KOMPAS.TV – Data Kementerian Kesehatan RI (Ditjen PTM, 2025) menunjukkan bahwa kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita perempuan di Indonesia. Di sisi lain, tidak sedikit pasien yang baru mengetahui penyakitnya ketika telah memasuki stadium lanjut, sehingga penanganan yang dibutuhkan menjadi lebih kompleks dan hasil pengobatan yang diharapkan dapat menjadi kurang optimal.
Pada tahun 2022 merujuk pada laporan GLOBOCAN, tercatat sebanyak 66.271 kasus baru kanker payudara dengan angka kematian mencapai 22.598 jiwa. Artinya, rata-rata sekitar 64 perempuan meninggal setiap hari akibat penyakit ini.
Tingginya angka kematian tersebut tidak terlepas dari fakta bahwa lebih dari 50 persen kasus kanker payudara di Indonesia baru terdiagnosis pada stadium lanjut (stage III-IV), saat peluang keberhasilan pengobatan telah menurun secara signifikan.
Kanker payudara tidak selalu berujung pada prognosis yang buruk. Senior Konsultan dan Ahli Bedah Payudara Solis Breast Care & Surgery Centre, dokter Lim Sue Zann, menyampaikan bahwa peluang kesembuhan dan kelangsungan hidup pasien meningkat secara signifikan apabila terdeteksi sejak dini. Tingkat kelangsungan hidup pasien yang terdiagnosis pada stadium awal (stage 0-II) akan meningkat sampai 85 - 99 persen setelah diagnosis. Namun, ketika kanker baru ditemukan pada stadium lanjut (stage III-IV), angka tersebut turun drastis menjadi kurang dari 25 persen.
Sejalan dengan target pemerintah agar 60 persen kasus kanker payudara di Indonesia dapat dideteksi sejak dini, akses terhadap layanan skrining dan penilaian kesehatan payudara yang terintegrasi menjadi semakin penting.
Melalui pemeriksaan yang dilakukan secara tepat waktu dan terkoordinasi oleh tenaga medis profesional, masyarakat dapat memperoleh deteksi yang lebih akurat serta rekomendasi penanganan yang sesuai.
Jika pada tahap skrining ditemukan kelainan atau dugaan kanker payudara, pasien akan menjalani pemeriksaan diagnostik lanjutan, termasuk pemeriksaan radiologi dan, bila diperlukan, biopsi. Apabila kanker terkonfirmasi, pemeriksaan penentuan stadium serta perencanaan terapi yang komprehensif akan dilakukan untuk mendukung hasil pengobatan yang optimal.
Ketika setiap tahapan pemeriksaan harus dilakukan secara terpisah, proses diagnosis dapat terasa lebih rumit dan memakan waktu. Tidak sedikit pasien merasa bahwa masa menunggu hasil pemeriksaan, konsultasi, maupun tindak lanjut justru menjadi bagian yang paling melelahkan secara emosional.
Karena itu, deteksi dini tidak hanya membutuhkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan, tetapi juga dukungan layanan kesehatan yang mampu memberikan penanganan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Dengan sistem layanan yang terintegrasi, perjalanan pasien sejak konsultasi awal hingga penentuan tindakan dapat berlangsung dalam waktu yang lebih singkat. Bahkan, untuk kasus yang memerlukan tindakan bedah, keseluruhan proses mulai dari konsultasi pertama, pemeriksaan diagnostik, penentuan stadium, hingga tahap surgical treatment dapat diselesaikan dalam rentang waktu sekitar satu hingga dua minggu.
Penulis : Oviana
Sumber : Kompas TV
- Advertorial
- kanker payudara
- Lim Sue Zann
- deteksi dini
- Singapura
- Solis Breast Care





