Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, tetap optimistis perekonomian RI mampu tumbuh 6 persen pada tahun ini meski dihadapkan pada berbagai tantangan global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga gejolak pasar uang.
Saat memberikan kuliah umum di hadapan civitas akademika Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Jumat (3/7), Purbaya mengatakan pemerintah terus mengendalikan kebijakan fiskal agar tetap menjadi penyangga perekonomian nasional.
"Dampak kebijakan fiskal kita kontrol terus. Kita tidak takut dengan situasi global. Saya terus menggerakkan mesin-mesin pertumbuhan ekonomi. Jadi tumbuh 6 persen tahun ini tidak susah-susah amat,” kata Purbaya dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (4/7).
Purbaya menyebutkan berbagai risiko global memang perlu diantisipasi. Namun, katanya, kondisi tersebut tidak perlu disikapi secara berlebihan selama fondasi ekonomi nasional tetap kuat.
Bendahara Keuangan itu menilai Indonesia masih memiliki ruang fiskal yang memadai untuk menghadapi tekanan eksternal. Melalui pengelolaan APBN yang disiplin, pemerintah optimistis mampu menjaga stabilitas ekonomi, mengendalikan inflasi, serta melindungi daya beli masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga menepis anggapan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen hanya ditopang oleh belanja pemerintah. Menurutnya, sektor swasta memiliki kontribusi yang besar terhadap kinerja ekonomi nasional.
"Perlu saya luruskan bahwa capaian itu tidak hanya didorong oleh belanja pemerintah, tetapi terutama oleh peran besar sektor swasta (private sector)," lanjut Purbaya.
Dia menjelaskan kontribusi sektor swasta tercermin dari meningkatnya investasi, ekspansi dunia usaha, serta konsumsi masyarakat yang tetap terjaga. Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi RI di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, Purbaya menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit APBN di bawah 3 persen sebagai bentuk disiplin fiskal sekaligus menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.
Menurut Purbaya, target defisit itu bisa dicapai lewat pengelolaan fiskal yang hati-hati, termasuk mengoptimalkan Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebagai instrumen pembiayaan pembangunan tanpa membebani APBN secara berlebihan.





