Presiden Lebanon: Perjanjian dengan Israel Tak Sahkan Pendudukan

viva.co.id
9 jam lalu
Cover Berita

VIVA – Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan perjanjian kerangka kerja yang ditandatangani dengan Israel "tidak melegitimasi berlanjutnya pendudukan Israel atas Lebanon".

Presiden Aoun menegaskan kesepakatan itu justru memberdayakan tentara Lebanon untuk memperluas kewenangan ke seluruh wilayah negara tersebut.

Baca Juga :
Baru Menikah dan Istri Mengandung, Pemain Palestina Meniggal Ditembak Tentara Israel
Iran Peringatkan AS-Israel Tak Ganggu Rangkaian Pemakaman Ali Khamenei

Aoun menyampaikan hal itu dalam pertemuannya dengan delegasi dari Asosiasi Universitas Lebanon, Ikatan Dokter Lebanon, dan Ordo Maronit Lebanon, menurut pernyataan dari kantor kepresidenan Lebanon 

Keputusan berdaulat Lebanon, lanjutnya, bertujuan memisahkan dengan masalah Iran-AS, sehingga menjadi perhatian bagi sebagian pihak yang terbiasa berada di bawah kendali pihak lain, yang mengambil keputusan dan bernegosiasi atas nama Lebanon.

"Rumusan kerangka kerja tersebut tidak melegitimasi berlanjutnya pendudukan Israel atas Lebanon, melainkan bertujuan untuk memberdayakan tentara Lebanon agar dapat memperluas kendalinya atas seluruh wilayah Lebanon," kata Aoun dikutip Sabtu, 4 Juli 2026.

Dia menambahkan tidak ada pihak yang meragukan peran militer Lebanon. Menurut Aoun, militer Lebanon akan sepenuhnya menjalankan tanggung jawabnya dalam mencapai keamanan dan stabilitas di wilayah selatan setelah pasukan Israel ditarik.

Pekan lalu, Lebanon dan Israel—dengan mediasi Amerika Serikat—menandatangani kesepakatan yang mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon, dimulai dari dua area percontohan.

Namun demikian, kesepakatan itu tidak menetapkan jadwal pasti untuk penarikan penuh pasukan Israel.

Tahapan selanjutnya dikaitkan dengan kesiapan tentara Lebanon mengambil alih tanggung jawab keamanan serta pelucutan senjata kelompok bersenjata non-negara, termasuk Hizbullah.

Pemerintah Lebanon menggambarkan kesepakatan itu sebagai "langkah pertama" untuk memulihkan kedaulatan negara atas seluruh wilayah dan memungkinkan penduduk yang mengungsi kembali ke kampung halaman mereka.

Sementara itu, kelompok gerakan Hizbullah menolak kesepakatan tersebut dan menganggapnya "tidak sah". Kelompok itu menilai upaya penarikan pasukan Israel dengan pelucutan senjatanya telah melampaui "semua garis merah".

Kementerian Kesehatan Lebanon telah mencatat sedikitnya 4.298 orang tewas dan 12.196 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak 2 Maret lalu.

Israel telah menduduki sebagian wilayah Lebanon selatan selama bertahun-tahun. Bahkan, beberapa di antaranya dilakukan selama beberapa dekade.

Israel juga menguasai wilayah tambahan selama perang 2023-2024 dan telah maju lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon. (Ant)

Baca Juga :
Kiper Palestina Saleem Al-Ashqar Tewas Ditembak Tentara Israel, Gugur Saat Menanti Kelahiran Putra Pertama
Parlemen Israel Setujui RUU Larangan Azan Pakai Pengeras Suara
LAN Ungkap Kunci Keberhasilan Implementasi Kebijakan Prioritas Presiden

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Eksekusi PN Sambas, Objek Sengketa Rumah Beserta Tanah Berhasil Dieksekusi
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
MUI Desak Koruptor Dihukum Mati: Beri Efek Jera, Menyengsarakan Rakyat
• 5 jam lalurctiplus.com
thumb
KPK Tetapkan Bupati Langkat Syah Afandin dan Timses di Pilkada Jadi Tersangka Kasus Suap Proyek
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Tak Lagi Belajar di Sekolah Rusak, Murid SMP Ini Makin Semangat
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Bupati Langkat Juga Diduga Terima Gratifikasi dari Pengangkatan Camat, Kepsek hingga Proyek Seragam Sekolah
• 17 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.