EtIndonesia.com Pada 1 hingga 2 Juli malam, Rusia melancarkan gelombang baru serangan udara berskala besar terhadap Kyiv dan sejumlah kota lain di Ukraina. Rudal dan drone serang diluncurkan secara beruntun, menyebabkan ledakan keras berkali-kali mengguncang ibu kota. Kebakaran besar sempat melanda kawasan pusat kota.
Menurut laporan The Kyiv Independent, sekitar pukul 21.40 waktu setempat pada Rabu malam, suara ledakan mulai terdengar di Kyiv bersamaan dengan bunyi sirine serangan udara.
Kepala Administrasi Militer Kota Kyiv, Tymur Tkachenko, mengatakan bahwa pasukan pertahanan udara sedang mencegat drone Rusia di pinggiran ibu kota. Ia juga memperingatkan bahwa dalam beberapa hari ke depan Rusia kemungkinan masih akan melancarkan serangan gabungan menggunakan rudal dan drone.
Pada sekitar 00.45 dini hari, pihak berwenang kembali mengeluarkan peringatan mengenai ancaman rudal balistik terhadap Kyiv. Sekitar setengah jam kemudian, Angkatan Udara Ukraina juga mengeluarkan peringatan serupa.
Berdasarkan data pemantauan terbuka, Rusia mengerahkan hingga 10 pesawat pengebom strategis dalam operasi tersebut.
Seorang wartawan The Kyiv Independent melaporkan bahwa sebelum pukul 02.00 dini hari, ledakan-ledakan dahsyat terus mengguncang Kyiv. Angkatan Udara Ukraina menyatakan bahwa rudal-rudal Rusia sedang mengarah ke Kyiv dan sejumlah kota lainnya. Bahkan warga yang berlindung di bunker bawah tanah masih dapat merasakan getaran kuat akibat ledakan tersebut.
Tkachenko mengatakan bahwa drone Rusia mendekati Kyiv dari hampir semua arah.
Serangan tersebut merusak sejumlah bangunan tempat tinggal serta menyebabkan warga sipil dan petugas penyelamat terluka. Kawasan yang mengalami kerusakan paling parah berada di pusat kota, tempat museum, universitas, dan kawasan permukiman saling berdekatan.
Selama serangan udara berlangsung, banyak warga membawa kantong tidur dan hewan peliharaan mereka ke stasiun metro untuk berlindung dan menghabiskan malam di bawah tanah.
Selain Kyiv, ledakan juga dilaporkan terjadi di:
- Zaporizhzhia
- Pavlohrad, wilayah Dnipropetrovsk
- Sumy
- Kharkiv
Menurut informasi sementara, serangan di wilayah Kharkiv menewaskan seorang remaja berusia 15 tahun dan melukai 32 orang.
Sementara itu, di Kyiv sedikitnya lima tenaga medis dilaporkan mengalami luka-luka. Jumlah korban secara keseluruhan masih terus didata.
The Kyiv Independent menyebut bahwa gelombang serangan ini kemungkinan merupakan salah satu serangan udara terbesar sejak pecahnya perang skala penuh antara Rusia dan Ukraina.
Di sisi lain, Ukraina dalam beberapa waktu terakhir juga terus menggunakan drone jarak jauh untuk menyerang Moskow, berbagai fasilitas energi Rusia, serta sasaran militer di Krimea. Langkah tersebut bertujuan membawa dampak perang ke wilayah Rusia agar Moskow terdorong menerima perundingan gencatan senjata.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin masih ingin melanjutkan perang. Menurutnya, hanya dengan membuat Rusia menanggung biaya yang tidak mampu ditanggung lagi, Putin mungkin akan dipaksa menghentikan peperangan. (***)





