REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) mengusulkan layanan Mikrotrans atau yang dikenal dengan angkot Jaklingko tidak lagi digratiskan untuk masyarakat. Hal itu dilakukan agar jumlah penumpang layanan itu benar-benar terdata dengan baik.
Ketua DTKJ Sugihardjo mengungkapkan, tarif Rp 0 untuk layanan Mikrotrans yang selama ini diberlakukan adalah bagian dari uji coba angkutan pengumpan. Uji coba itu dilakukan untuk memastikan masyarakat bisa dengan mudah mengakses transportasi dari rumah halte atau stasiun.
Baca Juga
Lereng Gunung Pasrean Dipapas Alat Berat tak Berizin, Warga Bandung Barat Protes Takut Longsor
Kabar Tapir Disembelih dan Dimasak di Mesuji, Kemenhut Turun Tangan
Kemenkes Temukan Kelalaian Rumah Sakit dalam Kasus Dokter Icha
"Mikrotrans itu sebetulnya kemarin itu dalam rangka uji coba supaya apa, bagaimana first mile and last mile-nya itu jalan. Jadi dari rumah langsung nyambung kan ke BRT, non-BRT. Karena uji coba itu Rp 0, tapi keterusan," kata dia di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Menurut dia, layanan Mikrotrans itu semestinya berbayar. Namun, tarif yang diberlakukan tidak boleh memberatkan masyarakat. Dalam usulannya, Sugihardjo mengatakan, penumpang akan dikenal tarif Rp 5.000 untuk bisa mengakses layanan Transjakarta di dalam kota secara terintegrasi. Dengan tarif itu, penumpang tidak lagi dikenakan biaya tambahan apabila harus berpindah layanan Transjakarta BRT, non-BRT, atau Mikrotrans.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sementara untuk masyarakat yang hanya menggunakan Mikrotrans tanpa berpindah ke layanan lainnya diusulkan dikenakan tarif Rp 2.000. "Kita mengusulkan 2.000. Nah ini memang dari nggak bayar jadi bayar ya," kata dia.
Menurut dia, pengenaan tarif itu penting untuk melakukan pendataan penumpang. Pasalnya, selama ini masih ada praktik yang mengakali data penumpang sesungguhnya di lapangan.
Sugihardjo menjelaskan, dalam kontrak antara Transjakarta dan operator Mikrotrans terdapat target kilometer tempuh dan jumlah penumpang yang harus dipenuhi. Ketika layanan itu digratiskan, terdapat sejumlah pihak yang melakukan tap demi menambah jumlah penumpang, karena tidak dikenakan pemotongan tarif.
"Nah nanti dengan Rp 2.000 kira-kira saya mau tapping-tappingnggak? Ya kan masa duit saya habis dong gitu. Nah jadi datanya lebih riil," kata dia.
Calon penumpang mengantre saat menunggu kedatangan mikrotrans JakLingko di Stasiun Klender Baru, Jakarta Timur, Rabu (28/2/2024). Budaya antre yang dilakukan dari inisiatif para penumpang tersebut mencegah agar penumpang tidak saling berebut dan membiasakan ketertiban dalam menggunakan transportasi umum. - (Republika/Putra M. Akbar)