Perdamaian lazim dipahami sebagai akhir konflik. Namun dalam politik internasional, perdamaian kerap menjadi instrumen baru untuk melanjutkan persaingan dengan cara yang berbeda. Itulah sebabnya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran Juni 2026 ini layak dianalisis. Di balik kesepakatan tersebut terdapat berbagai pesan politik yang ditujukan bukan hanya kepada Teheran, tetapi juga kepada publik Amerika, Partai Republik, hingga Israel.
Sebagian menyambut dinamika AS-Iran secara positif, terutama kemungkinan perdagangan minyak yang pulih. Namun, apakah memang selayaknya disambut gegap gempita, terutama setelah melihat dari sudut pandang AS, khususnya Presiden Trump? Setidaknya terdapat lima cara membaca langkah politik AS bersama Donald Trump dibalik kesepakatan tersebut.
Politik Dalam Negeri dan Pesan SimbolisPertama, Presiden AS Donald Trump sedang berupaya menarik memulihkan kepercayaan publik, terutama pemilihnya. Menurut Ipsos, tingkat penerimaan publik (approval rating) AS jatuh pada titik terendah pada Juni 2026 hingga mencapai 34%. Sementara itu, tingkat penolakannya konsisten naik sampai 64%. Mayoritas responden bahkan menilai kesepakatan gencatan senjata dengan tidak akan bertahan lama.
Melihat jajak pendapat ini, kesepakatan damai ini tidak murni usaha bina damai, tetapi ada kecenderungan untuk kebutuhan politik. Trump harus memastikan bahwa konflik tidak berkembang menjadi perang yang berkepanjangan yang dapat mengurangi kepercayaan pada dirinya.
Kedua, pemilihan penandatanganan kesepakatan oleh AS di Istana Versailles adalah upaya AS menunjukkan dominasi. Pemilihan lokasi penandatanganan bukanlah keputusan administratif semata. Dalam diplomasi, ruang dan simbol sering kali dipilih untuk membangun pesan politik tertentu.
Istana tersebut merupakan saksi Perjanjian Versailles, sebuah perjanjian yang mengakhiri Perang Dunia I. Dalam kacamata Jerman pascaperang tersebut, perjanjian ini dianggap penghinaan karena isi perjanjian yang terlalu berat sebelah. Perjanjian tersebut juga didiskusikan hanya oleh pemenang perang.
Mendelberg (2022) berargumen bahwa simbol digunakan untuk memperjelas status hierarki dan menonjolkan harga diri. Di sini, Trump berusaha memposisikan pihaknya sebagai pihak “pemenang perang”, bukan kesepakatan yang setara. Pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance yang menyatakan kesepakatan ini menguntungkan AS memperkuat simbolisasi tersebut.
Ketiga, Trump tampaknya ingin memastikan bahwa kendali atas dinamika politik Timur Tengah tetap berada di Gedung Putih, bukan di tangan sekutunya sendiri. Pernyataannya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam wawancara dengan Axios “Bibi, sebaiknya kamu berhati-hati, atau kamu akan segera sendirian" dapat dibaca sebagai sinyal bahwa dukungan Amerika Serikat bukan tanpa syarat.
Washington, tanpa menggunakan pendekatan koersif pada Israel, ingin mengatakan keputusan mengenai kapan konflik ditingkatkan atau dihentikan tetap harus berada dibawah kendali AS sebagai aktor utama di kawasan, selayaknya sebuah negara hegemon.
Catatan Stockholm International Peace Research Institute (2025) mengenai ketergantungan Israel pada impor senjata dari AS memperkuat fakta bahwa Israel memang sangat bergantung pada AS. Dengan posisi Amerika sebagai penyedia utama bantuan militer dan diplomatik bagi Israel, Washington memiliki daya tawar yang cukup besar untuk memengaruhi perilaku sekutunya.
“Lepas kendalinya” Israel di Timur Tengah dari kendali AS yang mempunyai daya tawar lebih tinggi daripada Israel mencoreng citra Trump sekaligus menghambat hegemoni Negara Paman Sam di kawasan tersebut.
Keempat, pemilihan kata Trump pada pernyataan resminya mendemonstrasikan peran sentral ia sebagai presiden sekaligus cara Trump mendisiplinkan senator Republik yang mengkritik kesepakatan dengan Iran. Dua kali Trump mengategorisasikan pihak yang setuju dengannya adalah orang-orang cerdas dan yang menolak ialah orang-orang bodoh.
Yang pertama, Trump memisahkan kepemimpinan Iran sekarang yang menurutnya cerdas dibanding dengan periode sebelumnya. Yang kedua, Trump dengan keras menegur mereka yang tidak sejalan sebagai orang bodoh, yang sejatinya merujuk pada beberapa senator Partai Republik. Trump menggeser perdebatan substansi kebijakan perseteruan dengan Iran menjadi individu.
Ditambah saat ini adalah periode kedua masa pemerintahan Trump dimana tidak dapat mencalonkan diri kembali dalam pemilihan umum, artinya dia tidak memiliki beban untuk menyenangkan seluruh pejabat Partai Republik. Sebaliknya, ia punya keleluasaan untuk mempertegas kekuasaan eksekutif pada dirinya.
Mendukung Partai Demokrat bagi sebagian senator Partai Republik dalam kongres jelas riskan sebab menunjukkan pecahnya Partai Republik, kecuali mereka yang merupakan petahana di wilayah tradisi Demokrat.
Terakhir, jika AS berhasil menguasai opini publik dengan membingkai persetujuan ini adalah keberhasilan AS memaksa Iran berunding, Bila narasi Iran dipaksa berunding berhasil diterima publik internasional, setiap tindakan agresif Iran pada masa mendatang akan lebih mudah dipersepsikan sebagai pelanggaran terhadap perdamaian.
Dalam kondisi demikian, AS memperoleh keuntungan bukan hanya secara diplomatik, tetapi juga dalam pembentukan opini internasional.
Memang, kesepakatan Iran-Amerika Serikat mungkin memang berhasil menghentikan tembakan untuk sementara. Namun sejarah menunjukkan bahwa berakhirnya perang tidak selalu berarti berakhirnya persaingan politik. Dalam kasus ini, medan pertempuran tampaknya hanya berpindah dari konflik bersenjata menuju perebutan narasi, legitimasi, dan pengaruh.
Karena itu, memahami perjanjian damai semata sebagai keberhasilan menemukan titik kompromi dan kemenangan diplomasi justru berisiko mengabaikan dimensi politik yang mungkin sedang dimainkan.




