Bisnis.com, JAKARTA — Kehadiran Badan Pengelola Investasi atau BPI Danantara Indonesia sebagai superholding pengelola aset negara kini memasuki babak baru.
Setahun setelah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis masuk ke dalam ekosistem terintegrasi, kinerja keuangan agregat periode April 2025—April 2026 mulai memperlihatkan pembalikan performa signifikan.
Berdasarkan keterangan resmi, seluruh BUMN di bawah naungan Danantara telah menyelesaikan Laporan Keuangan Tahun Buku 2025 per 30 Juni 2026. Meskipun laporan konsolidasian tingkat induk masih diaudit, rilis kinerja sektoral menjadi indikator awal untuk menguji efektivitas transformasi terintegrasi ini.
Catatan performa satu tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan laba merata, dipimpin oleh PT Pertamina (Persero) yang melonjak 80% menjadi Rp24,9 triliun.
PT Pupuk Indonesia juga mencetak lompatan laba bersih 202% menjadi Rp4,8 triliun setelah transformasi skema bisnis menjadi mark-to-market. Di sektor logistik, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) tercatat mengamankan laba senilai Rp1,5 triliun atau melonjak 169% jika dibandingkan dengan capaian tahun lalu.
Efek penataan portofolio Danantara Asset Management (DAM) juga memicu pembalikan kinerja finansial sejumlah emiten yang sempat tertekan. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS), misalnya, keluar dari zona merah dengan laba Rp635 miliar setelah memangkas utang menjadi US$1,1 miliar.
Baca Juga
- DPR Ingatkan Transformasi BUMN oleh Danantara Tak Berhenti Sebatas Merger
- Kans Danantara, BI, hingga Kemenkeu Jadi Pemegang Saham BEI via Demutualisasi
- Seluruh BUMN Sudah Rampungkan Laporan Keuangan, Ini Penjelasan Danantara soal Lapkeu Konsolidasi
COO Danantara Dony Oskaria memaparkan lompatan margin bersumber dari pemangkasan transaksi berlapis antara induk BUMN dan anak usaha.
"Efisiensi yang paling besar sebetulnya datangnya dari layering transaction, karena umumnya anak perusahaan mengerjakan pekerjaan induknya," ujar Dony dalam keterangan resminya, dikutip pada Jumat (3/7/2026).
Penyederhanaan ini diperkirakan mampu menghemat Rp30 triliun inefisiensi operasional per tahun, dan Rp20 triliun dari penutupan anak usaha merugi.
CEO Danantara Rosan Roeslani menambahkan reposisi peran entitas negara tidak boleh dipandang semata-mata sebagai mesin pemburu laba bersih korporasi. Menurutnya, orientasi penciptaan nilai jangka panjang harus berjalan seiring kontribusi nyata yang dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat ekonomi.
“BUMN semata-mata tidak hanya mengejar dari segi laba, tetapi juga harus dirasakan kehadirannya ke masyarakat,” ujarnya baru-baru ini.
Di samping restrukturisasi, Danantara juga mulai merealisasikan mandat investasi melalui dividen BUMN 2025 untuk mendanai proyek strategis nasional. Proyek yang mulai didanai antara lain pengembangan ekosistem Haji dan Umrah di Makkah guna memperkuat posisi ekonomi global Indonesia, serta pendanaan proyek Waste-to-Energy (WTE) untuk akselerasi transisi ekonomi hijau.
Meskipun data pertumbuhan tampak impresif, sejumlah pihak bahwa transformasi Danantara masih harus diuji lewat validitas laba operasional riil, efektivitas integrasi pascamerger, serta konsistensi kinerja emiten pelat merah di lantai bursa.
Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI Toto Pranoto memandang bahwa pembacaan laba perusahaan pelat merah perlu dicermati secara mendalam guna memisahkan dampak restrukturisasi dengan faktor luar.
“Laba BUMN itu mesti dicek apakah benar akibat proses restrukturisasi yang sudah berhasil atau akibat dampak siklikal geopolitik global,” ucap Toto kepada Bisnis.
Menurutnya, pencapaian MIND ID atau Pupuk Indonesia tidak terlepas dari pengaruh volatilitas harga komoditas dunia meskipun efisiensi tetap berkontribusi. Pembalikan profit pada kelompok BUMN yang sebelumnya merugi juga patut dipantau secara berkala untuk membuktikan keabsahan perbaikan operasionalnya.
Di sisi lain, pemerhati BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menyoroti adanya risiko fiskal jangka panjang dari mahalnya komitmen harga jual listrik pada proyek investasi WTE yang dijalankan Danantara.
Menurut Herry, lembaga sovereign wealth fund tersebut perlu berfokus menarik modal swasta global guna memperbaiki rasio investasi nasional terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang sempat berada di level terendah.
“Investasi merupakan kontributor PDB yang terbesar kedua, setelah konsumsi rumah tangga. Masalahnya, rasio investasi terhadap PDB pada 2025 merupakan yang terendah dalam 10 tahun terakhir. Ini pekerjaan rumah besar bagi Danantara dalam rangka menciptakan nilai tambah atas kehadirannya,” ucapnya.
Selain persoalan validitas laporan dan pos investasi, tantangan jangka panjang justru terletak pada penyelarasan budaya kerja dan birokrasi setelah penggabungan. Alhasil, keberhasilan pemangkasan entitas usaha dinilai belum menjadi jaminan mutlak bagi kesinambungan profitabilitas jangka panjang perseroan.
Anggota Komisi VI DPR RI Christiany Eugenia Paruntu mengingatkan tantangan terberat manajemen adalah mengawal masa transisi pascamerger agar efektif.
"Tahap yang jauh lebih penting adalah memastikan integrasi pasca-merger berjalan efektif, mulai dari harmonisasi budaya kerja hingga proses bisnis," pungkasnya.
Penyelarasan proses bisnis hulu-hilir serta penguatan tata kelola bersih tersebut menjadi indikator utama penguji magis Danantara Indonesia ke depan.
Di sisi lain, optimisme belum sepenuhnya tercermin di lantai pasar modal. Hingga akhir semester I/2026, IDX BUMN 20 masih terkoreksi 25,08% secara year to date (YtD). Meski demikian, pelemahan tersebut relatif lebih baik dibandingkan IHSG (-34,74%), LQ45 (-34,67%), dan IDX 80 (-28,12%) pada periode yang sama.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai perbaikan fundamental tersebut akan modal awal yang penting bagi jajaran saham pelat merah untuk kembali dilirik investor pada paruh kedua tahun ini.
"Turnaround tersebut memberikan fondasi yang sesuai bagi saham-saham BUMN. Hanya saja, pasar saat ini masih menunggu bukti kelanjutan dalam rangka re-rating valuasi yang lebih tinggi," pungkas Nafan kepada Bisnis.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





