Meski Menurun, Kasus Bullying di Jakarta Disebut Masih Gunung Es

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Angka kasus perundungan atau bullying terhadap anak di Jakarta memang menunjukkan penurunan.

Data Unit Pelaksana Teknis Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPPA) Provinsi DKI Jakarta mencatat, pada 2024 terdapat 55 anak korban perundungan.

Sementara itu, sepanjang 2025 hingga 12 Desember, jumlahnya turun menjadi 37 anak.

Meski demikian, penurunan jumlah laporan belum bisa diartikan bahwa persoalan bullying telah mereda. Sebab, masih banyak kasus yang tidak pernah sampai ke meja pengaduan.

Baca juga: Korban Bullying Tak Selalu Lebam, Luka Mental Sering Tak Terlihat

Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, menyebut perundungan terhadap anak masih menyerupai fenomena gunung es.

“Peristiwa perundungan dan kekerasan terhadap anak, baik di lingkungan pendidikan, sosial, maupun keluarga terjadi seperti fenomena gunung es yang hanya muncul sebagian kecil saja ke permukaan. Namun, masih banyak korban pada peristiwa perundungan lainnya yang tidak diketahui oleh banyak pihak,” ujar Dwi Oktavia dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Jumat (3/7/2026).

Artinya, angka yang tercatat belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Banyak korban memilih diam karena takut, malu, atau khawatir mendapat stigma dari lingkungan sekitar.

Berdasarkan laporan yang masuk ke Dinas PPAPP sepanjang 2024-2025, bentuk perundungan yang paling banyak terjadi justru berupa kekerasan psikis.

Baca juga: Di Balik Speech Delay, Perjuangan Anak Menghadapi Bullying dan Stigma Lingkungan

Data menunjukkan terdapat 87 kasus perundungan psikis dan 60 kasus perundungan fisik.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa bullying tidak selalu hadir dalam bentuk pukulan atau kekerasan fisik.

Ejekan, pengucilan sosial, hingga intimidasi verbal justru menjadi bentuk yang paling sering dialami korban.

Menurut Dwi, dampak perundungan psikis sering kali lebih sulit dikenali karena luka yang ditimbulkan tidak tampak secara kasatmata.

“Secara umum, peristiwa perundungan dapat menimbulkan dampak psikologis pada berbagai aspek. Perundungan dapat berdampak secara fisik, emosi, perilaku, sosial, serta pola pikir dan akademis,” kata dia.

Korban, lanjut Dwi, kerap mengalami kesedihan, ketakutan, dan tekanan emosional yang memengaruhi aktivitas sehari-hari, termasuk pola tidur dan pola makan.

Sebagian korban juga menunjukkan perilaku menghindar, baik secara emosi, pikiran, maupun tindakan.

Baca juga: Budaya Perlengkapan Sekolah Serba Baru: Antara Semangat Belajar dan Ancaman Bullying

“Beberapa korban perundungan juga menunjukkan perilaku menghindar baik secara emosi, pikiran, atau perilaku ditandai dengan enggan mengingat kejadian atau bahkan enggan datang ke lokasi kejadian,” ujar Dwi.

Dampak lain yang kerap muncul adalah menurunnya rasa percaya diri. Anak yang sebelumnya aktif dapat berubah menjadi tertutup, sulit berinteraksi, hingga kehilangan keberanian untuk tampil di lingkungan sosial.

Tidak sedikit pula korban mengalami gangguan konsentrasi yang berdampak pada penurunan prestasi akademik.

“Pada taraf pola pikir dan akademis, sering kali dijumpai anak korban perundungan mengalami permasalahan yang signifikan dalam performa akademik, seperti sulit konsentrasi dan terjadi penurunan nilai,” kata Dwi.

Dampak bullying tidak hanya dirasakan korban langsung.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Anak yang menyaksikan perundungan (bystander) juga dapat mengalami tekanan psikologis karena takut menjadi korban berikutnya atau dihantui rasa bersalah karena tidak menolong.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Foto: Ronaldo Cetak Gol, Portugal Kalahkan Kroasia
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Dorong Budaya HSSE sebagai Kunci Keandalan Operasional, Mochamad Iriawan: Harus Jadi DNA Perwira Pertamina
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
VinFast Bidik 10 Ribu SPKLU Akhir 2026, Gratis Cas Diperpanjang hingga 2029
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Menhut Raja Juli Betemu Bupati Kuansing Sebelum OTT KPK, Ditinggalkan Sepucuk Amplop
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Babak Baru Hubungan Indonesia-Belarus Usai 13 Tahun
• 12 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.