya, sementara vitamin K berperan dalam proses pembekuan darah.

Hal ini dapat secara langsung mengganggu efektivitas obat pengencer darah seperti warfarin, yang sering diresepkan bagi pasien dengan gangguan irama jantung, kondisi jantung tertentu, atau riwayat pembekuan darah.

Konsumsi matcha secara teratur dapat mengurangi efektivitas obat tersebut dan meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah. Oleh karena itu, siapa pun yang menggunakan obat pengencer darah sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menambahkan matcha ke dalam pola makan mereka.

4. Orang dengan Kadar Zat Besi Rendah

Senyawa yang membuat matcha efektif melawan peradangan juga dapat menghambat penyerapan zat besi dari makanan.

Dalam kondisi normal saja, zat besi dari sumber nabati, telur, dan produk susu lebih sulit diserap tubuh dibandingkan zat besi dari daging. Matcha membuat proses penyerapan tersebut menjadi lebih sulit lagi.

Bagi orang yang memiliki kadar zat besi rendah atau sedang mengonsumsi suplemen zat besi, minum matcha segera setelah makan dapat secara signifikan mengurangi jumlah zat besi yang diserap dari makanan tersebut. 

Menunggu setidaknya satu jam setelah makan sebelum minum matcha merupakan langkah pencegahan minimal. Namun, selama masa konsumsi suplemen zat besi secara aktif, menghindari matcha sama sekali merupakan pilihan yang lebih aman.

Oleh Xin Lai, Vision Times


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Implementasi Potongan 8 Persen Dimulai, Garda Indonesia Sebut Pendapatan Ojol Belum Naik Signifikan
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pelni angkut 335 ribu ton batu bara dukung pasokan energi nasional
• 57 menit laluantaranews.com
thumb
Satgas Operasi Damai Cartenz Selidiki Pesawat Terbakar di Yahukimo, Besok Tim Berangkat ke Lokasi
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Di Era Ketidakpastian, Insight Lebih Berharga daripada Sekadar Modal
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Hadir Kembali, Mandiri Donor Darah Gerakkan 280 Pendonor di 12 Region: Satu Langkah Darimu, Sejuta Harapan Untuknya
• 9 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.