Belajar dari Kasus Taufik Hidayat: Memutus Rantai Isolasi Pasangan

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

TRAGEDI kemanusiaan yang memilukan kembali menghentak kesadaran publik. Seorang korban berinisial YTR ditemukan di IGD RSHS Bandung dalam kondisi sangat memprihatinkan.

Ia mengalami luka berat di sekujur tubuh, sulit berbicara, tidak dapat berjalan normal, hingga menderita kebutaan permanen.

Hasil penyelidikan Polda Jawa Barat mengungkap fakta mengerikan bahwa YTR, yang dilaporkan hilang kontak oleh keluarganya sejak tahun 2023, ternyata disekap dan dianiaya secara berulang oleh pacarnya sendiri, Taufik Hidayat.

Kasus ini bukan sekadar berita kriminal biasa. Peristiwa ini adalah alarm keras yang menunjukkan betapa berbahayanya kekerasan yang bersembunyi di balik dinding kedekatan.

Banyak dari kita yang salah kaprah dan mengira bahwa kekerasan ekstrem hanya terjadi dalam institusi pernikahan sebagai Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).

Nyatanya, apa yang dialami YTR adalah bentuk ekstrem dari kekerasan oleh pasangan intim atau kekerasan dalam berpacaran, fenomena kelam di mana ikatan asmara justru dieksploitasi menjadi ruang penyiksaan.

Baca juga: OTT Kepala Daerah Tak Pernah Berhenti

Bagaimana kekerasan se-ekstrem ini bisa terjadi selama tiga tahun di lingkungan sosial kita tanpa terdeteksi? Kriminologi memberikan jawaban yang sangat jernih untuk memahami fenomena ini.

Membaca "Skrip" Kejahatan Pelaku

Dalam studi kriminologi, para peneliti menjelaskan bahwa kekerasan oleh pasangan intim sebenarnya tidak terjadi secara mendadak atau acak.

Kekerasan tersebut memiliki tahapan prosedural yang terpola, atau yang disebut sebagai skrip kejahatan (crime script).

Kekerasan fisik yang fatal tidak pernah menjadi babak pertama. Skrip kejahatan ini hampir selalu dimulai dari fase yang disebut kontrol koersif (coercive control).

Di fase awal ini, pelaku secara perlahan mengendalikan kehidupan korban: membatasi pergaulan, mendikte cara berpakaian, menjauhkan korban dari sahabat, hingga memutus komunikasi dengan keluarga.

Tujuan dari isolasi sistematis ini adalah menciptakan ketergantungan mutlak. Ketika korban berhasil diisolasi dari dunia luar, pelaku memiliki kontrol penuh atas seting lokasi dan interaksi.

Pada titik inilah, seperti yang terjadi pada kasus YTR, pelaku dengan leluasa mengeksekusi skrip kekerasan fisiknya secara berulang tanpa takut ada orang lain yang mengetahui atau menginterupsi.

Di bawah ancaman dan ketakutan yang konstan, ruang rasionalitas dan rasa percaya diri korban dihancurkan, membuat mereka lumpuh dan tidak berdaya untuk mencari jalan keluar (exit points).

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Mengapa lingkungan sekitar kerap gagal menyelamatkan korban lebih awal? Jawabannya terletak pada sikap apatis sosial yang dibungkus dengan kalimat: "Itu urusan pribadi mereka."


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cara Daftar Program Magang Nasional, Gaji Rp3,5 Juta-6 juta/bulan
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Komisi X DPR Kaji Konsep Statistik Resmi Negara dalam Pembaruan RUU Statistik
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Detik-Detik Menegangkan TNI Evakuasi Jenazah Pilot Ditembak OPM di Papua
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
KUHP Baru Jadi Momentum Perkuat Harmoni Beragama
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Luka Modric Sindir VAR yang Rugikan Kroasia, Sebut Portugal Harusnya Tak Dapat Penalti
• 6 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.