Moskow Bergetar! Ukraina Diduga Luncurkan Rudal Balistik FP-9, Rusia Langsung Hujani Kyiv dengan Rudal

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Pada 2 Juli, Ukraina melancarkan serangan udara berskala besar menggunakan kawanan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah wilayah Rusia. Sasaran serangan dilaporkan mencakup kawasan sekitar Moskow, Nizhny Novgorod, beberapa wilayah di Rusia bagian selatan, serta Semenanjung Krimea yang sejak 2014 berada di bawah kendali Rusia.

Gelombang serangan tersebut menjadi salah satu operasi drone terbesar yang dilakukan Ukraina dalam beberapa waktu terakhir. Tujuannya diyakini untuk menekan kemampuan pertahanan udara Rusia sekaligus menunjukkan bahwa wilayah yang jauh dari garis depan perang pun tetap berada dalam jangkauan serangan Ukraina.

Sebagai respons, militer Rusia segera melancarkan serangan balasan dengan mengerahkan sejumlah besar drone tempur serta rudal jelajah ke berbagai sasaran di ibu kota Ukraina, Kyiv. Sirene peringatan serangan udara kembali berbunyi di hampir seluruh wilayah kota, memaksa warga sipil menghentikan aktivitas dan mencari perlindungan.

Ukraina Diduga Pertama Kali Menggunakan Rudal Balistik Buatan Dalam Negeri

Perkembangan yang paling menyita perhatian pada hari itu adalah munculnya berbagai laporan yang menyebut bahwa Ukraina untuk pertama kalinya menggunakan rudal balistik hasil pengembangan dalam negeri untuk menyerang wilayah Rusia.

Menurut sejumlah laporan yang beredar, rudal tersebut menghantam kawasan yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Lapangan Merah (Red Square) di Moskow. Lokasi jatuhnya rudal disebut berada di Desa Yudanovka, yang terletak tidak jauh dari ibu kota Rusia.

Beberapa hari sebelumnya, pemerintah Ukraina telah mengumumkan bahwa rudal balistik generasi terbaru mereka yang diberi nama FP-9 telah memasuki tahap akhir pengembangan dan dalam waktu dekat akan menjalani uji coba peluncuran.

Namun, berbagai indikasi yang muncul pada 2 Juli memunculkan dugaan bahwa rudal tersebut tidak lagi sekadar diuji, melainkan telah langsung digunakan dalam operasi tempur terhadap sasaran di wilayah Rusia.

Meski demikian, hingga kini pemerintah Ukraina belum memberikan konfirmasi resmi mengenai penggunaan rudal tersebut dalam serangan ke Moskow, sehingga informasi tersebut masih menjadi bagian dari laporan yang belum dapat diverifikasi secara independen.

Spesifikasi Rudal FP-9 Menjadi Sorotan

Apabila laporan tersebut benar, maka FP-9 akan menjadi salah satu rudal balistik paling penting yang pernah dikembangkan Ukraina sejak perang dimulai.

Berdasarkan informasi yang beredar, rudal FP-9 diperkirakan memiliki jangkauan tembak setidaknya 855 kilometer, sehingga memungkinkan Ukraina menyerang sasaran strategis jauh di dalam wilayah Rusia tanpa harus mendekati garis depan.

Rudal ini juga dikabarkan membawa hulu ledak seberat sekitar 800 kilogram. Apabila angka tersebut akurat, maka bobot hulu ledaknya hampir dua kali lebih besar dibandingkan hulu ledak rudal balistik Iskander yang selama ini menjadi salah satu andalan militer Rusia.

Selain daya ledaknya yang besar, kecepatan FP-9 juga menjadi perhatian para analis militer. Rudal tersebut disebut mampu mencapai kawasan Moskow hanya dalam waktu sekitar tiga menit setelah diluncurkan dari wilayah Ukraina.

Kecepatan seperti itu akan memberikan waktu yang sangat terbatas bagi sistem pertahanan udara Rusia untuk mendeteksi, melacak, dan mencegat rudal sebelum mencapai sasaran.

Tidak hanya cepat, rudal ini juga diklaim memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Berdasarkan data yang beredar, lebih dari 50 persen rudal yang ditembakkan mampu menghantam dalam radius sekitar 20 meter dari titik koordinat sasaran yang telah ditentukan.

Apabila kemampuan tersebut terbukti benar, maka FP-9 berpotensi menjadi salah satu senjata strategis baru Ukraina yang dapat memberikan tekanan serius terhadap pertahanan Rusia.

Analisis dan Reaksi Pengamat

Kemunculan rudal FP-9 segera memicu berbagai tanggapan dari kalangan pengamat militer maupun pengguna media sosial.

Seorang pengguna platform X, misalnya, berpendapat bahwa apabila Ukraina berhasil memproduksi rudal tersebut secara massal dan kemudian meluncurkannya secara berulang ke arah Moskow, pemerintah Presiden Vladimir Putin akan menghadapi tantangan pertahanan yang jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya.

Menurut pendapat tersebut, kombinasi antara kecepatan tinggi, daya ledak besar, dan akurasi yang baik dapat meningkatkan tekanan terhadap sistem pertahanan udara Rusia, khususnya jika rudal digunakan dalam jumlah besar secara bersamaan.

Namun demikian, penilaian tersebut masih bersifat opini dan belum didukung oleh bukti operasional yang dapat diverifikasi.

Rusia Mengklaim Berhasil Mencegat Rudal Ukraina

Di sisi lain, pemerintah Rusia menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sebuah rudal balistik jarak pendek hingga menengah yang diluncurkan Ukraina.

Sejumlah foto dan rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan objek yang diklaim sebagai proses intersepsi rudal oleh sistem pertahanan udara S-300 dan S-400 di langit wilayah Rusia.

Beberapa saksi mata juga mengaku melihat ledakan di udara yang diduga merupakan hasil pencegatan rudal tersebut.

Meski demikian, baik klaim Rusia mengenai keberhasilan intersepsi maupun laporan mengenai penggunaan rudal FP-9 oleh Ukraina hingga kini belum memperoleh verifikasi independen dari lembaga internasional ataupun sumber terbuka yang dapat dipastikan keakuratannya.

Rusia Membalas dengan Serangan Rudal Jelajah ke Kyiv

Tidak lama setelah serangan Ukraina berlangsung, Rusia melancarkan operasi balasan terhadap ibu kota Ukraina.

Pasukan Penerbangan Strategis Rusia menembakkan sejumlah rudal jelajah menuju berbagai sasaran di Kyiv, sementara drone serang juga kembali diterbangkan ke wilayah tersebut.

Sirene serangan udara terus berbunyi selama beberapa waktu, memaksa ribuan warga sipil segera mencari tempat perlindungan.

Banyak warga memilih berlindung di jaringan Metro Kyiv, yang sejak awal perang telah difungsikan sebagai bunker darurat karena berada jauh di bawah permukaan tanah. Sebagian warga bahkan turun ke bagian terdalam stasiun untuk mengurangi risiko terkena dampak ledakan.

Dalam salah satu serangan, sebuah gedung apartemen setinggi sembilan lantai dilaporkan runtuh setelah terkena hantaman rudal Rusia.

Tim penyelamat segera dikerahkan ke lokasi untuk melakukan pencarian dan evakuasi. Hingga proses penyelamatan berlangsung, sejumlah penghuni dilaporkan masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan, sementara alat berat terus digunakan untuk menyingkirkan puing-puing.

Perang Drone Mendorong Perlombaan Pengembangan Senjata Anti-Drone

Perkembangan konflik Rusia–Ukraina juga memperlihatkan bahwa drone kini telah menjadi salah satu senjata paling dominan di medan perang modern.

Penggunaan drone secara masif oleh kedua belah pihak mendorong berbagai negara, terutama Amerika Serikat, mempercepat pengembangan teknologi untuk menghadapi ancaman tersebut.

Sejumlah perusahaan pertahanan dan produsen amunisi di Amerika Serikat saat ini tengah mempercepat produksi berbagai sistem anti-drone yang dirancang untuk menghadapi pesawat nirawak berukuran kecil.

Salah satu teknologi yang sedang dikembangkan adalah amunisi multi-proyektil (multi-projectile ammunition), yaitu peluru khusus yang ketika ditembakkan akan menyebarkan sejumlah proyektil kecil sehingga memiliki peluang lebih besar untuk menghancurkan drone yang bergerak cepat.

Menurut perwakilan salah satu kontraktor pertahanan, tujuan utama pengembangan teknologi tersebut adalah menciptakan amunisi yang dapat langsung digunakan pada sistem senjata yang telah dimiliki militer saat ini.

Dengan pendekatan tersebut, pasukan tidak perlu mengganti platform persenjataan yang sudah ada, sehingga kemampuan menghadapi ancaman drone dapat ditingkatkan dalam waktu yang lebih singkat dan dengan biaya yang lebih efisien.

Saat Ini Masih Diprioritaskan untuk Pengguna Resmi

Perusahaan tersebut menjelaskan bahwa hingga saat ini amunisi anti-drone yang mereka produksi hanya dipasok kepada lembaga yang telah memperoleh otorisasi resmi.

Pihak-pihak yang berhak menerima pasokan tersebut meliputi:

Meski demikian, perusahaan tidak menutup kemungkinan bahwa pada masa mendatang sistem persenjataan tersebut juga akan disalurkan sebagai bagian dari paket bantuan militer kepada negara-negara sahabat yang menghadapi ancaman serangan drone.

Eskalasi Konflik Memasuki Fase Baru

Rangkaian peristiwa pada 2 Juli menunjukkan bahwa perang Rusia–Ukraina terus berkembang ke arah yang semakin kompleks. Selain meningkatnya intensitas serangan drone dan rudal, munculnya laporan mengenai penggunaan rudal balistik buatan Ukraina menandai kemungkinan dimulainya fase baru dalam perlombaan teknologi persenjataan antara kedua negara.

Meskipun sebagian informasi mengenai penggunaan rudal FP-9 maupun keberhasilan intersepsi Rusia masih belum dapat diverifikasi secara independen, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kedua pihak terus meningkatkan kemampuan serang jarak jauh sekaligus memperkuat sistem pertahanan udara mereka.

Di saat yang sama, pengalaman di medan perang Ukraina telah mendorong negara-negara Barat untuk mempercepat pengembangan teknologi anti-drone, yang kini dipandang sebagai salah satu elemen paling menentukan dalam peperangan modern.  (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bobol Rumah, Maling di Karawang Babak Belur Diamuk Massa
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bulan Kelahiran yang Punya Kreativitas Tinggi
• 4 jam lalubeautynesia.id
thumb
Swiss Hajar Aljazair 2-0, Menanti Lawan di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Portugal vs Kroasia Jadi Sorotan, Tiga Laga Babak 32 Besar Digelar Mulai Jumat Dini Hari WIB
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Taylor Swift-Travis Kelce diperkirakan menikah dalam pekan ini
• 10 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.