KOMPAS.com - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mengusulkan kenaikan bantuan stimulan untuk rumah rusak berat dari semula Rp 60 juta menjadi Rp 80 juta per unit.
Usulan tersebut disampaikan untuk memastikan hunian yang dibangun bagi penyintas pascabencana tidak hanya berdiri kembali, tetapi juga lebih layak, aman, dan nyaman untuk ditempati.
Kenaikan bantuan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat pemulihan permanen bagi masyarakat terdampak bencana, khususnya warga yang kehilangan tempat tinggal.
Satgas PRR menilai, pembangunan hunian bagi penyintas harus menjawab kebutuhan dasar warga sekaligus memperhatikan kualitas bangunan dalam jangka panjang.
Baca juga: BNPB Ungkap Rencana Pembangunan Hunian Tetap Korban Bencana Sumatera 19.646 Unit
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Wakil Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera Letjen TNI Suharyanto mengatakan, tambahan bantuan tersebut akan difokuskan untuk dua skema pembangunan hunian tetap (huntap).
Pertama, huntap in situ yang dibangun kembali di lokasi semula. Kedua, huntap eksitu mandiri yang dibangun di lokasi baru yang lebih aman dari risiko bencana.
“Jadi, yang in situ itu 8.000, eksitu mandiri 8.000. Jadi, kurang lebih 16.000. Tapi, sampai sekarang yang sudah mengajukan, yang sudah masuk datanya ke BNPB ada sekitar 14.500 dari daerah, bottom up dari kepala daerah,” ujar Suharyanto dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (3/7/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Suharyanto dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri terkait Usulan Penyesuaian Bantuan Stimulan Rumah Rusak Berat Terdampak Bencana di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Baca juga: Penyintas Bencana di Pidie Jaya Manfaatkan Dana Stimulan Jadi Modal Usaha
Menurutnya, usulan penyesuaian nilai bantuan menjadi Rp 80 juta per unit didasarkan pada dua pertimbangan utama.
Pertama, adanya kenaikan harga material bangunan. Kedua, komitmen pemerintah untuk meningkatkan standar kelayakan hunian bagi penyintas agar rumah yang dibangun lebih siap ditempati.
Tambahan Rp 20 juta per unit rencananya akan diarahkan untuk peningkatan kualitas fisik bangunan.
Peningkatan tersebut meliputi pemasangan keramik di seluruh ruangan dan kamar mandi, pemasangan plafon, penyelesaian plester dinding yang lebih halus, serta penambahan teras agar hunian lebih layak dan fungsional bagi keluarga terdampak.
Baca juga: Fungsi Plafon Rumah, Bukan Sekadar Penutup Atap
“Sementara kalau yang sekarang Rp 60 juta tidak pakai keramik dan tidak plester halus. Kamar mandinya belum keramik. Kalau nanti tambah Rp 20 juta, ya keramik semua. Selain itu, ada plafon, kemudian di luar dikasih teras dan kamar mandi keramik semua,” ujar Suharyanto.
Saat ini, BNPB terus mempercepat pembangunan huntap in situ dan eksitu mandiri di tiga provinsi terdampak. Dari total kebutuhan 16.000 unit, sekitar 800 unit huntap telah masuk tahap pengerjaan.
Suharyanto menegaskan, usulan kenaikan bantuan tersebut telah mendapatkan kesepahaman di tingkat kementerian dan lembaga, dan selanjutnya menunggu keputusan Presiden Prabowo Subianto.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mendukung penuh usulan tersebut sebagai langkah solutif untuk mempercepat pemulihan hunian warga.
Baca juga: Nominal Bantuan Korban Banjir Sumatera: Stimulan Ekonomi hingga Perabotan
Tito menjelaskan, pembangunan huntap in situ dan eksitu mandiri memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena tersebar di banyak titik.
Oleh karena itu, Satgas PRR mengusulkan penggunaan mekanisme Dana Siap Pakai (DSP) BNPB agar pelaksanaan di lapangan lebih fleksibel, cepat, dan tepat sasaran.
“Huntap in situ dan eksitu mandiri yang menjadi tanggung jawab BNPB ini lebih kompleks karena sendiri-sendiri. Itu akan digunakan mekanisme tersendiri yang kami usulkan adalah mekanisme namanya Dana Siap Pakai, karena memang BNPB ini dia fleksibel,” tutur Tito.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



