Ekonom: Keberhasilan Danantara Ditentukan oleh Restrukturisasi BUMN, Bukan Dividen Jangka Pendek

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Keberhasilan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia dinilai tidak dapat diukur dari besarnya tingkat pengembalian investasi (return) maupun dividen dalam jangka pendek. Fokus utama lembaga tersebut justru berada pada keberhasilannya mentransformasi dan merestrukturisasi badan usaha milik negara (BUMN).

Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan prioritas investasi Danantara saat ini semestinya diarahkan untuk mendukung agenda restrukturisasi BUMN melalui investasi yang layak secara bisnis dan sesuai kapasitas lembaga.

"Prioritas Danantara adalah melakukan restrukturisasi BUMN. Investasi yang dilakukan harus feasible dan sesuai kapasitasnya," ujar Wijayanto kepada Bisnis, Sabtu (4/7/2026). 

Menurutnya, indikator keberhasilan Danantara tidak dapat dinilai hanya berdasarkan rasio keuangan seperti return on assets (ROA) atau besaran dividen yang dihasilkan dalam waktu singkat.

Sebaliknya, ukuran utama keberhasilan lembaga tersebut adalah sejauh mana Danantara mampu melakukan transformasi terhadap BUMN, mulai dari pembenahan model bisnis, penguatan tata kelola perusahaan (good corporate governance/GCG), hingga peningkatan profesionalisme pengelolaan perusahaan pelat merah.

"Sukses Danantara tidak bisa diukur dalam jangka pendek berupa ROA atau nilai dividen. Kinerja terpenting adalah sukses Danantara dalam mentransformasi dan merestrukturisasi BUMN, termasuk business model, GCG, dan profesionalisme. Return dan dampak ekonomi baru bisa diukur dalam beberapa tahun ke depan," katanya.

Di sisi lain, Wijayanto menilai strategi Danantara dalam menarik investor global seharusnya meniru pendekatan sovereign wealth fund Malaysia, Khazanah Nasional, yang berperan sebagai mitra investasi bagi investor asing untuk mendorong masuknya investasi berkualitas ke dalam negeri.

Menurut dia, target Danantara yang sebelumnya disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani agar sekitar 80% investasi ditempatkan di dalam negeri merupakan langkah yang tepat.

"Misi Danantara idealnya mirip Khazanah, menjadi trigger bagi masuknya investasi berkualitas dari luar negeri ke Indonesia dengan memosisikan diri sebagai counterpart investor asing. Target sekitar 80% investasi di dalam negeri sudah tepat," ujarnya.

Namun demikian, Wijayanto mengingatkan terdapat sejumlah tantangan yang berpotensi menghambat kinerja Danantara. Tantangan terbesar, menurutnya, berasal dari intervensi politik serta penugasan yang dinilai tidak layak secara bisnis maupun berada di luar kapasitas lembaga tersebut.

Dia menilai Danantara belakangan kerap diminta mengambil alih perusahaan bermasalah maupun menangani berbagai proyek yang belum tentu memiliki kelayakan ekonomi.

"Danantara seperti dijadikan keranjang sampah. Jika ada perusahaan akan bangkrut, Danantara diminta mengambil alih. Danantara juga menangani program yang tidak feasible seperti waste to energy, asrama haji di Mekkah, ternak ayam, investasi sektor tekstil, dan lainnya," katanya.

Selain itu, dia menilai kewenangan Danantara dalam menentukan jajaran dewan komisaris dan direksi BUMN juga masih terbatas. Kondisi tersebut dinilai menjadi kendala dalam menjalankan fungsi transformasi perusahaan negara secara efektif.

"Danantara sepertinya juga tidak memiliki kewenangan untuk menentukan BoC dan BoD BUMN. Ini merupakan kendala besar sebagai organisasi," ujar Wijayanto.

KLAIM DANANTARA

Sebelumnya dalam pernyataan tertulis, Danantara mengklaintransformasi yang dijalankan badan usaha milik negara (BUMN) mulai menunjukkan hasil. Sejumlah perusahaan pelat merah mencatatkan perbaikan kinerja melalui restrukturisasi bisnis, konsolidasi, hingga penyehatan keuangan. Danantara menyebut efisiensi dari agenda tersebut dapat mencapai Rp50 triliun per tahun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani mengatakan transformasi BUMN tidak semata-mata ditujukan untuk meningkatkan laba, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

"BUMN semata-mata tidak hanya mengejar dari segi laba, tetapi juga harus dirasakan kehadirannya ke masyarakat, ke rakyat dalam bentuk pemberian persamaan kesempatan dari segala lapisan, dari UMKM, komersial maupun korporasi," ujar Rosan.

Menurutnya, transformasi yang dilakukan setiap BUMN memiliki pendekatan berbeda sesuai dengan karakteristik bisnis masing-masing. Karena itu, kinerja yang mulai terlihat saat ini merupakan hasil dari proses restrukturisasi yang telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu transformasi dilakukan PT Pupuk Indonesia melalui perubahan skema subsidi dari model cost-plus menjadi mark-to-market. Perubahan tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk mengelola risiko fluktuasi harga komoditas sekaligus meningkatkan profitabilitas secara lebih adaptif.

Di sektor energi, PT Pertamina (Persero) melakukan konsolidasi dengan mengintegrasikan PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS) ke dalam Subholding Downstream. Langkah itu ditujukan untuk mengurangi tumpang tindih operasional, mempercepat pengambilan keputusan, serta memperkuat integrasi rantai bisnis hilir.

Sementara itu, PT Krakatau Steel menunjukkan hasil restrukturisasi melalui perbaikan kondisi keuangan. Perseroan membukukan laba Rp635 miliar hingga April 2026 setelah pada periode yang sama tahun sebelumnya mencatat rugi Rp981 miliar. Perbaikan tersebut berlangsung seiring penurunan utang dari US$1,7 miliar menjadi US$1,1 miliar.

Perbaikan kinerja juga diklaim terjadi di sektor kawasan industri. Sepanjang 2025, penyediaan lahan industri bertambah 142 hektare. Pendapatan meningkat dari Rp3,09 triliun pada 2024 menjadi Rp3,81 triliun pada 2025, sedangkan laba naik dari Rp830 miliar menjadi Rp1,3 triliun.

Di sisi lain, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) membukukan laba Rp1,48 triliun hingga April 2026 atau melonjak 169% dibandingkan Rp550 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan sebagian besar efisiensi berasal dari penghapusan transaksi berlapis (layering transaction) antara perusahaan induk dan anak usaha yang selama ini membebani operasional BUMN.

"Efisiensi yang paling besar sebetulnya datangnya dari layering transaction, karena umumnya anak-anak perusahaan di dalam BUMN itu mengerjakan pekerjaan dari induknya. Itu kemudian menyebabkan inefisiensi," kata Dony.

Dia memperkirakan konsolidasi tersebut mampu menghemat sekitar Rp30 triliun biaya operasional setiap tahun. Selain itu, penutupan anak usaha yang selama ini merugi berpotensi menghasilkan tambahan efisiensi sekitar Rp20 triliun per tahun.

Menurut Dony, transformasi BUMN juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Selain memperbaiki kinerja perusahaan, langkah tersebut turut mendorong peningkatan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) sekitar US$400 juta hingga US$500 juta serta menciptakan sekitar 10.000 lapangan kerja baru.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Lebanon: Perjanjian dengan Israel Tak Sahkan Pendudukan
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Pramono Bakal Godok Usulan 5 Rute Baru Transjabodetabek dari Depok
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Bus Sugeng Rahayu Terjun ke Sungai di Nganjuk, Empat Orang Penumpang Terluka
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Lahan Pertanian Berkelanjutan Dipercepat untuk Lindungi Sawah
• 18 jam laludetik.com
thumb
Rumah Pengacara di Ciracas Diduga Dilempar Bom Molotov, Polisi Selidiki
• 15 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.