Geliat Ekspor Jateng Masih Terbentur Ongkos Logistik

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SEMARANG - Nilai ekspor Jawa Tengah pada Mei 2026 menyentuh US$1.298,00 juta atau naik naik 33,67% (Year-on-Year/YoY). Dari jumlah tersebut, nilai ekspor komoditas nonmigas tercatat di US$1.175,22 juta atau naik 22,85% (YoY). Secara kumulatif, nilai ekspor sepanjang Januari-Mei 2026 ikut tumbuh 22,39% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Pertumbuhan dobel digit secara tahunan itu cukup menggambarkan iklim perdagangan Jawa Tengah yang di atas angin. Terlepas dari tantangan geopolitik, keterbatasan fiskal pemerintah, hingga pelemahan Rupiah, pengusaha Jawa Tengah masih mampu mencari celah untuk merambah pasar mancanegara.

Mohamad Noor Nugroho, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, menyebut tren positif itu mulai terlihat pada paruh kedua tahun 2026. "Dari sisi PMI cenderung flat, tidak berubah banyak. Sementara dari sisi ekspor menunjukkan peningkatan, baik secara bulanan maupun akumulasi awal tahun. Ini inline dengan PMI di beberapa negara tujuan ekspor kita yang juga ikut naik," jelasnya dalam konferensi pers yang digelar beberapa waktu lalu.

Negara mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, China, dan Jepang masih menjadi destinasi andalan Jawa Tengah. Sepanjang periode Januari-Mei 2026, nilai ekspor untuk komoditas nonmigas Jawa Tengah ke Amerika Serikat dilaporkan mencapai US$2.677,70 juta, disusul Jepang US$444,07 juta, dan Tiongkok US$241,77 juta.

Andi Reina Sari, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, menegaskan bahwa secara umum baik pelaku usaha maupun konsumen masih menunjukkan optimisme terhadap kondisi perekonomian di Jawa Tengah. Berdasarkan Survei Keyakinan Konsumen yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Tengah, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Jawa Tengah pada Mei 2026 berada di angka 116,05 poin. Jauh di atas ambang batas optimisme, yaitu 100 poin. "Pelaku usaha memang masih optimis, tetapi mereka menghadapi tekanan terkait biaya/bahan baku yang semakin mahal karena sebagian masih impor. Pelemahan nilai tukar ini memang memengaruhi kenaikan biaya produksi. Dari sisi eksportir sendiri, mereka memang lebih untung, tetapi harus mempertimbangkan juga biaya impor yang harus mereka tanggung," tutur Reina.

Tantangan dari Sisi Logistik
Indikator perdagangan tersebut tercermin dengan arus logistik di Jawa Tengah yang terus mengalami pertumbuhan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Mei 2026, aktivitas bongkar barang nonmigas di Jawa Tengah mencapai 1.590.181 ton. Sementara itu, aktivitas muat barang berada di angka 4.399 ton. Meskipun mengalami penurunan secara bulanan, namun angkanya justru mengalami pertumbuhan signifikan secara tahunan.

Ali Said, Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, menyebut ada kenaikan 221,56% (YoY) aktivitas muat angkutan laut dalam negeri untuk komoditas nonmigas. "Untuk pengiriman luar negeri, total volume angkutan barang untuk moda transportasi laut mencapai 168.654 ton untuk impor dan 70.620 ton untuk ekspor komoditas nonmigas," jelas Ali.

Sayangnya, momentum pertumbuhan itu mesti terganjal beban ongkos logistik yang mesti ditanggung pelaku usaha. Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah-DI Yogyakarta Bambang Widjanarko, menyebut sebagian pelaku usaha logistik telah menaikkan ongkos pengiriman angkutan darat di kisaran 15%. Kenaikan ongkos angkutan barang itu terpaksa dilakukan imbas kelangkaan Biosolar yang terjadi di beberapa daerah.

"Biasanya kelangkaan Biosolar itu terjadi Oktober, November, Desember, tetapi ini sudah mulai terasa. Sejak pertengahan tahun ini sudah mulai sulit. Dari anggota Aptrindo melaporkan sudah terjadi di semua tempat, tidak cuma di Jawa Tengah, tapi juga sampai di Pulau Sumatera, Kalimantan apalagi," ungkap Bambang.

Bambang mengaku bahwa permintaan angkutan barang saat ini memang tengah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Namun, pengusaha truk tak bisa berbuat banyak di tengah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang membuat mereka mengurangi ritase antara 30-40% dari hari biasanya. "Padahal orderan kita lagi kencang-kencangnya, kebanyakan antar kota antar provinsi. Kalau barat ya ke Jakarta, timur ya ke Surabaya. Banyak juga yang ke Sumatera," ungkapnya.

Ketua DPD Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Tengah Ade Siti Muksodah mengamini kondisi tersebut. Peluang perdagangan internasional di tengah pelemahan kurs rupiah tak bisa dimaksimalkan oleh eksportir lantaran mesti menanggung kenaikan ongkos logistik. Selain ongkos pengiriman menuju pelabuhan, ongkos kargo ikut melonjak imbas eskalagi geopolitik di sejumlah negara dan kenaikan harga BBM di tingkat global. Imbasnya, eksportir di negara berkembang seperti Indonesia ikut terdampak.

"Mahal sekali. Yang membuat kami bahagia, pelabuhan kita di Kota Semarang ini sudah bagus. Tidak perlu lempar ke Jawa Timur atau Jakarta, Tanjung Emas sudah bagus dan cukup banyak melakukan inovasi," jelas Ade.

PT Pelindo Terminal Petikemas TPK Semarang memang tengah melakukan sejumlah perbaikan. Yang terbaru, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang mengoperasikan secara perdana Quay Container Crane (QCC) Post Panamax Twin-Lift untuk melayani kegiatan bongkar muat peti kemas di Dermaga Samudera.

Dermaga Samudera sendiri merupakan fasilitas pelayanan peti kemas yang baru diresmikan oleh Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Terminal Head TPK Semarang, I Nyoman Sutrisna, menjelaskan bahwa operasional Dermaga Samudera untuk pelayanan peti kemas menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas layanan TPK Semarang. Dengan tambahan area pelayanan tersebut, terminal memiliki fleksibilitas dan kapasitas yang lebih besar dalam melayani kapal serta mengantisipasi pertumbuhan arus peti kemas di masa mendatang.

Nyoman menyebut bahwa keberadaan QCC Post Panamax serta Dermaga Samudera menjadi momen penting bagi pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas. "Kedua hal ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk terus meningkatkan kapasitas, produktivitas, dan kualitas layanan guna memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus berkembang," ujarnya.

Tambahan fasilitas dan peralatan tersebut diyakini akan semakin memperkuat posisi TPK Semarang sebagai gerbang logistik utama di Jawa Tengah. "Kami optimistis kehadiran QCC Post Panamax dan operasional Dermaga Samudera untuk pelayanan peti kemas akan memberikan dampak positif terhadap kinerja terminal, meningkatkan daya saing pelabuhan, serta mendukung kelancaran distribusi logistik nasional," imbuh Nyoman.

Pengembangan kapasitas dan peningkatan kualitas layanan di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang diharapkan dapat ikut mendukung aktivitas manufaktur serta perdagangan di wilayah Jawa Tengah. Yang perlu menjadi perhatian, adalah aksesibilitas layanan tersebut di tengah kenaikan ongkos logistik. Jangan sampai, kualitas dan layanan yang sudah ditingkatkan itu justru tak mampu dirasakan oleh pelaku usaha Jawa Tengah.

Baca Juga

  • Mayoritas Ekspor Tambang NTB ke China
  • Eksportir Jateng Lirik Jordan dan Pasar Afrika


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pencuri 1,5 Kuintal Buah Naga di Banyuwangi Diarak Warga ke Polsek
• 37 menit lalukumparan.com
thumb
Pengadaan Gembok Lapas Rp92,5 M, Ditjenpas: Bukan Gembok Biasa dan Dirancang Khusus
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Duduk Perkara Bupati Langkat jadi Tersangka, Diduga Terima Gratifikasi Rp 3,5 M
• 10 jam lalukatadata.co.id
thumb
Viral Oknum Polisi Siksa Istri Siri, Kapolres Tegal Kota: Diproses Pidana dan Etik
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Lionel Messi Cetak Gol Ke-20 di Piala Dunia, Unggul dari Bintang Prancis Kylian Mbappe
• 13 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.