Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta tambahan kuota 1.000 beasiswa Sekolah Rakyat khusus untuk Jakarta kepada Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Beasiswa itu diprioritaskan untuk anak-anak dari kelompok rentan, mulai dari anak jalanan, pengamen, anak putus sekolah, hingga anak dari keluarga broken home.
Hal itu disampaikan Pramono saat menghadiri peluncuran dan diskusi buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z karya Airlangga Pribadi Kusman dan Rocky Gerung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Sabtu (4/7).
Pramono mengatakan, Pemprov DKI saat ini telah mengalokasikan kuota untuk 480 siswa dari jenjang SD hingga SMA dalam program Sekolah Rakyat. Namun, ia menilai kuota tersebut masih perlu ditambah agar lebih banyak anak dari keluarga rentan bisa tertampung.
“Karena itu, maka Jakarta langsung saya memutuskan untuk minta, kalau untuk Jakarta tambah 1.000 siswa,” kata Pramono.
Menurut dia, tambahan kuota itu harus benar-benar diberikan kepada anak-anak dari kelompok masyarakat paling rentan.
“Saya minta yang 1.000 ini betul-betul dari keluarga yang terbawah. Keluarga broken home, keluarga yang anak-anak putus sekolah. Anak-anak yang sekarang ini sudah sebagian besar, yang kemarin saya lihat sendiri, yang bekerja di tepi jalanan, pengamen, dan sebagainya,” ujarnya.
Pemprov Jakarta, kata Pramono, juga siap menyiapkan fasilitas asrama atau boarding school untuk mendukung program tersebut. Sementara proses pembelajaran akan dijalankan pemerintah pusat.
“Dan kami akan menyiapkan boarding school sekolahnya, nanti pendidikan pembelajarannya oleh pemerintah pusat,” lanjut dia.
Pramono mengungkapkan, dirinya baru mengunjungi Sekolah Rakyat di Jakarta Selatan yang menampung anak-anak dari latar belakang sulit. Dari sekitar 100 siswa yang tertampung, 90 di antaranya telah menerima beasiswa dari Pemprov Jakarta.
“Sekarang ini sudah tertampung kurang lebih di Jakarta Selatan, 100. Dan dari 100 itu, 90 mendapatkan beasiswa dari Pemerintah DKI Jakarta,” ucapnya.
Ia mengaku terkesan dengan fasilitas dan semangat para siswa di sekolah tersebut.
“Tetapi fasilitas dan semangatnya luar biasa. Saya harus menyampaikan ini luar biasa,” tutur Pramono.
Menurut Pramono, program Sekolah Rakyat menjadi wujud nyata implementasi Marhaenisme karena membuka jalan bagi kelompok paling rentan untuk memperoleh masa depan yang lebih baik.
“Mengangkat orang yang dari betul-betul bukan siapa-siapa, kaum paling bawah, kemudian menjadi punya harapan,” tutup dia.





