jpnn.com, JAKARTA - Para pemimpin bisnis Eropa menyerukan penguatan kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta guna peningkatan ketahanan gizi, pola hidup sehat, dan akses layanan kesehatan preventif di ASEAN.
Seruan tersebut disampaikan dalam forum yang mempertemukan pembuat kebijakan Indonesia, pakar kesehatan masyarakat dan pelaku industri pada peluncuran laporan kesehatan terbaru ASEAN yang diterbitkan oleh EU-ASEAN Business Council (EU-ABC).
BACA JUGA: Bocoran Terbaru soal Kabinet Joe Biden, Kementerian Kesehatan Bakal Dipimpin Jaksa
Laporan bertajuk Health, Nutrition & Lifestyle : Boosting ASEAN’s Health and Economic Resilience Through a Life-Course Framework menyoroti pentingnya pendekatan kebijakan berbasis siklus kehidupan (life-course approach) untuk memperkuat ketahanan kesehatan dan ekonomi kawasan.
Direktur Eksekutif, EU-ASEAN Business Council Chris Humphrey menyatakan dalam laporan ini menggarisbawahi tiga pilar strategis utama, yakni ketahanan gizi, penerapan gaya hidup sehat, dan penguatan praktik perawatan mandiri (self-care), sebagai fondasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang lebih sehat dan produktif.
BACA JUGA: Strategi Jateng Tumbuhkan Ekonomi Desa Melalui Ekosistem MBG
Dia menjelaskan kesehatan preventif diposisikan sebagai investasi strategis yang tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Namun, juga berkontribusi terhadap pengurangan beban pembiayaan kesehatan, peningkatan produktivitas tenaga kerja serta penguatan daya saing ekonomi ASEAN dalam jangka panjang.
Peluncuran laporan ini berlangsung seiring dengan komitmen Indonesia dalam memperkuat agenda kesehatan dan gizi nasional.
Menurut Chris, upaya Indonesia untuk meningkatkan gizi dan kesehatan masyarakat, mulai dari inisiatif berskala besar seperti program Makan Bergizi Gratis menunjukkan bahwa prioritas yang ditetapkan sudah berada di jalur yang tepat.
Kendati demikian, tantangan utamanya kini adalah memastikan implementasi berbagai program tersebut dapat berjalan secara efektif dalam skala yang luas.
“Seiring dengan langkah Indonesia dalam menjalankan berbagai inisiatif gizi yang ambisius seperti MBG, kolaborasi multipihak akan menjadi kunci,” ujar Chris dalam keterangannya di Jakarta.
Sejalan dengan pesan tersebut, laporan kesehatan ASEAN yang disusun oleh EU-ABC memuat 29 rekomendasi utama mengenai bagaimana pemerintah dan sektor industri dapat bekerja sama untuk meningkatkan hasil gizi masyarakat, memperkuat upaya kesehatan preventif serta membangun sistem konsumsi yang lebih berkelanjutan dan sirkular, dengan mengacu pada pengalaman dari Eropa maupun kawasan ASEAN.
Sejalan dengan temuan dan rekomendasi dalam laporan tersebut, diskusi panel yang menyertainya menegaskan urgensi respons yang terkoordinasi dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk mengatasi malnutrisi serta meningkatnya beban penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia dan kawasan ASEAN.
Menghadirkan perwakilan dari pemerintah, akademisi dan sektor industri, diskusi ini menyoroti pentingnya beralih dari ketahanan pangan (food security) menuju ketahanan gizi (nutrition security), dengan memastikan bahwa pangan tidak hanya tersedia, tetapi juga aman, bergizi, terjangkau dan mudah diakses.
Para panelis menekankan pentingnya kebijakan berbasis bukti, inovasi serta kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan yang masih berlangsung, seperti stunting, defisiensi mikronutrien, obesitas dan pola konsumsi yang kurang sehat.
Diskusi juga menyoroti peran pelabelan gizi, reformulasi produk pangan, program makan bergizi di sekolah, peningkatan literasi kesehatan serta berbagai langkah kesehatan preventif dalam mendukung gaya hidup yang lebih sehat.
Perwakilan Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian kesehatan RI Sri Ridha Hasanah, SKM, M.Sc, mengatakan pemerintah selalu membuka ruang untuk berkolaborasi.
Pemerintah, kata dia, tidak memandang pertumbuhan ekonomi dan kesehatan masyarakat sebagai dua hal yang saling bertentangan. “Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat yang lebih baik," papar Sri Ridha.(era/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul




