PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menggandeng PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) untuk mengembangkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di kawasan operasional perseroan.
Kerja sama ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang menjadi bagian dari upaya mempercepat transisi energi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan pascatambang.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan kolaborasi PTBA dan Pertamina NRE jadi langkah strategis perusahaan dalam memperkuat portofolio energi baru terbarukan (EBT) sesuai arah transformasi bisnis perusahaan.
"Sinergi ini menjadi milestone strategis bagi PTBA dalam percepatan transformasi bisnis energi, penguatan portofolio EBT, dan peningkatan kontribusi pendapatan energi masa depan," ujar Bambang, dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (3/7).
Menurut Bambang, sebagai perusahaan energi, PTBA tak hanya berfokus pada upaya menekan emisi karbon, tetapi juga memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki melalui inovasi dan penguasaan teknologi.
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, menilai teknologi menjadi kunci dalam mewujudkan masa depan energi yang berkelanjutan tanpa mengorbankan ketahanan energi maupun pertumbuhan ekonomi.
"Kita juga terus mengembangkan energi baru dan terbarukan sebagai bagian dari portofolio energi masa depan Indonesia. Semangat tersebut sejalan dengan transformasi yang sedang dijalankan PTBA," kata Turino.
Selain mengembangkan proyek hilirisasi batu bara seperti Coal to DME, Synthetic Natural Gas (SNG), dan Kalium Humat, PTBA juga terus memperluas bisnis energi baru terbarukan.
Hingga saat ini, total kapasitas portofolio PLTS perseroan telah mencapai 1,2 megawatt peak (MWp). Perseroan berharap pengembangan bisnis energi bersih bisa menjadi pendorong penurunan emisi sekaligus membuka peluang memperoleh pendanaan hijau (green funding) untuk proyek-proyek hilirisasi di masa depan.
Turino melanjutkan, kerja sama dengan Pertamina NRE membuka peluang besar untuk mengoptimalkan aset berupa lahan pascatambang yang selama ini telah direklamasi menjadi lokasi pembangunan PLTS maupun proyek energi terbarukan lainnya.
Dia menjelaskan, salah satu tantangan utama dalam pengembangan PLTS ialah ketersediaan lahan. Namun, PTBA memiliki ribuan hektare lahan pascatambang yang telah direklamasi dan dinilai potensial untuk dikembangkan menjadi pusat energi hijau.
"Kami ada ribuan hektar, mungkin yang awal saya dengar dari teman-teman kami punya lebih dari 250 Ha lahan pascatambang yang siap untuk digunakan," tuturnya.





