Luka Modrić Menolak Berdamai Dengan Luka Nasib

medcom.id
7 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Ada pemain yang dikenang karena trofinya. Ada yang dikenang karena gol-golnya. Tetapi ada pula pemain yang akan dikenang karena caranya meninggalkan lapangan.
 
Ketika peluit panjang berbunyi dan Kroasia dipastikan tersingkir dari Piala Dunia 2026, puluhan ribu penonton berdiri memberikan tepuk tangan. Bukan karena Luka Modrić mencetak gol. Bukan pula karena ia mengangkat trofi.
 
Melainkan karena semua orang tahu, bahwa mereka sedang menyaksikan akhir dari sebuah perjalanan yang tidak pernah seharusnya bisa dimulai. Sebab, jika perang berhasil menentukan nasib seorang anak, dunia tidak akan pernah mengenal nama Luka Modrić. Ada anak-anak yang masa kecilnya diisi suara bel sekolah. Luka Modrić mengisinya dengan suara ledakan.
 
Ketika perang menghancurkan Kroasia, rumahnya lenyap. Kakeknya terbunuh. Keluarganya hidup sebagai pengungsi. Pada usia ketika anak-anak lain belajar mengejar layang-layang, Modrić belajar bahwa rumah pun bisa hilang hanya dalam semalam.
 
Banyak orang mengira perang adalah musuh terbesar Luka Modrić. Menurut saya, mereka keliru. Musuh terbesarnya bukan perang melainkan godaan untuk mempercayai bahwa nasibnya telah selesai sebelum hidupnya benar-benar dimulai.
 
Di lokasi pengungsian tempat keluarganya tinggal, ada satu benda yang selalu dicari anak kecil itu. Bukan mainan, pula bukan hadiah. Melainkan sebuah bola. Di tempat itulah ia berlari. Jatuh. Bangkit. Mengulanginya lagi.
 

Baca Juga :

Hasil Kolombia vs Ghana: Gol Tunggal Arias Antar La Tricolor ke 16 Besar
 
 
Bagi anak-anak lain, sepak bola adalah permainan. Bagi Luka Modrić, sepak bola adalah harapan. Mungkin sejak saat itulah Modrić kecil belajar satu pelajaran yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Bahwa hidup tidak selalu memberi kita awal yang adil. Tetapi hidup selalu memberi kesempatan untuk menentukan akhirnya.
 
Ketika mulai bermain secara profesional, keraguan kembali datang. Tubuhnya dianggap terlalu kecil. Terlalu kurus. Terlalu lemah.
 
Banyak yang berkata Modrić tidak akan mampu bertahan di level tertinggi. Ironisnya, mereka sedang mengukur tubuh seorang anak. Bukan isi kepalanya. Bukan keberaniannya. Bukan keteguhannya yang menolak mempercayai ramalan tentang dirinya sendiri.
 
Tahun demi tahun berlalu. Anak pengungsi itu berubah menjadi The Midfield Maestro. Sebagian lagi menyebutnya The Puppet Master. Apa pun julukannya, dunia akhirnya sepakat pada satu hal.
 
Kehebatan Luka Modrić bukan hanya terletak pada cara mengoper bola. Melainkan pada caranya memandang hidup. Lihatlah bagaimana The Midfield Maestro bermain.
 
Ketika semua pemain ingin mempercepat pertandingan, Modrić justru mengendalikan tempo. Ketika semua orang panik, ia tetap tenang.
 
Banyak pemain menggerakkan bola. Luka Modrić menggerakkan waktu. Dan sering kali orang yang mampu mengendalikan tempo adalah orang yang sebenarnya sedang mengendalikan pertandingan.
 

Baca Juga :

Hasil Argentina Vs Tanjung Verde: Albiceleste Redam Perlawanan Sengit Crioulos
 
 
Piala Dunia 2026 menjadi panggung terakhirnya. Di usia empat puluh tahun, banyak orang mengira Modrić hanya datang untuk melengkapi sejarah.
 
Tetapi Modrić kembali membuktikan bahwa usia tidak selalu mengalahkan kualitas. Ia masih memimpin Kroasia. Masih menghadiahkan assist. Masih menjadi pusat ketenangan di lini tengah. Masih membuat rekan-rekannya bermain lebih berani.
 
Kroasia memang berhasil melewati fase grup. Namun perjalanan itu akhirnya berhenti pada babak gugur. Mereka kalah dalam pertandingan yang dramatis.
 
Bahkan sempat melihat harapan terakhir dianulir oleh VAR pada menit-menit akhir. Tetapi di tengah semua drama itu, yang paling saya ingat bukanlah skor akhirnya. Melainkan seorang kapten yang tetap berjalan tegak meninggalkan lapangan.
 
Banyak pemain ingin menjadi pusat perhatian. Luka Modrić justru membuat orang lain terlihat lebih baik. Barangkali di situlah letak kebesaran seorang pemimpin. Tidak selalu menjadi orang yang paling bersinar. Tetapi mampu membuat semua orang di sekitarnya ikut bersinar. Tidak semua orang harus menjadi pencetak gol.
 
Di setiap keluarga, organisasi, perusahaan, bahkan di setiap negara selalu ada orang-orang yang mungkin tidak paling sering mendapat tepuk tangan. Tetapi tanpa mereka, permainan tidak pernah berjalan sebagaimana mestinya.
 
Mengingat kembali kepingan momen di Piala Dunia 2018, Modrić berhasil membawa Kroasia mencapai final. Beberapa bulan kemudian, The Midfield Maestro meraih Ballon d'Or dan mematahkan dominasi Lionel Messi serta Cristiano Ronaldo.
 

Baca Juga :

Australia Vs Mesir: The Pharaohs Singkirkan The Socceroos Lewat Adu Penalti
 

Tetapi menurut saya, itu bukan kemenangan terbesar Luka Modrić. Kemenangan terbesarnya terjadi jauh sebelum semua trofi itu datang. Yaitu, ketika seorang anak korban perang memutuskan, "Saya tidak akan membiarkan masa lalu menentukan masa depan saya."
 
Kini, di fase gugur Piala Dujia 2026, Kroasia memang tersingkir. Luka Modrić memang meninggalkan panggung Piala Dunia untuk terakhir kalinya. Tetapi ada satu hal yang tidak ikut gugur bersamanya, yaitu harapan.
 
Sebab, perang pernah mencoba mengambil keluarganya. Kemiskinan pernah mencoba mengambil mimpinya. Keraguan pernah mencoba mengambil masa depannya.
 
Kini usia mengambil Piala Dunia terakhirnya. Tetapi tidak satu pun berhasil mengambil sesuatu yang paling berharga, yaitu keyakinannya. Keyakinan bahwa manusia tidak pernah ditakdirkan untuk menyerah kepada nasib.
 
Mungkin kita tidak pernah hidup di tengah perang seperti Luka Modrić. Tetapi kita semua pernah hidup bersama sesuatu yang disebut nasib. Ada yang lahir dalam keluarga sederhana. Ada yang pernah gagal, kehilangan, bahkan pernah diremehkan.
 
Pertanyaannya bukan lagi seberapa berat nasib itu. Pertanyaannya, apakah kita akan mempercayainya begitu saja atau melawannya?
 
Betul, nasib memang menentukan di mana kita memulai. Tetapi kitalah yang menentukan di mana kita mengakhirinya. Dan, itulah bukti Luka Modrić menolak berdamai dengan luka nasibnya.
 
Benarkah Haaland bukan hanya menjadi Bomber Skandinavia, tetapi juga membangunkan kembali jiwa bangsa Viking? Nantikan kisahnya.
 
*Halo sobat Medcom, buat kalian yang suka nonton bola dan nebak skor pertandingan, yuk ikutan lomba tebak skor Medcom.id yang akan hadir setiap hari dari fase grup hingga final. Nah, kita udah siapin hadiah menarik senilai jutaan rupiah buat kalian yang paling banyak menebak skor pertandingan dengan benar. So, tunggu apa lagi, yuk, daftar di sini.
 
(N.D. Santoso)

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mayat Diduga Perempuan Ditemukan di Dalam Sumur Kebun Sengon di Probolinggo
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Menang di AFF U-17 2026, Malaysia U-17 Janjikan Permainan Berbeda saat Uji Coba Kontra Timnas Indonesia U-17
• 11 jam lalubola.com
thumb
[FULL] Pecah Tangis! Depan Hakim MK, Dosen Curhat Digaji Rp2,6 Juta hingga Rela Jual Kue-Jadi Ojol
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
HUT ke-250 AS, Trump Akan Gelar Pertunjukan Kembang Api Terbesar di Dunia
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Film dan Serial Romantis Netflix Adaptasi Wattpad
• 13 menit lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.