Jakarta, VIVA – Bulan Juli sering identik dengan musim liburan di berbagai negara. Namun di balik suasana tersebut, sejarah mencatat bahwa bulan ketujuh dalam kalender Masehi juga pernah menjadi saksi lahirnya sejumlah tragedi besar yang mengubah dunia. Bahkan, dua peristiwa yang terjadi pada bulan Juli dikenang sebagai bencana kemanusiaan paling mengerikan karena menelan korban dalam jumlah sangat besar.
Dua kejadian tersebut adalah pecahnya Perang Dunia I pada 28 Juli 1914 dan Tragedi Terowongan Mina saat musim haji pada 2 Juli 1990. Meski terjadi dalam konteks yang berbeda, satu akibat konflik politik internasional, satu lagi karena musibah saat ibadah, keduanya sama-sama meninggalkan luka mendalam dan menjadi pelajaran penting bagi dunia.
Perang Dunia I menjadi salah satu konflik paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia. Perang ini resmi dimulai pada 28 Juli 1914, ketika Austria-Hongaria menyatakan perang terhadap Serbia.
Meski pemicunya tampak sederhana, akar persoalannya sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Saat itu, negara-negara besar di Eropa saling bersaing memperluas wilayah, memperkuat kekuatan militer, dan membentuk aliansi politik yang saling berhadapan.
Situasi memanas setelah Archduke Franz Ferdinand, pewaris takhta Austria-Hongaria, bersama istrinya dibunuh oleh seorang nasionalis Serbia bernama Gavrilo Princip di Sarajevo pada 28 Juni 1914. Peristiwa tersebut memicu krisis diplomatik yang dikenal sebagai July Crisis.
Sebulan kemudian, Austria-Hongaria mengumumkan perang kepada Serbia. Karena masing-masing negara telah terikat dalam perjanjian militer, konflik dengan cepat meluas hingga melibatkan hampir seluruh kekuatan besar dunia.
Senjata Modern Pertama Kali Digunakan Secara Besar-besaranPerang Dunia I juga menjadi titik awal perubahan besar dalam strategi peperangan. Untuk pertama kalinya, berbagai teknologi militer modern digunakan dalam skala besar.
Beberapa di antaranya meliputi:
- Tank tempur.
- Pesawat tempur dan pesawat pengebom.
- Kapal selam (U-Boat).
- Senapan mesin otomatis.
- Gas beracun seperti gas mustard dan klorin.
Penggunaan teknologi tersebut membuat tingkat korban jiwa meningkat drastis dibandingkan perang-perang sebelumnya.
Selain pertempuran di medan perang, jutaan warga sipil juga menjadi korban akibat kelaparan, penyakit, pengungsian, hingga runtuhnya sistem ekonomi di berbagai negara.





