Nuklir Meledak Karena Tombol Komputer Eror, 60.000 Orang Tewas

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita
Foto: Pembangkit nuklir Chernobyl, Ukraina. (YouTube/NRCgov)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kecelakaan nuklir di Chernobyl menjadi salah satu bencana teknologi paling mematikan dalam sejarah dunia. Peristiwa terjadi pada 26 April 1986 bukan hanya menyebabkan ledakan reaktor nuklir, tapi menyebarkan material radioaktif ke berbagai wilayah Eropa.

Selama bertahun-tahun, muncul berbagai narasi menyebut bencana itu dipicu oleh "tombol komputer yang error". Namun penyelidikan menunjukan penyebabnya jauh lebih kompleks, yakni gabungan antara kesalahan manusia, desain reaktor yang cacat, serta kegagalan prosedur keselamatan.

Peristiwa itu menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat besar. Sekitar 60.000 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara ratusan ribu lainnya terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka bertahun-tahun lamanya, akibat paparan radiasi.


Baca: Fakta-Fakta Proses Pemakaman Khamenei, Belajar dari Kenangan Khomeini

Sebagai informasi, fasilitas nuklir Chernobyl dibangun sebagai bagian dari ambisi Uni Soviet untuk menjadi pemilik kekuatan nuklir terbesar di dunia. Pada 1977, pemerintah setempat berhasil mengoperasikan reaktor nuklir berkapasitas 1.000 megawatt yang mampu memasok kebutuhan listrik dalam skala sangat besar untuk waktu lama.

Dari sini, Soviet terus mengembangkan nuklir. Sampai 1986, ada 4 reaktor nuklir skala besar di Chernobyl dengan kekuatan serupa. Hanya saja, ada beberapa reaktor nuklir masih dalam tahap ujicoba.

Dikutip dari The Guardian, ujicoba yang dimaksud adalah soal pendinginan tanpa henti. Reaktor nuklir harus dalam kondisi dingin, sehingga pasokan air harus tersedia 24 jam dalam 7 haru. Jika tiada, maka reaktor bisa panas dan memicu ledakan.

Dalam kasus Chernobyl, tim nuklir Soviet berupaya melakukan ujicoba aktivasi generator akan turbin terus mengeluarkan air untuk mendinginkan reaktor nuklir.

Ujicoba terjadi pada 26 April 1986. Secara teori, air akan dikeluarkan turbin untuk mendinginkan inti reaktor secara terus-menerus. Dari sini, tim akan mengetahui berapa lama daya tahan turbin untuk tetap menyala.

Baca: Ukraina Menggila Hajar "Urat Nadi" Rusia, Negara Dilanda Krisis

Sayang, saat melakukan tes, orang-orang yang terlibat tak kompeten. Malah, bersikap denial dan tak terbuka atas masukan. Ini terjadi dalam diri Deputi Kepala Teknisi Anatoly Stepanovich Dyatlov dan Kepala Teknisi Nicholai Fomin.

Mengutip Chernobyl: 01:23:40 (2014), Fomin abai dan seakan-akan menutupi bahwa tenaga pendingin cukup. Padahal jauh dari angan-angan. Fomin tahu tenaga reaktor hanya 200 megawatt, kurang dari angka minimal sebesar 700 megawatt.

Sedangkan Dyatlov ngotot tes harus diadakan hari itu juga. Pada sisi lain, di hari ujicoba, teknisi sudah angkat tangan. Mereka tak mampu melakukannya. Namun, akibat Dyatlov tetap ngotot dan memberikan ancaman mutasi, para teknisi akhirnya manut.

Di sinilah petaka dimulai. Ketika malam berganti, teknisi menyalakan generator. Turbin air pun berhasil masuk. Namun, di tengah jalan, tenaga generator menurun drastis. Tak kuat terus menerus menyala. Akibatnya, suhu inti reaktor nuklir dengan cepat meningkat. Ketika ini terjadi, teknisi bergegas menekan tombol SCRAM di komputer.

Tombol ini merupakan perintah komputer ke sistem untuk menghidupkan generator. Sayang, tombol tak berfungsi akibat tak pernah dicek. Maka, bencana pun terjadi. Reaktor nuklir langsung panas hingga 3.000 derajat Celcius. Tak lama kemudian, nuklir langsung meledak dahsyat.

Baca: Lautan Manusia Berduka di Pemakaman Khamenei, Serukan Balas Dendam

Ketika radiasi nuklir meluas, banyak warga masih tertidur lelap. Alhasil, mereka tak bisa melarikan diri dan terpaksa terpapar radiasi super tinggi. Saat itu, radiasi nuklir imbas ledakan tak bisa dideteksi alat. Alatnya tak bisa menentukan derajat radiasi saking tingginya.

Barulah ketika matahari nampak, orang-orang kaget ada debu bertebaran. Padahal itu bukan debu biasa, melainkan debu-debu nuklir. Maka, tamatlah orang-orang di sana.

BBC mencatat ada 90 ribu orang tewas akibat radiasi nuklir dalam jangka panjang. Lalu, ada 600 ribu orang yang terpapar radiasi, tetapi tidak tewas. WHO mencatat, radiasi nuklir mencapai jarak 200 ribu Km hingga Eropa. Sementara, Chernobyl sendiri tak bisa dihuni manusia sampai 20.000 tahun lamanya efek radiasi dahsyat.

 


(emy/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Cari Tempat Tidur? Cek Promo Matras di Transmart

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Membangun Talenta Global untuk Indonesia
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Kementerian Hukum Percepat Proses Kewarganegaraan bagi Pemohon Berstatus Stateless
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Prabowo Trauma Duit Rakyat Dikorup, Purbaya Sebut Anggaran MBG Bakal Dipangkas Lagi
• 19 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Aktor Hugh Grant dan istri tak lewatkan hadir di nikahan Travis Kelce
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Sejumlah petinju harus mulai dari penyisihan Asian Boxing Championship
• 11 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.