Bisnis.com, JAKARTA — Keputusan Toyota Motor North America untuk menghentikan proses produksi mobil sport legendaris Toyota GR Supra justru memicu efek kelangkaan yang mendongkrak volume penjualan unit secara signifikan di pasar Amerika Serikat.
Berdasarkan data performa pasar sepanjang paruh pertama tahun ini, model kendaraan sport yang bersiap disuntik mati tersebut mencatatkan lonjakan permintaan yang luar biasa sebagai bentuk perpisahan manis dari para loyalis otomotif.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan sang saudara kandung, Toyota GR86, yang kinerjanya justru terus merosot dan tampak kehilangan peminat meski status produksinya masih berjalan normal dengan penawaran harga jauh lebih kompetitif.
Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, raksasa otomotif asal Jepang tersebut berhasil mengirimkan sebanyak 2.116 unit GR Supra kepada konsumen di Amerika Serikat.
Torehan impresif ini merepresentasikan kenaikan masif sebesar 71,9% jika dibandingkan dengan capaian periode yang sama tahun lalu yang hanya membukukan penjualan sebanyak 1.231 unit.
Kinerja bulanan pada Juni juga menorehkan grafik positif serupa, di mana angka penjualan merangkak naik 45,8% menjadi 449 unit mobil. Mengingat aktivitas perakitan di pabrik komponen Graz, Austria, telah resmi berakhir pada musim semi tahun ini, para kolektor dan konsumen bergerak cepat menyerap seluruh sisa inventaris yang tersedia di jaringan dealer sebelum unitnya habis total dari pasar global.
Baca Juga
- Strategi Toyota Jaga Kinerja Penjualan pada Semester II/2026
- Toyota Gandeng Joby Aviation, Ekspansi ke Bisnis Taksi Terbang
- OJK Temukan Indikasi Pelanggaran Prosedur Penarikan Agunan oleh Pihak Ketiga Toyota Astra Financial (TAFS)
Kondisi kontradiktif dialami oleh lini Toyota GR86 yang gagal mengimbangi laju pertumbuhan sang kakak. Meskipun dibanderol dengan harga yang jauh lebih murah dan ketersediaan alokasi pemesanan spesifikasi kendaraan masih terbuka lebar, tren pengiriman unit justru terus melemah.
Penjualan kumulatif tahunan berjalan untuk GR86 merosot sebesar 26,2% menjadi hanya 4.007 unit, sedangkan performa penjualan khusus pada bulan Juni kembali turun 6,8% ke angka 754 unit mobil.
Kendati lini mobil sport mengalami dinamika yang kontras, performa bisnis Toyota secara keseluruhan di wilayah Amerika Utara berada dalam kondisi yang jauh lebih sehat.
Merek kendaraan massal Toyota membukukan pertumbuhan sebesar 11,2% untuk periode Juni dan terkerek naik 1,5% sepanjang tahun berjalan. Menariknya, portofolio kendaraan ramah lingkungan alias elektrifikasi menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi melampaui 57% dari total penjualan bulanan perusahaan.
Momentum positif ini turut ditandai oleh rekor penjualan bulanan tertinggi sepanjang sejarah untuk model RAV4 Hybrid, serta pencapaian rekor Juni bagi divisi mobil mewah Lexus, meskipun secara akumulasi tahunan kinerja Lexus masih terkoreksi turun 5.2%.
Di sisi lain, keterbatasan pasokan stok pada beberapa model andalan diakui sempat menghambat laju ekspansi penjualan di sejumlah segmen. Lini ikonik Toyota Prius masih tertahan dengan penurunan 42,3% secara tahunan berjalan, meskipun sempat mencicipi pertumbuhan tipis 9,4% pada Juni.
Nasib serupa menimpa varian RAV4 konvensional non-hybrid yang turun 35,7% serta Land Cruiser yang anjlok 40% akibat hambatan logistik rantai pasok global dan minimnya ketersediaan unit di pasar, bukan karena faktor penurunan minat beli konsumen dilansir dari Carcoops.
Sebaliknya, beberapa model utilitas berukuran besar justru mendulang sukses besar di pasar domestik regional. Lini Highlander Hybrid sukses melonjak pesat hingga 48,9% sepanjang tahun berjalan, disusul oleh lonjakan fantastis dari model 4Runner yang meroket 141%.
Melengkapi dominasi tersebut, segmen sedan legendaris Toyota Camry tetap kokoh di jalur pertumbuhan dengan kenaikan penjualan sebesar 15,3%, sekaligus membuktikan konsumen Amerika Serikat masih menaruh loyalitas tinggi pada lini sedan fungsional bersertifikasi andal dari Toyota.





