Di sekitar air mancur yang mengeluarkan asap putih, anak-anak sibuk bermain. Tidak jauh dari mereka, orangtua memperhatikan dengan saksama. Selain memainkan air dengan tangan, mereka sibuk berlarian mengelilingi air mancur. Mereka berlarian, berusaha menangkap asap yang seolah keluar dari balik air di Alun-alun Surabaya, Surabaya, Jumat (3/7/2026).
Sore hari, terutama saat hari libur, menjadi waktu favorit bagi wisatawan yang merupakan warga Surabaya untuk berkunjung. Dalam kesempatan tersebut warga datang untuk bersantai sambil menikmati beragam kegiatan, baik itu seni maupun ekonomi.
Mereka datang sendiri, bersama keluarga, ataupun kawan bermain. Mereka bisa menikmati suasana sembari duduk-duduk di sekitar bangunan utama sambil melihat gedung-gedung di sekitar dengan lampu berwarna-warni yang bersinar.
Alun-alun Surabaya atau juga dikenal dengan Balai Pemuda berada di jalan utama kota, yaitu Jalan Gubernur Suryo dan Yos Sudarso. Lokasi ini mudah diakses baik dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum.
Menuju lantai dasar Alun-alun Surabaya. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Pameran arsip Soekarno. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Air mancur. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Pada hari-hari tertentu, terutama seperti saat libur sekolah seperti saat ini, akan banyak terlihat bus-bus besar yang terparkir di tempat ini. Bus-bus tersebut membawa rombongan wisatawan dari luar kota. Mereka biasanya akan berkunjung ke lantai dasar alun-alun untuk melihat kegiatan seni yang rutin digelar.
Di tempat tersebut terdapat bangunan tua berwarna putih yang sangat dominan, bangunan yang kini menjadi bagian integral dari kawasan Alun-alun Surabaya awalnya dikenal sebagai De Simpangsche Societeit (Perkumpulan Simpang), sebuah klub sosial eksklusif milik komunitas Belanda di Surabaya yang dibangun pada 1907.
De Simpangsche Societeit ini berfungsi sebagai pusat hiburan dan pergaulan kalangan elite kolonial. Gedung ini dilengkapi fasilitas dansa, pesta, hingga arena bowling. Fungsi bangunan ini mencerminkan kehidupan sosial kelas atas di era kolonial Hindia Belanda. Societeit atau perkumpulan semacam itu menjadi simbol dominasi budaya dan status sosial kolonial. Gedung ini juga menjadi ikon kosmopolitanisme kolonial yang menyatu dengan kawasan Simpang yang strategis secara komersial dan administratif.
Semakin sore, pengunjung akan semakin ramai. Kawasan yang pada masa lalu merupakan tempat yang sangat eksklusif ini kini berubah menjadi tempat yang bisa diakses oleh siapa saja. Alun-alun Surabaya kini menjadi tempat yang tepat untuk membuang penat setelah berjibaku dengan rutinitas.





