Grid.ID - Dua orang remaja di Wonosobo dilaporkan hilang. Kejadian tersebut berawal dari mendaki ke Gunung Bismo tanpa izin orang tua.
Dua remaja yang bertetangga asal Desa Krinjing, Kecamatan Watumalang, dilaporkan hilang misterius setelah nekat pergi tidak izin ke orang tua mereka untuk mendaki kawasan Gunung Bismo sejak Selasa lalu.
Berikut kronologi 2 remaja di Wonosobo hilang. Kejadian tersebut berawal dari mendaki ke Gunung Bismo tanpa izin orang tua.
Memasuki hari ketiga pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan (SAR), keberadaan kedua korban masih belum berhasil ditemukan. Kondisi ini membuat tim gabungan bersama BASARNAS memperluas area penyisiran hingga ke jalur-jalur kecil di kawasan perbukitan.
Berdasarkan laporan Relawan Penanggulangan Bencana (RPB) Kecamatan Watumalang, kedua remaja tersebut diketahui meninggalkan rumah pada Selasa (30/6/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.
Informasi terakhir yang diterima pihak keluarga menyebutkan keduanya diduga mendaki Gunung Bismo melalui jalur Krinjing. Hingga Kamis (2/7/2026), keberadaan mereka masih belum diketahui.
Camat Watumalang, Arief Hardiyanto, menyampaikan bahwa laporan awal terkait hilangnya kedua remaja tersebut diterima setelah mereka tidak kembali ke rumah sesuai waktu yang diperkirakan.
"Jadi awal laporan terduga anak ini pada 30 Juni 2026 pukul 12.00 meninggalkan rumah," kata Arief Hardiyanto, Kamis (2/7/2026), dikutip dari TribunJateng.com.
Ia menjelaskan, sebelumnya sempat beredar informasi dari warga yang mengaku melihat salah satu anak berada di area sekitar jembatan yang terletak di bawah desa. Namun setelah dilakukan penelusuran di lokasi tersebut, kedua remaja itu tidak lagi ditemukan.
Sejak laporan pertama diterima, proses pencarian langsung dilakukan oleh warga bersama unsur pemerintah dan aparat keamanan setempat. Tim kemudian menyisir berbagai titik yang diduga menjadi lintasan yang dilalui kedua remaja tersebut.
Menurut Arief, hingga memasuki hari ketiga, upaya pencarian masih belum membuahkan hasil.
"Namun hingga saat sore ini, pada jam ini belum ditemukan di posisi mana pun," jelasnya.
Berdasarkan keterangan Camat Watumalang, dua remaja yang tengah dicari diketahui merupakan warga yang tinggal saling berdekatan. Ia menjelaskan, keduanya adalah Arifin Nurohmat (18) dan Yufaidin (15), yang berasal dari Desa Krinjing, Kecamatan Watumalang.
"Yang bersangkutan dua orang ini bertetangga," lanjutnya.
Arief juga menambahkan bahwa kedua remaja tersebut meninggalkan rumah tanpa terlebih dahulu memberi kabar kepada pihak keluarga.
"Ketika keluar dari rumah, dia tidak izin ke orang tuanya untuk pergi ke mana," sebutnya.
Upaya pencarian dibagi ke dalam tujuh Search and Rescue Unit (SRU) yang bertugas menyusuri sejumlah lokasi yang diduga menjadi titik keberadaan korban. Hingga operasi pencarian terakhir, seluruh tim belum menemukan jejak maupun petunjuk terkait keberadaan kedua remaja tersebut.
Guna memperkuat proses pencarian, Pemerintah Kecamatan Watumalang telah melakukan koordinasi dengan BASARNAS. Arief menyampaikan bahwa tim Basarnas sudah tiba di lokasi dan langsung melakukan asesmen lapangan sebagai dasar penyusunan strategi pencarian selanjutnya.
Ia menambahkan, hasil dari asesmen tersebut akan dijadikan pedoman dalam pelaksanaan operasi pencarian tahap berikutnya.
"Basarnas sudah melakukan asesmen ke lapangan dan masih kita tunggu hasilnya bagaimana," imbuhnya.
Hingga berita ini ditulis, proses pencarian terhadap kedua remaja masih terus berlangsung dengan melibatkan tim gabungan dari berbagai unsur. Aparat berharap keberadaan keduanya dapat segera diketahui sehingga dapat dipastikan kondisi mereka secepat mungkin.
Berita Lain
Sebanyak empat pendaki remaja ditemukan dalam kondisi lemah di kawasan lereng Gunung Maras, Riau Silip, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Sebelumnya, para remaja tersebut dilaporkan hilang pada Minggu (28/6/2026) saat berupaya menuju lokasi air terjun Meruyan yang berada di tengah kawasan hutan lebat.
Dalam proses pencarian, tim gabungan mengerahkan teknologi komunikasi satelit Starlink serta drone pendeteksi panas tubuh untuk mempercepat penelusuran.
Kepala Kantor BASARNAS Pangkalpinang, Mikel Rachman Junika, menjelaskan bahwa para pendaki berhasil ditemukan dalam kondisi lemas, dengan salah satu di antaranya mengalami cedera pada bagian kaki.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan awal di lokasi penemuan, tiga ditemukan dalam kondisi lemas akibat kelelahan. Sementara itu, satu korban lainnya dilaporkan mengalami cedera pada bagian ekstremitas bawah sebelah kanan (kaki)," kata Mikel, Selasa (30/6/2026), dikutip dari Kompas.com.
Para pendaki berhasil ditemukan pada Senin (29/6/2026) malam setelah tim SAR Indonesia memperkuat proses penyisiran bersama warga sekitar. Keempat remaja tersebut diketahui bernama Boma (15), Nabil (15), Keanu (15), dan Aufa (15).
Kondisi mereka terungkap setelah salah satu pendaki sempat menghubungi pihak keluarga dan melaporkan bahwa mereka tersesat serta tidak menemukan jalur untuk kembali. Mikel Rachman Junika menyampaikan bahwa proses evakuasi segera dilakukan tak lama setelah para pendaki berhasil ditemukan.
Tiga korban yang dalam kondisi lemah dievakuasi ke posko Air Terjun Meruyan, sementara satu korban yang mengalami cedera mendapatkan penanganan lanjutan. Evakuasi tambahan dilakukan pada pukul 06.30 WIB sebelum korban dibawa ke Puskesmas Riau Silip untuk perawatan medis lebih lanjut.
"Tim membagi kekuatan menjadi tiga SRU begitu tiba di lokasi pada Minggu malam pukul 22.56 WIB. Penelusuran dilakukan secara maraton melewati tiga posko pendakian hingga akhirnya para tim SAR Gabungan yang dibantu warga berhasil menemukan mereka menjelang subuh," ucap Mikel.
Selain faktor kelelahan, para pendaki juga diduga mengalami hipotermia atau penurunan suhu tubuh yang signifikan. Mereka diketahui tidak membawa perlengkapan maupun logistik yang memadai untuk aktivitas pendakian atau mountaineering.
Operasi pencarian dan penyelamatan melibatkan kerja sama lintas instansi, mulai dari rescuer Kantor SAR Pangkalpinang, Polsek Riau Silip, BPBD Kabupaten Bangka, Babinsa Berbura, Puskesmas Riau Silip, BKSDA, Saka SAR, Laskar Sekaban, tim pengelola Manjang Merah, pengelola Bukit Maras, hingga pihak keluarga korban.
Berbagai perangkat teknologi modern seperti drone termal dan jaringan Starlink juga dikerahkan untuk mendukung komunikasi serta pemantauan di lapangan. Setelah seluruh pendaki berhasil ditemukan dan dievakuasi ke fasilitas kesehatan, operasi SAR resmi dihentikan usai pelaksanaan debriefing pada pukul 09.46 WIB.
"Mewakili unsur pimpinan, apresiasi setinggi-tingginya diberikan kepada seluruh unsur potensi SAR gabungan yang telah berjibaku. Seluruh unsur kini telah dikembalikan ke kesatuannya masing-masing," ucap Mikel. (*)
Artikel Asli




