Paradoks Industri Pangan Sehat, Makin Digandrungi tetapi Masih Bergantung Impor

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Tren konsumsi makanan sehat terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat. Namun, peluang besar tersebut masih dibayangi tingginya ketergantungan industri makanan dan minuman terhadap bahan baku impor.

Sejumlah bahan mulai dari vitamin, mineral, protein nabati, enzim, probiotik, hingga berbagai bahan pangan lain yang menjadi komponen utama produk pangan bernilai tambah.

Permintaan terhadap produk tinggi protein, tinggi serat, rendah gula, hingga pangan fungsional terus meningkat, terutama di kalangan generasi muda yang semakin memperhatikan kandungan gizi setiap produk yang dikonsumsi.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan perubahan perilaku konsumen mulai mendorong industri mempercepat inovasi produk.

Menurutnya, sekitar 60% penduduk Indonesia kini berasal dari kelompok generasi pascamilenial, Generasi Z, dan dalam beberapa tahun ke depan akan disusul Generasi Alpha yang memiliki karakter lebih peduli terhadap kesehatan.

"Sekarang banyak generasi muda yang mulai membaca label, melihat ingredients, lalu mencoba. Kalau cocok mereka menjadi loyal," ujarnya, dikutip Jumat (3/7/2026).

Baca Juga

  • Ekonom Wanti-wanti Lonjakan Impor Migas Perbesar Tekanan ke Rupiah
  • Menimbang Positif-Negatif Melonjaknya Impor Bijih Nikel dari Filipina
  • Dampak Berganda Lonjakan Impor Migas

Perubahan preferensi tersebut mendorong produsen menghadirkan berbagai produk dengan fortifikasi vitamin, mineral, kolagen, maupun bahan fungsional lainnya untuk menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang.


Masih Bergantung pada Impor

Namun, di balik tren positif tersebut, industri masih menghadapi persoalan mendasar berupa keterbatasan pasokan bahan baku dalam negeri.

Adhi mengakui sebagian besar bahan baku pangan fungsional masih harus didatangkan dari luar negeri karena industri bahan baku antara atau intermediate ingredients di Indonesia belum berkembang memadai.

"Sebetulnya sumber daya lokal banyak, tetapi kesiapan bahan lokal menjadi bahan baku industri masih kurang. Intermediate ini yang perlu kita dorong," katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat industri sangat rentan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah maupun kenaikan biaya logistik global.

Tekanan tersebut semakin terasa karena hampir seluruh bahan baku bernilai tambah yang dibutuhkan industri pangan modern masih berasal dari impor.

Dia mencontohkan dalam berbagai pameran bahan baku pangan berskala internasional, peserta dari Indonesia masih menjadi minoritas dibandingkan perusahaan asing yang memasok berbagai bahan tambahan pangan.

Karena itu, menurut Adhi, penguatan industri pengolahan bahan baku di dalam negeri menjadi pekerjaan rumah terbesar agar sumber daya lokal dapat diolah menjadi bahan baku industri yang memenuhi standar kualitas.

"Kita harus bersama-sama dengan pemerintah mendorong supaya bahan baku lokal bisa diproses menjadi bahan baku industri yang siap pakai," ujarnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS)  menunjukkan ketergantungan terhadap bahan baku impor masih cukup tinggi. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, impor bahan baku dan barang penolong mencapai US$79,40 miliar atau meningkat 14,41% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kelompok tersebut menyumbang sekitar 71,32% dari total nilai impor nasional, jauh lebih besar dibandingkan barang modal maupun barang konsumsi.

Secara bulanan, pada Mei 2026 nilai impor bahan baku juga meningkat 25,17% dibandingkan Mei tahun sebelumnya, menunjukkan kebutuhan industri terhadap bahan baku produksi masih terus meningkat.

Kepala Pusat SEAFAST Center LPPM IPB Puspo Edi Giriwono menilai meningkatnya impor bahan baku tidak selalu harus dipandang sebagai kelemahan.

Menurutnya, industri pangan global saat ini telah bergerak dalam sistem rantai pasok internasional sehingga penggunaan bahan baku impor merupakan praktik yang lazim.

Yang lebih penting, kata Puspo, adalah bagaimana Indonesia mampu menguasai proses pengolahan sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.

"Kita sudah masuk ke era global value chain. Yang perlu dikuasai adalah value added-nya," ujarnya.

Dia menjelaskan banyak negara industri juga mengimpor bahan baku dalam jumlah besar untuk kemudian diolah menjadi produk bernilai tinggi.

Karena itu, strategi substitusi impor tidak harus diarahkan untuk mengganti seluruh bahan baku dari luar negeri, melainkan memperkuat industri pengolahan bahan baku antara sehingga manfaat ekonomi tetap dinikmati di dalam negeri.

Puspo memperkirakan industri makanan dan minuman masih akan tetap bertumbuh pada semester II/2026 meskipun laju pertumbuhannya diperkirakan melambat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Menurutnya, produsen dari berbagai skala usaha, mulai dari industri besar hingga UMKM, akan terus melakukan inovasi guna menyesuaikan diri dengan perubahan daya beli masyarakat dan kenaikan biaya produksi.

Namun, dia mengingatkan bahwa pencarian bahan baku alternatif tidak boleh mengorbankan aspek keamanan pangan.

Dalam kondisi tekanan ekonomi, produsen memang akan berupaya mencari bahan baku yang lebih murah. Akan tetapi, kualitas dan keamanan produk tetap harus menjadi prioritas agar konsumen tetap memperoleh pangan yang aman dikonsumsi.

Dia juga menilai peluang pemanfaatan bahan baku lokal tetap terbuka, meski belum seluruh kebutuhan industri dapat dipenuhi dari dalam negeri.

Karena itu, pengembangan industri intermediate ingredients menjadi salah satu mata rantai penting agar sumber daya hayati Indonesia tidak hanya dijual sebagai komoditas primer, tetapi juga diolah menjadi bahan baku pangan bernilai tambah tinggi.

Dengan demikian, meningkatnya tren konsumsi makanan sehat tidak hanya menjadi peluang memperluas pasar industri makanan dan minuman, tetapi juga menjadi momentum mempercepat penguatan industri bahan baku nasional. 

Tanpa pembenahan pada sektor tersebut, pertumbuhan pasar pangan sehat akan tetap bergantung pada pasokan impor sehingga rentan terhadap gejolak nilai tukar, harga global, maupun gangguan rantai pasok internasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
FIFA Resmi Batalkan Rekor Fenomenal Lionel Messi usai Bantu Argentina Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
BPS Gandeng Kementerian PPPA dan PNM Agar Lebih Banyak UMKM Perempuan Tercatat dalam Sensus Ekonomi 2026
• 4 jam lalupantau.com
thumb
KPK Sita Rp1,2 Miliar dan 55 Kg Logam Platinum dalam OTT Bupati Langkat Syah Afandin
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Bek Timnas Indonesia, Elkan Baggott, Dikabarkan Diminati Klub Kasta 3 Liga Inggris, Gagal Main di Premier League Lagi?
• 4 jam lalubola.com
thumb
Investigasi Kemenkes: Ada Dugaan Kekerasan Verbal-Intimidasi Terhadap dr Icha
• 21 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.