Ahli IPB "Salahkan" Lampu LED, Kunang-Kunang Satu per Satu Hilang

cnbcindonesia.com
15 jam lalu
Cover Berita
Foto: (Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kunang-kunang kini semakin jarang dijumpai di alam liar. Fenomena yang juga banyak dikeluhkan masyarakat di media sosial ini ternyata berkaitan erat dengan menurunnya kualitas lingkungan.

Dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Kesumawati Hadi, mengatakan kunang-kunang merupakan salah satu indikator kesehatan suatu ekosistem.

"Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang," jelasnya, dikutip dari laman resmi IPB University, Sabtu (4/7/2026).


Penurunan populasi kunang-kunang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global. Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), sekitar 11-20% spesies kunang-kunang di dunia saat ini masuk dalam kategori terancam. Sementara itu, sejumlah spesies yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah berstatus rentan.

Kesumawati menjelaskan, penyebab utama terus menyusutnya populasi kunang-kunang adalah kerusakan habitat. Alih fungsi lahan hijau, rawa, dan persawahan menjadi kawasan permukiman maupun industri menyebabkan habitat alami serangga tersebut semakin berkurang.

Baca: Warga RI Siaga! BMKG Ingatkan Ada Petaka Terjadi Dalam Hitungan Bulan

Selain itu, polusi cahaya dari lampu LED yang terlalu terang juga mengganggu proses reproduksi kunang-kunang. Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan mendeteksi sinyal cahaya yang dipancarkan betina sehingga proses perkawinan menjadi terganggu.

Penurunan populasi juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain, seperti penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, hingga urbanisasi yang mengubah bentang alam.

Meski demikian, kunang-kunang masih dapat ditemukan di wilayah yang memiliki kondisi lingkungan relatif terjaga, seperti kawasan mangrove, rawa, tepi sungai yang masih alami, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap serta minim polusi cahaya.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, generasi mendatang dikhawatirkan hanya dapat mengenal kunang-kunang melalui buku, museum, atau tayangan visual tanpa pernah melihatnya secara langsung di habitat aslinya.

Untuk membantu menjaga populasinya, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana, seperti tidak menutup seluruh halaman rumah dengan semen, mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, memanfaatkan pupuk organik, serta menjaga kebersihan sungai dan saluran air agar tetap menjadi habitat yang mendukung kehidupan kunang-kunang.

Baca: NASA Blak-blakan Tanda Kiamat, Wilayah RI Dalam Bahaya Besar


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Urgensi Pemanfaatan Teknologi AI Demi Efisiensi & Produktivitas

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berlaku Juli, 5 Operasi Ini Tak Ditanggung BPJS Kesehatan
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Bakom Sebut Latar Belakang Beragam Komisaris BUMN Bisa Lahirkan Ide dan Gagasan Baru
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Saham IPO JELI Oversubscribed hingga 273,37 Kali, Diburu Lebih dari 600 Ribu Investor
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Proses Musyawarah Dibutuhkan Membentuk Regulasi
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tak Bisa Tunjukkan Surat Kendaraan, Pemuda Berkonvoi di Cipayung Diamankan Polisi
• 21 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.